Headline.co.id, Bandung ~ (Kemenag) — Wakil Menteri Agama Republik Indonesia, Romo Syafi’i, menekankan pentingnya peran Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) dalam menjawab tantangan masyarakat melalui kemajuan sains dan teknologi. Dalam kuliah umum bertajuk “Peran Fakultas Sains dan Teknologi PTKIN dalam Membangun Peradaban Berbasis Sains dan Nilai Keislaman” di UIN Sunan Gunung Djati Bandung, ia mengajak mahasiswa untuk tidak hanya menguasai ilmu, tetapi juga menciptakan solusi yang bermanfaat dengan menjunjung tinggi integritas.
Romo Syafi’i menyoroti peran strategis FST PTKIN dalam menyiapkan ilmuwan dan profesional yang mampu merespons berbagai persoalan, seperti energi, pangan, lingkungan, kesehatan, pendidikan, dan kemiskinan. “Fakultas Sains dan Teknologi memiliki tanggung jawab untuk melahirkan ilmuwan dan profesional di bidang sains dan teknologi, sekaligus memiliki integritas, moral, dan kesadaran untuk kemaslahatan manusia,” ujarnya pada Kamis (3/9/2026).
Ia menegaskan bahwa pengembangan sains dan teknologi harus tetap terintegrasi dengan nilai-nilai keislaman. Dalam konteks pendidikan Islam, integrasi ini tidak berarti setiap ilmu harus dikaitkan langsung dengan ayat Al-Qur’an, tetapi nilai keislaman menjadi arah dan batas dalam pengembangan serta pemanfaatan ilmu. “Integrasi keilmuan adalah bagaimana wahyu memberikan arah, nilai memberikan batas, ilmu memberikan pengetahuan, dan teknologi memberikan kemampuan,” jelasnya.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Wamenag juga menitipkan empat pesan penting kepada mahasiswa FST. Pertama, menguasai ilmu dan menjadi ahli di bidangnya. Kedua, menjadikan persoalan di sekitar sebagai bahan penelitian untuk menemukan solusi. Ketiga, menjadi pencipta teknologi melalui gagasan dan inovasi yang bermanfaat. Keempat, menjaga integritas dengan tidak mengorbankan kejujuran demi nilai, keuntungan, maupun popularitas. “Jangan hanya bertanya, ‘Apa yang akan saya dapatkan dari kampus?’ Tetapi, ‘Apa yang dapat saya berikan kepada Indonesia melalui ilmu saya?’” tambahnya.
Ia menekankan bahwa integritas harus hadir dalam seluruh proses pengembangan dan pemanfaatan ilmu. Dalam penelitian, integritas berarti kejujuran; dalam pelayanan, amanah; dan dalam penggunaan kewenangan, tanggung jawab. Dampak teknologi bagi manusia dan lingkungan juga harus dipertimbangkan. “Ilmu harus membuat manusia semakin bermanfaat, bukan semakin berbahaya,” tegasnya.
Wamenag menilai bahwa pendidikan tidak hanya bertujuan meningkatkan kecerdasan, tetapi juga membentuk tanggung jawab dalam menggunakan ilmu dan teknologi. “Pendidikan harus mengubah ilmu menjadi kebijaksanaan, kecerdasan menjadi tanggung jawab, dan teknologi menjadi kemaslahatan,” ujarnya. Ia berharap FST UIN Sunan Gunung Djati Bandung dapat menjadi pusat keunggulan yang menunjukkan bahwa nilai-nilai Islam mampu memberikan arah dan tujuan bagi perkembangan ilmu pengetahuan. “Wahyu memberi arah. Sains memberi pengetahuan. Teknologi memberi kemampuan. Akhlak menentukan penggunaannya dan kemaslahatan adalah tujuannya,” tandasnya.

















