Headline.co.id, Jakarta ~ Menteri Luar Negeri Sugiono telah terpilih sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Pencak Silat Indonesia (PB IPSI) untuk periode 2026–2030. Pemilihan ini dilakukan secara aklamasi dalam Musyawarah Nasional XVI IPSI di Jakarta. Terpilihnya Sugiono diharapkan dapat mendorong pencak silat sebagai alat diplomasi budaya Indonesia di kancah internasional, termasuk menuju Olimpiade.
Menteri Pemuda dan Olahraga, Erick Thohir, menegaskan bahwa pemerintah akan mendukung transformasi pencak silat agar tidak hanya berprestasi di tingkat nasional, tetapi juga mampu menembus ekosistem olahraga dunia. “Kita ingin pencak silat tidak hanya kuat di dalam negeri, tetapi juga menjadi olahraga global dan masuk Olimpiade,” ujar Erick dalam siaran pers yang diterima pada Selasa (14/4/2026).
Saat ini, pencak silat telah berkembang di 83 negara dan didukung oleh sekitar 840 perguruan di Indonesia. Namun, tantangan utama adalah menjadikannya sebagai cabang olahraga yang diakui secara luas di tingkat internasional. Kepemimpinan Sugiono diharapkan dapat memperkuat jalur diplomasi, terutama melalui jaringan hubungan luar negeri untuk memperluas pengakuan global terhadap pencak silat.
Sugiono menegaskan bahwa pencak silat bukan sekadar olahraga, tetapi juga sarana membangun kepercayaan diri bangsa di tengah kompetisi global. “Ini adalah tanggung jawab besar untuk membawa pencak silat mendunia, termasuk ke Olimpiade,” ujarnya.
Pemerintah menilai bahwa pengembangan pencak silat perlu dilakukan secara terintegrasi, mencakup pembinaan atlet, perluasan event internasional, dan penguatan industri olahraga. Menurut Erick, pencak silat memiliki potensi ekonomi yang besar jika dikelola secara modern, mulai dari event, lisensi, hingga ekosistem industri kreatif berbasis budaya. “Prestasi harus sejalan dengan pembangunan ekonomi. Pencak silat bisa menjadi bagian dari industri olahraga nasional,” tegasnya.
Langkah ini juga sejalan dengan kebijakan Asta Cita, khususnya dalam penguatan identitas budaya nasional dan peningkatan daya saing global melalui sektor olahraga dan ekonomi kreatif. Upaya membawa pencak silat ke Olimpiade membutuhkan strategi jangka panjang, termasuk peningkatan standar kompetisi, konsistensi penyelenggaraan event internasional, serta penguatan federasi global.
Dengan posisi Indonesia sebagai negara asal pencak silat, pemerintah melihat peluang besar untuk memimpin proses internasionalisasi tersebut, sekaligus menjadikannya sebagai soft power di tengah dinamika global. Sinergi Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia dan Ikatan Pencak Silat Indonesia di bawah kepemimpinan baru diharapkan mampu mempercepat langkah tersebut.
Di tengah persaingan olahraga dunia yang semakin ketat, pencak silat tidak hanya dituntut berprestasi, tetapi juga harus mampu beradaptasi dengan standar global agar dapat diterima sebagai cabang olahraga Olimpiade.





















