Headline.co.id, Jakarta ~ Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama Pemerintah Provinsi Banten dan daerah kabupaten/kota memperkuat kesiapsiagaan menghadapi aktivitas Gunung Anak Krakatau (GAK). Langkah tanggap darurat ini termasuk koordinasi dan assessment di kawasan pesisir Banten sejak 6 September 2026, untuk menghadapi potensi bahaya sekunder berupa tsunami. Pendampingan dilakukan melalui pengamatan kondisi dan penilaian kesiapsiagaan di wilayah terdampak guna memastikan kesiapan menghadapi potensi dampak aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Gunung Anak Krakatau baru-baru ini menghasilkan sebaran abu vulkanik di Banten, meningkatkan kekhawatiran terutama di kawasan yang pernah terdampak tsunami Selat Sunda 2018. “Pada awal penugasan, tim BNPB berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk memahami kondisi terkini serta langkah penanganan yang telah diambil,” jelas Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan.
Sejalan dengan laporan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), status Gunung Anak Krakatau masih pada Level III (Siaga) dengan aktivitas kegempaan yang dinamis. Masyarakat diingatkan untuk mematuhi rekomendasi keselamatan, termasuk tidak mendekati radius 3 kilometer dari kawah.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Kesiapan Wilayah Pesisir
BNPB menjalankan assessment di Kabupaten Pandeglang, Serang, dan Kota Cilegon dengan fokus menggunakan indikator Tsunami Ready, disesuaikan dengan risiko dan kesiapsiagaan daerah. Di Kabupaten Pandeglang, peningkatan kesiapsiagaan terlihat di Tanjung Lesung, Desa Sumberjaya, dan Desa Panimbangjaya, dengan fasilitas evakuasi dan peringatan dini yang terus diperiksa dan diupayakan.
Di Kabupaten Serang, beberapa desa menunjukkan kesiapan baik dengan peta bahaya dan rambu evakuasi menuju titik aman yang lengkap. Relawan dan Forum Pengurangan Risiko Bencana secara aktif mendukung kesiapan masyarakat. Di Kota Cilegon, Kelurahan Kubangsari menunjukkan kesiapsiagaan yang optimal dengan penggunaan media komunikasi modern.
Perangkat Peringatan Dini dan Pemeliharaan
BNPB memastikan bahwa infrastruktur peringatan dini seperti tower sirene dan jalur evakuasi berada dalam kondisi baik. Perbaikan dan pemeliharaan perangkat seperti Warning Receiver System (WRS) Gen masih berlangsung, memastikan bahwa dengan peningkatan kapasitas masyarakat, kesiapan tanggap cepat dalam situasi darurat dapat direalisasikan.
Koordinasi Berkelanjutan
BNPB terus berkoordinasi dengan BPBD dan pemangku kepentingan terkait untuk memantau aktivitas Gunung Anak Krakatau dan dampaknya. Penguatan informasi resmi kepada masyarakat dijaga untuk mencegah kepanikan dan mencegah penyebaran informasi yang kurang tepat. Seluruh pemangku kepentingan dipastikan tetap bersinegi untuk mengantisipasi dampak lebih luas.
Aktivitas masyarakat di Banten mulai kembali normal, meskipun kewaspadaan tetap dijaga mengingat status siaga Gunung Anak Krakatau. BNPB memastikan kesiapan logistik termasuk masker tetap ada sebagai langkah antisipasi, memastikan pelayanan publik dan kehidupan masyarakat terus berjalan normal. Masyarakat diimbau tetap tenang dan mematuhi informasi resmi untuk menjaga keamanan bersama.




















