Highlight Berita:
Headline.co.id, Dunia ~ Fenomena El Nino yang sangat kuat diprediksi terus berlangsung hingga Februari 2027, setelah Organisasi Meteorologi Dunia atau WMO pada 3 September 2026 menyampaikan peluang keberlangsungannya hampir mencapai 100 persen. El Nino yang aktif sejak Juni 2026 itu disebut telah mencapai tingkat intensitas tertinggi dalam empat dekade terakhir dan diperkirakan menguat hingga puncaknya menjelang akhir 2026. Kondisi tersebut meningkatkan risiko perubahan pola hujan, gelombang panas, kekeringan, dan banjir di berbagai wilayah dunia, meski dampaknya tidak akan seragam pada setiap negara.
Kepala WMO Celeste Saulo mengatakan, ‘Ada kemungkinan hampir 100 persen El Nino akan bertahan hingga Februari 2027,’ seraya menjelaskan bahwa kekuatannya dapat melampaui catatan sebelumnya selama pemantauan empat dekade terakhir. WMO menilai situasi ini perlu dihadapi dengan kesiapsiagaan yang lebih kuat karena dampaknya dapat menyentuh masyarakat, kegiatan ekonomi, produksi pangan, pengelolaan air, hingga rantai pasokan global.
WMO Sebut Peluang El Nino Bertahan Hampir 100 Persen
Prakiraan terbaru WMO menunjukkan El Nino telah terbentuk sepenuhnya dan berpotensi terus menguat dalam beberapa bulan mendatang. Fenomena ini dipicu oleh suhu laut yang sangat hangat di wilayah Pasifik tropis, khususnya Pasifik khatulistiwa bagian tengah dan timur yang menjadi kawasan utama pemantauan El Nino. WMO memperkirakan pengaruh iklimnya akan tetap terasa setelah puncak intensitas pada akhir 2026 dan berlanjut hingga 2027.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Saulo menegaskan bahwa peningkatan kekuatan El Nino harus diikuti persiapan yang sepadan. ‘El Nino ini memerlukan persiapan dan respons yang luar biasa,’ ujarnya. Dalam keterangan lain yang terdapat dalam bahan, Saulo juga menyebut kekeringan dan banjir telah menimbulkan gangguan serta kerusakan di sejumlah wilayah dan dampaknya berpotensi meningkat ketika El Nino semakin menguat.
WMO bekerja bersama layanan meteorologi dan hidrologi nasional untuk memperkuat kesiapsiagaan dan sistem peringatan dini. Fokus antisipasi terutama dibutuhkan pada sektor yang sensitif terhadap iklim, termasuk produksi pertanian dan pengelolaan sumber daya air.
Suhu Pasifik Naik hingga 2,6 Derajat Celsius di Atas Normal
Penguatan El Nino terlihat dari kenaikan suhu permukaan laut di wilayah Pasifik khatulistiwa bagian tengah dan timur. Indeks Nino 3.4, yang digunakan untuk memantau anomali suhu permukaan laut di kawasan tersebut, mencatat rata-rata 1,5 derajat Celsius di atas normal pada Mei hingga Juli 2026 dan mencapai sekitar 2 derajat Celsius di atas normal pada Juli.
Nilai mingguan kemudian meningkat lagi antara akhir Juli dan pertengahan Agustus, berada pada kisaran sekitar 2,2 hingga 2,6 derajat Celsius di atas rata-rata. Dalam bahan juga disebutkan bahwa suhu di bawah permukaan laut pada sejumlah area Pasifik mengalami kenaikan lebih dari 8 derajat Celsius, menunjukkan besarnya panas yang tersimpan di sistem laut.
NOAA memperkirakan peluang lebih dari 90 persen bahwa El Nino akan mencapai intensitas sangat kuat selama musim gugur dan musim dingin 2026-2027 di belahan bumi utara. Peristiwa tersebut dinilai dapat melampaui sebagian besar kejadian El Nino sejak 1950 dari sisi kekuatannya.
Dampak El Nino Berbeda di Setiap Wilayah
Meski sangat kuat, WMO mengingatkan bahwa intensitas El Nino tidak secara otomatis menentukan seberapa parah banjir, kekeringan, atau gelombang panas yang terjadi di suatu wilayah. Dampaknya bergantung pada lokasi, musim, serta interaksi dengan faktor iklim lain. Pola curah hujan dan suhu daratan pada September hingga November 2026 diperkirakan menunjukkan pengaruh kuat El Nino, tetapi bentuk dampaknya dapat berbeda antara satu kawasan dan kawasan lain.
WMO menyebut fase positif Dipol Samudra Hindia juga diperkirakan terbentuk, sementara wilayah khatulistiwa Samudra Atlantik diprediksi tetap hangat secara umum. Kombinasi kondisi tersebut dapat memperkuat, melemahkan, atau mengubah pola dampak El Nino yang biasanya muncul.
Wilfran Moufouma-Okia, Kepala Prediksi Iklim WMO, juga menekankan bahwa kepastian El Nino aktif hingga Februari 2027 bukan berarti bencana tertentu pasti terjadi di wilayah tertentu. Pesan ini penting untuk membedakan antara prakiraan fenomena iklim berskala besar dan prakiraan dampak lokal yang memerlukan pemantauan lebih rinci.
Kesiapsiagaan Didorong Menjelang Puncak Akhir 2026
El Nino merupakan bagian dari El Nino-Southern Oscillation, pola iklim alami yang terjadi setiap dua hingga tujuh tahun. WMO menegaskan El Nino tidak disebabkan oleh perubahan iklim. Namun, dalam bahan disebutkan bahwa pemanasan global dapat memperparah dampak suhu ekstrem dan cuaca ekstrem yang terjadi bersamaan dengan El Nino.
Sekretaris Jenderal PBB António Guterres mengatakan, ‘Fenomena El Nino semakin besar di hadapan mata kita. Planet memasuki wilayah yang belum pernah dipetakan dan suhu terus meningkat.’ Pernyataan itu menyoroti risiko bertambahnya tekanan terhadap masyarakat dan sektor ekonomi ketika El Nino yang kuat berlangsung di tengah kondisi dunia yang lebih hangat.
WMO karena itu menempatkan kesiapsiagaan, peringatan dini, pengelolaan air, serta perlindungan sektor pertanian sebagai bagian penting dari respons menghadapi El Nino. Dengan prakiraan puncak pada akhir 2026 dan peluang bertahan hingga Februari 2027 yang sangat tinggi, pemantauan berkala tetap diperlukan untuk melihat perubahan intensitas serta dampaknya di masing-masing wilayah.




















