Headline.co.id, Merauke ~ Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Universitas Musamus (Unmus) bekerja sama untuk meningkatkan produktivitas kopi di Kawasan Transmigrasi Muting, Merauke, Papua Selatan. Produktivitas kopi di daerah ini saat ini hanya mencapai 560 gram green beans per pohon per tahun, jauh di bawah target 1,5 kg per pohon per tahun. Untuk mengatasi masalah ini, kedua universitas mengadakan pelatihan pengendalian hama bagi petani setempat.
Ketua Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 1 UGM, Chandra Setyawan, S.T.P., M.Eng., Ph.D., menyatakan bahwa kopi Muting memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai komoditas ekonomi. Namun, serangan hama seperti Penggerek Buah Kopi (PBKo) menjadi tantangan utama. Hama ini dapat menurunkan kuantitas dan kualitas biji kopi. “Serangan hama tersebut tidak hanya berpotensi menurunkan kuantitas hasil, tetapi juga dapat memengaruhi mutu biji kopi,” ujar Chandra.
Pelatihan yang diadakan melibatkan sekitar 80 peserta dari empat kelompok tani di Kampung Seed Agung. Dr. Jefri Sembiring dari Unmus memberikan materi tentang pengelolaan tanaman dan pengendalian hama. Ia menekankan pentingnya pengendalian hama sejak dini dan penerapan Pengendalian Hama Terpadu (PHT). “Pendekatan PHT menjadi salah satu prinsip penting yang dapat diterapkan,” jelas Jefri.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Selain pelatihan, UGM juga memperkenalkan pupuk cair organik FAPET POC sebagai alternatif input pertanian. Moh. Wahyudin, S.T.P., M.Sc., Ph.D., dari UGM menekankan pentingnya meningkatkan kualitas dan produktivitas kopi untuk meningkatkan nilai ekonomi. “Sinergi UGM dan Unmus diharapkan tidak berhenti pada kegiatan pelatihan, tetapi dapat berkembang menjadi pendampingan dan penerapan inovasi,” tambah Wahyudin. Dengan upaya ini, diharapkan kopi Muting dapat memberikan kontribusi lebih besar terhadap perekonomian masyarakat setempat.



















