Headline.co.id, Sumenep ~
Sebanyak 12 siswa SD/MI terpilih sebagai finalis Lomba Bertutur tingkat Kabupaten Sumenep setelah menyisihkan 65 peserta. Babak final lomba tersebut digelar Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kabupaten Sumenep di halaman Kantor Dispusip, Rabu (9/9/2026). Kegiatan ini menjadi sarana untuk memperkuat literasi sekaligus mengenalkan budaya lokal kepada anak sejak usia sekolah melalui penyampaian cerita daerah secara ekspresif.
Para peserta Lomba Bertutur Sumenep tidak hanya dinilai dari kemampuan berbicara di depan publik. Mereka juga ditantang menghidupkan kembali nilai budaya lokal, menyampaikan cerita secara runtut, serta menonjolkan ekspresi, keberanian, dan pesan moral yang terkandung dalam cerita.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
12 Finalis Lomba Bertutur Sumenep Lalui Tahap Penyisihan
Sebelum mengikuti babak final, para peserta menjalani tahap penyisihan yang berlangsung pada 31 Agustus hingga 2 September 2026. Dari proses tersebut, Dispusip Kabupaten Sumenep menyaring 65 peserta menjadi 12 finalis.
Babak final mengusung tema “Menuturkan Cerita, Merawat Budaya”. Tema itu tercermin dari materi yang dibawakan peserta, yakni beragam cerita daerah yang disampaikan dengan penekanan pada kemampuan bertutur dan pemaknaan terhadap nilai-nilai budaya.
Penyelenggaraan lomba tersebut memberikan ruang bagi siswa untuk mengembangkan keterampilan komunikasi dan kepercayaan diri. Selain itu, kegiatan ini mendorong peserta untuk mengenal serta mengapresiasi cerita yang tumbuh dari lingkungan dan budaya setempat.
Dispusip Sumenep Hubungkan Literasi dan Budaya Lokal
Kepala Dispusip Kabupaten Sumenep Rudi Yuyianto mengatakan, Lomba Bertutur dirancang untuk mempertemukan kegiatan literasi dengan pengenalan budaya lokal sejak usia sekolah.
“Lomba bertutur menjadi ruang bagi anak untuk mengenal budaya sekaligus melatih keberanian tampil dan menyampaikan cerita di depan masyarakat,” ujar Rudi.
Menurut Rudi, kemampuan bertutur dapat membuat aktivitas literasi lebih dekat dengan kehidupan anak. Cerita yang bersumber dari lingkungan dan budaya setempat dinilai memberikan konteks yang lebih mudah dipahami oleh siswa.
Selain menjadi sarana pengenalan budaya, cerita daerah juga memuat nilai-nilai yang diwariskan antargenerasi. Dengan menyampaikan kembali cerita tersebut, siswa tidak hanya berlatih berbicara, tetapi juga belajar memahami pesan dan pengetahuan yang terkandung di dalamnya.
Lomba Diharapkan Dorong Minat Baca Anak
Rudi berharap Lomba Bertutur Sumenep tidak berhenti sebagai ajang untuk mencari pemenang. Semangat membaca dan bertutur diharapkan terus dibawa siswa ke lingkungan sekolah maupun keluarga.
“Kami ingin lomba ini menjadi stimulan agar minat baca dan budaya literasi anak semakin tumbuh melalui cerita yang dekat dengan nilai budaya Kabupaten Sumenep,” katanya.
Menurut keterangan dalam kegiatan tersebut, literasi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan membaca. Siswa juga perlu memiliki kemampuan memahami, mengolah, serta menyampaikan kembali pengetahuan secara kreatif.
Melalui penyaringan 65 peserta menjadi 12 finalis, lomba ini sekaligus menunjukkan upaya memberikan ruang bagi anak untuk mengasah kemampuan komunikasi, kepercayaan diri, dan apresiasi terhadap budaya daerah. Cerita yang disampaikan secara ekspresif diharapkan membuat kegiatan literasi lebih dekat dengan pengalaman dan kehidupan siswa.




















