Highlight Berita:
Headline.co.id, Jakarta ~ Cuaca hari ini di awal September 2026 menunjukkan dua kondisi yang berjalan bersamaan: panas dan kering masih mendominasi sebagian besar Indonesia, tetapi hujan lokal tetap dapat terjadi di beberapa daerah. BMKG mencatat suhu tinggi, Hari Tanpa Hujan yang panjang, serta ratusan titik panas di Kalimantan dan Sumatera sebagai tanda kuatnya kondisi kemarau. Di sisi lain, dinamika atmosfer masih mendukung hujan sedang hingga lebat secara lokal, termasuk pada Sabtu 5 September 2026. Masyarakat karena itu perlu mengantisipasi bukan hanya cuaca panas dan kekeringan, tetapi juga perubahan cuaca yang dapat berlangsung dalam waktu relatif singkat.
Kondisi kontras tersebut menjadi gambaran prakiraan cuaca hari ini. Langit yang relatif minim awan pada pagi hingga siang memungkinkan permukaan bumi menerima pemanasan lebih optimal, sementara pada wilayah tertentu pembentukan awan hujan tetap dapat berkembang karena dukungan gelombang atmosfer, pertemuan angin, suhu muka laut, topografi, dan faktor lokal.
Panas Terik Masih Terasa di Awal September
BMKG mencatat suhu udara maksimum tertinggi pada Dasarian III Agustus 2026 mencapai 37,9 derajat Celsius di Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat. Pada periode 31 Agustus hingga 2 September 2026, suhu di atas 37,0 derajat Celsius juga teramati di Aceh, Lampung, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Timur.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Tingginya suhu tersebut berkaitan dengan kondisi musim kemarau ketika tutupan awan pada pagi hingga siang hari relatif sedikit. Keadaan ini membuat pemanasan permukaan dapat berlangsung lebih optimal sehingga suhu udara meningkat.
BMKG mengimbau warga, khususnya mereka yang beraktivitas di luar ruangan pada siang hari, menggunakan pelindung atau tabir surya untuk mengurangi paparan langsung sinar matahari. Kecukupan cairan tubuh juga perlu dijaga untuk mengurangi risiko dehidrasi dan kelelahan.
Bantul Catat Hari Tanpa Hujan hingga 121 Hari
Selain suhu tinggi, sebagian wilayah Indonesia bagian selatan masih mengalami Hari Tanpa Hujan atau HTH dengan kategori panjang hingga ekstrem panjang. Durasi terpanjang mencapai 121 hari yang tercatat di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Kondisi kering tersebut diprakirakan masih berlanjut dalam periode Dasarian I hingga III September 2026. Sebagian besar wilayah Indonesia diprakirakan memperoleh curah hujan kategori rendah hingga menengah, yakni sekitar 0-150 mm per dasarian.
Wilayah dengan curah hujan kurang dari 50 mm per dasarian diprakirakan mendominasi Sumatera bagian selatan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sebagian besar Kalimantan dan Sulawesi, Maluku, serta sebagian Papua.
Ratusan Titik Panas Terdeteksi di Kalimantan dan Sumatera
Kondisi kering juga meningkatkan perhatian terhadap ancaman kebakaran hutan dan lahan. Berdasarkan pemantauan citra satelit polar pada 2 September 2026, Kalimantan menjadi wilayah dengan jumlah titik panas berkepercayaan tinggi terbanyak, yakni 463 titik. Sumatera berada di posisi berikutnya dengan 264 titik.
Asap dari kejadian kebakaran juga masih terpantau di beberapa wilayah dan dapat menyebar ke kawasan di sekitarnya mengikuti arah angin. Dalam prakiraan cuaca kota besar pada Sabtu, udara kabur diperkirakan terjadi di Pekanbaru, Bengkulu, Palembang, Yogyakarta, Pontianak, Palangkaraya, Samarinda, Manokwari, dan Nabire. Potensi asap atau kabut diprakirakan terjadi di Bandar Lampung dan Jayawijaya.
Mengapa Hujan Masih Turun Saat Musim Kemarau?
Musim kemarau tidak berarti seluruh wilayah Indonesia bebas hujan. BMKG menyatakan, ‘Kondisi musim kemarau yang masih berlangsung di sebagian besar wilayah Indonesia tidak sepenuhnya menghambat terjadinya hujan dengan intensitas tinggi di beberapa daerah.’
Buktinya, pada 31 Agustus hingga 2 September 2026, hujan lebat hingga sangat lebat masih tercatat di Sumatera bagian utara dan tengah. Curah hujan tertinggi terjadi di Sumatera Utara sebesar 111,6 mm per hari, disusul Sumatera Barat 101,8 mm per hari, dan Aceh 82,5 mm per hari.
Kondisi tersebut dipengaruhi aktivitas spasial Madden-Julian Oscillation dan Gelombang Rossby Ekuatorial di Aceh. Gelombang Kelvin juga terpantau aktif di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, sedangkan Gelombang Mixed-Rossby-Gravity aktif di Aceh dan Sumatera Utara.
Suhu muka laut yang relatif hangat di perairan barat dan utara Sumatera turut menyediakan uap air untuk pembentukan awan hujan. Faktor lokal berupa pemanasan permukaan, topografi, dan interaksi angin darat-laut juga membantu proses pengangkatan massa udara.
Wilayah yang Perlu Waspada Hujan dan Angin Kencang
Untuk cuaca hari ini, 5 September 2026, hujan sedang hingga lebat berpotensi terjadi di Sumatera Utara, Kalimantan Utara, Sulawesi Selatan, dan Papua Barat Daya. Sementara angin kencang berpotensi terjadi di Banten, Bengkulu, Jawa Barat, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Lampung, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, dan Sumatera Barat.
Prakirawan BMKG Henokhvita juga menyampaikan adanya peluang hujan ringan di beberapa kota. ‘Sementara itu, hujan ringan berpotensi terjadi di Medan, Padang, dan Tanjung Selor,’ kata Henokhvita. Di wilayah timur, hujan ringan berpotensi terjadi di Palu, Mamuju, dan Sorong.
Langkah Antisipasi Saat Panas dan Cuaca Buruk
BMKG mengimbau masyarakat dan pemerintah daerah menghemat penggunaan air serta meningkatkan kewaspadaan terhadap kekeringan dan kebakaran hutan maupun lahan. Masyarakat diminta tidak membakar sampah atau membuka lahan sembarangan, khususnya pada kawasan yang mudah terbakar seperti gambut, semak belukar, dan hutan.
Pada saat hujan lokal dan angin kencang terjadi, masyarakat perlu mewaspadai pohon atau dahan tumbang, baliho roboh, genangan, serta sambaran petir. Warga juga diminta tidak berteduh di bawah pohon, papan reklame, atau bangunan rapuh saat cuaca buruk.
Karena kondisi atmosfer dapat berubah dari satu wilayah ke wilayah lain, masyarakat disarankan terus memperbarui prediksi cuaca dan peringatan dini resmi BMKG sebelum beraktivitas.
















