Headline.co.id, Manggarai Timur ~ Aktivitas ekonomi masyarakat di sejumlah wilayah terdampak gempa Flores mulai berangsur normal 21 hari setelah gempa mengguncang kawasan Flores, Nusa Tenggara Timur. Di Mano, Kabupaten Manggarai Timur, petani cengkeh kembali mengolah ladang dan memulai panen dengan melibatkan warga setempat. Aktivitas itu berlangsung sejak sekitar satu pekan terakhir hingga Minggu (6/9/2026), meski gempa susulan masih terjadi. Warga melanjutkan pekerjaan dengan kewaspadaan tinggi dan mengedepankan keselamatan mandiri.
Warga yang rumahnya mengalami kerusakan ringan hingga sedang juga mulai kembali beraktivitas serta menempati kediaman mereka secara bertahap. Kondisi tersebut menjadi tanda awal pemulihan kehidupan masyarakat setelah bencana.
Petani Cengkeh Kembali Mengolah Ladang
Salah satu tanda bangkitnya aktivitas warga terlihat di kawasan Mano. Para petani cengkeh mulai kembali ke kebun untuk mengolah lahan dan memetik hasil panen.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Matias Mansuradi Maju, petani cengkeh asal Lame-Mano, mengatakan dirinya telah kembali bekerja di kebun sejak satu pekan terakhir. Untuk mempercepat proses panen, ia mempekerjakan sejumlah warga lokal.
“Sejak satu minggu lalu saya mulai memetik cengkeh dengan mempekerjakan warga sekitar. Kendati demikian, aktivitas ini tetap kami laksanakan dalam tingkat kewaspadaan yang tinggi,” ujar Matias, Minggu (6/9/2026).
Kembalinya para petani ke kebun menunjukkan roda ekonomi masyarakat mulai bergerak meski situasi belum sepenuhnya terbebas dari ancaman bencana. Kegiatan perkebunan menjadi salah satu aktivitas warga yang kembali dijalankan secara bertahap.
Gempa Susulan Masih Terjadi
Berdasarkan data pemantauan hingga Minggu (6/9/2026) pukul 05.00 WIB, tercatat 12.792 kali gempa bumi susulan setelah gempa Flores. Gempa susulan tersebut memiliki kisaran magnitudo terbesar M6,2 dan terkecil M0,9.
Dari jumlah itu, sebanyak 36 gempa susulan memiliki magnitudo di atas 5,0. Sebanyak 177 gempa susulan lainnya dilaporkan getarannya dirasakan oleh masyarakat.
Situasi tersebut membuat warga tetap berhati-hati dalam menjalankan kegiatan sehari-hari, termasuk saat bekerja di kawasan perkebunan. Aktivitas ekonomi dilakukan dengan memperhatikan kondisi sekitar dan mengutamakan prosedur keselamatan mandiri.
Warga Waspadai Gunung Api Anak Ranaka
Selain gempa susulan, masyarakat di sekitar Mano juga mencemaskan potensi peningkatan aktivitas Gunung Api Anak Ranaka. Kekhawatiran itu muncul karena lokasi gunung api tersebut berdekatan dengan wilayah Mano.
Matias mengatakan, warga tidak mengabaikan ancaman yang masih ada. Namun, masyarakat memilih tetap melanjutkan aktivitas perkebunan dan tidak larut dalam kekhawatiran.
Geliat sektor perkebunan di Mano menjadi sinyal positif bagi pemulihan masyarakat Flores pascabencana. Di tengah ancaman guncangan susulan dan kewaspadaan terhadap Gunung Api Anak Ranaka, warga mulai berupaya memulihkan aktivitas ekonomi melalui pekerjaan di kebun.



















