Headline.co.id, Jogja ~ Lima mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) yang tergabung dalam Tim Gentriset melakukan penelitian mengenai cara warga Kampung Batik Kauman di Solo beradaptasi dengan gentrifikasi. Perubahan fungsi kawasan dari pusat usaha batik menjadi area wisata dan hiburan menuntut masyarakat setempat untuk menyesuaikan diri dengan kondisi sosial ekonomi baru. Penelitian ini merupakan bagian dari Program Kreativitas Mahasiswa bidang Riset Sosial Humaniora (PKM-RSH).
Tim Gentriset terdiri dari Hanel Aulia Afro (S1 Sosiologi) sebagai ketua, bersama Nasywa Izzati Firdaus (S1 Politik dan Pemerintahan), Elang Gading Permana (D4 Sistem Informasi Geografis), Laras Dwi Anggraeny (S1 Politik dan Pemerintahan), dan Nasywa Adinda Ibrahim (S1 Antropologi Budaya). Mereka dibimbing oleh Odam A. Artosa, M.A., dosen Departemen Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik. Berdasarkan data lapangan, masyarakat Kauman tidak tinggal diam menghadapi tekanan gentrifikasi. Mereka melakukan adaptasi usaha melalui digitalisasi pemasaran dan inovasi motif batik, serta beberapa memilih menyewakan lahan atau beralih ke usaha kuliner.
Elang Gading Permana menjelaskan bahwa digitalisasi pemasaran melalui media sosial menjadi strategi ekonomi utama warga Kauman. Langkah ini membantu membangun branding kawasan dan memetakan pergeseran jumlah retail. “Kami juga meneliti apakah adaptasi digital ini berkorelasi dengan ketahanan usaha di titik-titik tertentu di kawasan Kauman,” ujar Elang. Selain itu, kehadiran paguyuban dan koperasi di Kampung Kauman berperan penting dalam mendukung adaptasi warga dengan menyediakan akses modal dan pelatihan peningkatan keterampilan.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Laras Dwi Anggraeny menambahkan bahwa masyarakat Kauman juga berusaha mempertahankan budaya dan tradisi mereka melalui regenerasi pengrajin muda dan pengenalan kembali tradisi Pambiworo kepada generasi muda. “Masyarakat Kauman tidak hanya beradaptasi secara ekonomi, tetapi juga berupaya memastikan identitas dan budaya lokal tetap terjaga,” ungkap Laras. Tim berharap hasil penelitian ini dapat mendorong program penguatan kompetensi pemasaran pariwisata yang bersinergi dengan pemerintah daerah, menjadikan Kampung Batik Kauman sebagai pariwisata unggulan di Solo.



















