Headline.co.id, Jakarta ~ Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana mengajak Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia memperkuat realisasi investasi pariwisata di luar Jakarta dan Bali. Ajakan itu disampaikan dalam forum Monthly Economic Diplomatic Breakfast di Gedung Sapta Pesona, Kementerian Pariwisata, Jakarta, Jumat (10/9/2026). Pemerintah mendorong diversifikasi investasi ke destinasi prioritas dan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) pariwisata untuk memperluas lapangan kerja, pengembangan usaha, serta manfaat ekonomi bagi masyarakat daerah.
Investasi pariwisata Indonesia mencapai rekor Rp73,56 triliun pada 2025. Namun, sekitar 76,5 persen investasi tersebut masih terkonsentrasi di Jakarta dan Bali, dengan 75 persen di antaranya berupa pembangunan hotel dan restoran.
Pemerintah Dorong Diversifikasi Investasi Pariwisata
Widiyanti mengatakan kondisi tersebut menunjukkan masih luasnya peluang investasi pariwisata, baik dari sisi wilayah maupun jenis usaha. Karena itu, pemerintah mengundang investor asing dan mitra internasional, termasuk melalui dukungan KADIN Indonesia, untuk mengarahkan investasi ke 13 Destinasi Prioritas dan 10 KEK Pariwisata.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
“Saat ini sekitar 76,5 persen investasi pariwisata berada di Jakarta dan Bali, dengan 75 persen di antaranya berupa pembangunan hotel dan restoran. Karenanya kami saat ini melakukan diversifikasi investasi di destinasi prioritas lainnya di luar Bali dan Jakarta,” kata Widiyanti.
Menurut dia, investasi juga perlu diarahkan pada sektor di luar hotel dan restoran. Infrastruktur pendukung aksesibilitas, seperti marina kapal pesiar, serta pengembangan daya tarik wisata baru menjadi bagian dari peluang yang didorong pemerintah.
Diversifikasi tersebut diharapkan dapat memperkuat ekosistem pariwisata sekaligus membuka lebih banyak peluang ekonomi di daerah. Pemerintah juga menyediakan sejumlah fasilitas kemudahan bagi investor.
“Pemerintah menyediakan berbagai fasilitas kemudahan, mulai dari pengurangan pajak penghasilan (tax allowance), insentif bagi industri padat karya, hingga pembebasan bea masuk untuk peralatan wisata dan yacht,” ujar Widiyanti.
Kunjungan Wisatawan di Luar Jawa dan Bali Tumbuh
Peluang pemerataan investasi pariwisata semakin terbuka seiring perubahan pola perjalanan wisatawan yang tidak lagi hanya berpusat di Jawa dan Bali. Sejumlah destinasi di luar kawasan tersebut mencatat pertumbuhan kunjungan pada awal 2026.
Kunjungan wisatawan ke Danau Toba tumbuh lebih dari 106 persen. Sementara itu, kunjungan ke Lombok–Gili Tramena meningkat 72,1 persen. Labuan Bajo juga terus mencatat pertumbuhan kunjungan dan dinilai memiliki prospek untuk pengembangan investasi pariwisata.
“Pemerintah memastikan kawasan wisata utama tersebut dalam kondisi aman dan siap menyambut pengunjung di tengah upaya pemulihan pascadampak bencana di wilayah Flores,” kata Widiyanti.
Kinerja tersebut sejalan dengan pertumbuhan ekonomi pariwisata nasional. Kontribusi produk domestik bruto (PDB) pariwisata meningkat dari Rp729,1 triliun pada 2022 menjadi Rp1,14 kuadriliun pada 2025. Angka itu ditargetkan mencapai Rp1,19 kuadriliun pada akhir 2026.
“Pertumbuhan positif ini menjadi modal besar bagi Kementerian Pariwisata bersama mitra strategis, termasuk KADIN Indonesia dan mitra internasional, untuk terus bersinergi memperkuat pariwisata sebagai salah satu kekuatan yang menopang pertumbuhan ekonomi nasional, membuka peluang investasi, serta menggerakkan usaha dan lapangan kerja di berbagai daerah,” ujar Widiyanti.
Sumatra Barat Tawarkan Tiga Klaster Investasi
Gubernur Sumatra Barat Mahyeldi turut memaparkan peluang investasi pariwisata di wilayahnya. Sepanjang Januari hingga Juli 2026, kunjungan wisatawan nusantara ke Sumatra Barat mencapai 14,9 juta. Pada periode yang sama, sektor akomodasi, makanan, dan minuman tumbuh 17,57 persen.
Sumatra Barat mengelompokkan peluang investasi pariwisata ke dalam tiga klaster. Mentawai ditawarkan melalui daya tarik wisata surfing kelas dunia. Padang dan Mandeh diarahkan untuk wisata bahari dan MICE, sedangkan Sawahlunto dikembangkan melalui wisata berbasis sejarah dan budaya.
“Kami mengajak para investor dan industri untuk datang dan melihat langsung potensi pengembangan pariwisata di Sumatra Barat termasuk hadir pada Indian Ocean High-Level Forum pada tahun depan sebagai bagian dari jejaring strategis kerja sama kawasan Samudra Hindia,” ujar Mahyeldi.
Diplomat Soroti Konektivitas dan Infrastruktur Layanan
Duta Besar Singapura untuk Indonesia Kwok Fook Seng menilai forum tersebut dapat mendorong kerja sama pemerintah dan sektor swasta. Ia menyebut Indonesia dan Singapura memiliki rekam jejak kerja sama yang panjang di bidang pariwisata.
Kwok mencontohkan Singapore Airlines yang telah menghubungkan 18 titik di Indonesia dari Singapura. Menurut dia, peningkatan konektivitas berkontribusi terhadap lalu lintas wisatawan.
“Peningkatan konektivitas ini telah mendatangkan lalu lintas wisatawan. Semuanya dimulai dari skala kecil, sebelum akhirnya berkembang,” kata Kwok.
Ia juga menilai pemerintah perlu membangun ekosistem agar sektor swasta dapat berkembang. “Saya rasa peran pemerintah yang sebenarnya adalah bagaimana kita membangun ekosistem agar sektor swasta dapat berhasil,” ujarnya.
Duta Besar Italia untuk Indonesia Roberto Colaminè menyoroti kebutuhan terhadap infrastruktur nonfisik, termasuk layanan yang mendukung kenyamanan dan keselamatan wisatawan. Untuk wisata bahari, ia menilai pos kesehatan di sekitar pantai dan hyperbaric chamber atau ruang hiperbarik penting dikembangkan, terutama untuk mendukung lokasi-lokasi selam.
Roberto juga mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan pelestarian situs, lingkungan, dan kenyamanan wisatawan dalam pengelolaan pariwisata berbasis budaya seperti Candi Borobudur.
Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Luar Negeri KADIN Indonesia James Riady mengatakan, tantangan pariwisata Indonesia bukan lagi sekadar potensi, melainkan mengubah potensi tersebut menjadi kedatangan wisatawan, lama tinggal, pengeluaran, investasi, lapangan kerja, dan kunjungan berulang.
“Bukan lagi soal potensi, melainkan konversi,” ujar James.
Menurut James, setiap investasi pariwisata dapat menciptakan lapangan kerja dan menyentuh masyarakat dengan cepat. Karena itu, ia berharap forum tersebut menjadi ruang strategis bagi pemerintah, KADIN, dan mitra negara sahabat untuk memperluas manfaat ekonomi pariwisata.
Monthly Economic Diplomatic Breakfast merupakan forum rutin bulanan KADIN Indonesia bersama duta besar dan perwakilan negara sahabat. Forum ini menjadi ruang diplomasi ekonomi untuk memperkuat kerja sama perdagangan dan investasi, sekaligus menjembatani komunikasi pemerintah, dunia usaha, dan korps diplomatik.




















