Headline.co.id, Banyuwangi ~
Banyuwangi, – Produksi jagung Banyuwangi mencapai 250.596 ton pada 2025 atau meningkat sekitar 19 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Capaian tersebut jauh melampaui kebutuhan jagung daerah yang berada di kisaran 69.842 ton. Penguatan surplus pangan itu kembali ditandai dengan panen raya jagung kuartal III di lahan seluas 20 hektare kawasan Green Farm, Pusat Pelatihan Pertanian Terpadu, Desa Karangsari, Kecamatan Sempu, Banyuwangi, Jumat (11/9/2026). Panen dilakukan Kapolda Jawa Timur Irjen Pol Nanang Avianto bersama Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani dan Ketua DPD Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Jawa Timur Arum Sabil.
Panen raya tersebut tidak hanya menjadi momentum untuk menjaga produksi jagung Banyuwangi, tetapi juga memperkuat pengembangan pertanian berbasis riset dan inovasi varietas tanaman. Kawasan Green Farm dimanfaatkan sebagai lokasi pengembangan pertanian presisi serta benih jagung baru.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Produksi Jagung Banyuwangi Lampaui Kebutuhan Daerah
Nanang mengapresiasi konsistensi Banyuwangi dalam mempertahankan surplus pangan. Ia juga menilai dukungan pemerintah daerah menjadi salah satu bagian penting dalam pengembangan sektor pertanian di wilayah tersebut.
Menurut Nanang, potensi pertanian Banyuwangi tidak hanya dilihat dari besarnya produksi. Pengembangan riset dan varietas tanaman unggulan dinilai dapat memperkuat produktivitas sekaligus membuka peluang pengelolaan pertanian yang disesuaikan dengan karakter wilayah.
“Ini kali kedua saya panen jagung di Banyuwangi. Alhamdulillah Bupati Banyuwangi sangat support sekali,” ujar Nanang.
Ia menyebut Green Farm berpeluang menjadi salah satu pusat pengembangan pertanian berbasis riset. Kondisi geografis Banyuwangi yang memiliki kawasan pesisir, lembah, dan pegunungan dinilai mendukung pengembangan berbagai jenis tanaman unggulan.
“Dimulai dari sini, kita bisa tahu Banyuwangi ini punya tempat yang spesifik. Punya pesisir, punya lembah, punya gunung untuk jenis-jenis tanaman unggulan,” tuturnya.
Nanang berharap hasil riset dan pengelolaan pertanian secara presisi di Green Farm dapat dikembangkan lebih luas dan diterapkan di daerah lain. Ia menilai inovasi diperlukan untuk meningkatkan produktivitas serta menjawab kebutuhan pangan nasional.
Panen Jagung Kuartal III di Green Farm
Panen raya jagung kuartal III berlangsung di lahan seluas 20 hektare. Jagung yang dipanen merupakan varietas hibrida yang ditanam sejak Mei 2026, menurut Arum Sabil.
Selain menjadi lokasi panen, kawasan Green Farm dikembangkan untuk menghasilkan inovasi benih jagung baru bernama Kolaborasi Inovasi Polri atau KIP. Pengembangan inovasi tersebut melibatkan Polda Jawa Timur, Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Kwarda Pramuka Jawa Timur, HKTI Jawa Timur, dan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi.
Arum mengatakan pengembangan varietas baru tersebut diharapkan dapat mendukung peningkatan produktivitas petani. Inovasi itu juga diarahkan untuk memperkuat ketersediaan pangan di Jawa Timur serta mendukung ketahanan pangan nasional.
Penguatan pertanian di Banyuwangi sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto untuk memperkuat ketahanan pangan nasional. Karena itu, hasil riset dan inovasi di Green Farm diharapkan tidak berhenti pada satu kawasan, tetapi dapat dikembangkan lebih luas.
Produksi Jagung Banyuwangi Terus Didorong
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengatakan pemerintah daerah terus mendorong peningkatan produktivitas pertanian. Upaya tersebut dilakukan sekaligus untuk menjaga ketersediaan pangan bagi masyarakat.
Data yang disampaikan Ipuk menunjukkan surplus produksi jagung Banyuwangi pada 2024 tercatat 180.754 ton. Sementara itu, sepanjang Januari hingga September 2026, produksi jagung mencapai 99.140 ton dari luas panen 14.742 hektare.
“Alhamdulillah Banyuwangi selalu surplus. Terima kasih Bapak Kapolda, kepolisian, petani, dan seluruh pemangku kepentingan. Semoga ikhtiar bersama ini membawa berkah untuk kita semua,” kata Ipuk.
Capaian produksi tersebut menjadi dasar bagi Banyuwangi untuk terus memperkuat sektor pertanian melalui peningkatan produktivitas, pengembangan varietas, dan kolaborasi antarpemangku kepentingan. Pemerintah daerah, kepolisian, HKTI, serta pihak terkait lainnya terlibat dalam pengembangan pertanian di kawasan Green Farm.
Melalui pengembangan varietas hibrida dan benih KIP, kawasan tersebut diarahkan untuk mendukung kebutuhan pangan tidak hanya di Banyuwangi, tetapi juga di Jawa Timur. Pengelolaan berbasis riset diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan secara berkelanjutan.

















