Headline.co.id, Jakarta ~ Nusa Tenggara Timur masih menghadapi dampak gempa bumi berkekuatan M7,7 yang mengguncang daratan Pulau Flores. Polri dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mempercepat distribusi bantuan logistik kepada masyarakat terdampak, termasuk warga yang berada di wilayah dengan akses sulit. Bantuan disalurkan melalui jalur laut dari Labuan Bajo serta melalui penyisiran langsung ke sejumlah desa terdampak di Manggarai Barat.
Penanganan gempa di Nusa Tenggara Timur tidak hanya berfokus pada distribusi bantuan di pos pengungsian terpusat, tetapi juga menyasar warga yang mengungsi secara mandiri. BNPB menemukan sejumlah wilayah terdampak membutuhkan perhatian karena jaraknya cukup jauh dari pusat logistik dan kondisi akses jalan yang tidak mudah dilalui.
Di sisi lain, Polri menyiapkan ribuan paket kebutuhan pokok untuk masyarakat terdampak gempa di Nusa Tenggara Timur, mulai dari Kabupaten Manggarai hingga Kabupaten Sikka. Pengiriman menggunakan dua kapal Polairud dengan Dermaga Reo, Kabupaten Manggarai, sebagai salah satu titik masuk menuju wilayah terdampak karena dinilai memiliki akses yang relatif aman setelah gempa.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Polri Kirim Ribuan Paket Bantuan ke Flores
Proses pengemasan bantuan dari Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo dilakukan pada Senin (17/8/2026) mulai pukul 14.00 Wita di Gudang Bulog Labuan Bajo, Desa Batu Cermin, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat.
Pengemasan dikoordinasikan Pengelola PB/J Polri Madya TK III sekaligus Ketua LO Polda NTT Kombes Pol. Edwar Jacky Tofani Umbu Kaledi bersama Kasubaghapus Baginvent Ropal Kompol Yogi Maulana.
Personel Polwan Polres Manggarai Barat juga dilibatkan dalam proses pengemasan di bawah pimpinan Kabag Ren Polres Manggarai Barat AKP Ratna Yuda Topang.
Setelah dikemas, bantuan diangkut menuju Dermaga Pelni Marina Labuan Bajo menggunakan dua dump truck dan satu kendaraan Dalmas roda enam. Logistik kemudian dimuat ke KM BIMA-7014 milik Polairud Mabes Polri dan KP Pulau Padar XXII-3018 milik Polairud Polda NTT.
Bantuan tersebut disiapkan untuk diberangkatkan dari Labuan Bajo menuju Dermaga Reo, Kabupaten Manggarai. Dari lokasi tersebut, distribusi dilanjutkan menuju daerah-daerah yang membutuhkan.
Kepala Korps Kepolisian Perairan dan Udara (Kakorpolairud) Irjen Pol. Raden Firdaus Kurniawan Ferry mengatakan Polri memastikan logistik yang telah dikumpulkan dapat segera diterima masyarakat.
“Polri memastikan bantuan logistik untuk masyarakat terdampak gempa bumi di Pulau Flores dapat segera didistribusikan. Kami terus melakukan monitoring dan memastikan seluruh bantuan yang telah dikumpulkan dan dimuat ke kapal dalam kondisi siap untuk disalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan,” kata Raden Firdaus saat memonitor pemuatan bantuan, Senin (17/8/2026).
17,5 Ton Beras hingga Mainan Anak Disiapkan
Bantuan yang disiapkan Polri mencakup 3.500 kantong beras Bulog dengan total sekitar 17.500 kilogram, sekitar 3.500 liter minyak goreng, 3.500 paket sembako, serta 500 mainan anak.
Setiap paket sembako berisi lima bungkus mi instan, satu botol kecap, satu kotak teh, satu kilogram gula pasir, dan satu kotak biskuit.
Kapolres Manggarai Barat AKBP Christian Kadang juga menambahkan bantuan peralatan dapur berupa 10 lusin sendok makan, 10 panci, 10 wajan atau kuali, serta 10 centong sayur atau ikan.
Bantuan direncanakan disalurkan secara bertahap dengan jumlah yang disesuaikan kondisi dan kebutuhan masyarakat di setiap wilayah terdampak, mulai dari Kabupaten Manggarai hingga Kabupaten Sikka.
“Pendistribusian ini merupakan bentuk kehadiran Polri di tengah masyarakat. Bantuan akan disalurkan secara bertahap dan disesuaikan dengan kebutuhan di masing-masing wilayah terdampak, sehingga dapat diterima oleh masyarakat secara tepat sasaran,” ujar Raden Firdaus.
Menurut dia, koordinasi dengan jajaran kewilayahan dan pihak terkait terus dilakukan agar perjalanan logistik menuju lokasi bencana berlangsung aman dan efektif.
“Kami juga terus berkoordinasi dengan jajaran kewilayahan dan seluruh pihak terkait untuk memastikan proses distribusi berjalan aman, lancar, dan efektif. Apabila masih terdapat tambahan bantuan, tentunya akan kami data dan distribusikan sesuai dengan kebutuhan masyarakat di lapangan,” katanya.
BNPB Sisir Wilayah yang Sulit Dijangkau
Sementara itu, BNPB terus melakukan asesmen untuk mengidentifikasi titik-titik terdampak gempa yang membutuhkan bantuan. Penyisiran dilakukan Deputi Bidang Pencegahan BNPB Abdul Muhari di Kecamatan Kuwus, Manggarai Barat, pada Rabu (19/8/2026).
Asesmen dilakukan di Dusun Coal, Desa Coal, dan Dusun Dahang, Desa Pangga. BNPB sekaligus membawa bantuan, termasuk bantuan Presiden, kepada masyarakat di wilayah tersebut.
Berdasarkan asesmen, sebanyak 148 rumah warga mengalami kerusakan. Rinciannya, 101 rumah rusak berat, 12 rumah rusak sedang, dan 35 rumah rusak ringan. Satu warga dilaporkan meninggal dunia.
Jumlah pengungsi di Desa Coal mencapai 1.108 orang. Sementara di Desa Pangga, lebih dari 20 keluarga tercatat melakukan pengungsian secara mandiri.
Abdul Muhari mengatakan BNPB mendapatkan informasi bahwa wilayah tersebut sebelumnya belum menerima bantuan setelah gempa terjadi.
“Kami saat ini langsung ke lokasi dan melihat langsung kondisi masyarakat dari laporan camat tadi sudah ada bantuan pangan dan tentu saja ini akan terus kita tindak lanjuti,” ujar Abdul Muhari, Rabu (19/8/2026).
Akses dari Labuan Bajo Jadi Tantangan Distribusi
Jarak dan kondisi jalan menjadi salah satu persoalan dalam menjangkau masyarakat terdampak. Menurut BNPB, perjalanan dari Labuan Bajo menuju lokasi asesmen membutuhkan waktu sekitar 3,5 jam dengan kondisi akses yang cukup sulit.
Kondisi itu menjadi perhatian dalam memastikan kebutuhan pangan, sandang, serta kebutuhan dasar lainnya dapat sampai kepada masyarakat.
“Ini akan jadi atensi kita tentu saja karena jarak dari Labuan Bajo ke sini ditempuh sekitar 3,5 jam dan akses jalan cukup sulit sehingga tentu saja kita akan pastikan masyarakat terdampak di sini menerima bantuan pangan dan kebutuhan sandang, kebutuhan dasar permakanan dan non-permakanan kita pastikan terpenuhi di sini,” kata Abdul Muhari.
BNPB juga menghadapi tantangan dalam mendata dan menjangkau warga yang memilih mengungsi secara mandiri. Tidak seluruh warga yang tinggal di tenda berada di sana karena rumahnya mengalami kerusakan.
Faktor trauma setelah gempa serta masih terjadinya gempa susulan turut membuat sebagian warga memilih bertahan di luar rumah.
“Tantangan kita memang di titik-titik dimana masyarakat mengungsi secara mandiri dan ini tidak semuanya juga masyarakat yang mendirikan tenda di sekitar rumah, itu rumahnya rusak, tapi ada faktor-faktor psikologi trauma dan guncangan gempa susulan yang masih terus berjalan sampai sekarang,” ujar Abdul Muhari.
Anak-anak, Ibu dan Lansia Jadi Perhatian
BNPB mencatat masih banyak masyarakat bertahan di tempat pengungsian. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena di antara para pengungsi terdapat anak-anak, ibu-ibu, dan warga lanjut usia.
Selain mendata bangunan yang mengalami kerusakan, pemerintah melalui BNPB dan pos komando yang dipimpin pemerintah daerah terus berupaya memastikan kebutuhan warga di pengungsian terpenuhi.
“Nah ini menjadi perhatian kita, tentu saja selain pendataan bangunan yang rusak terus kita lakukan tetapi masyarakat yang masih mengungsi karena kita lihat banyak anak-anak, banyak ibu-ibu, banyak lansia juga yang akan kita pastikan selama nanti masih ada pengungsi-pengungsi mandiri ini kita sekali lagi kita pastikan kebutuhan makanan dan permakanan terpenuhi,” tutur Abdul Muhari.
Hingga kini, BNPB bersama BPBD di kabupaten terdampak masih mendistribusikan bantuan logistik kepada korban gempa. Untuk mendukung penanganan bencana, pos logistik di NTT dipusatkan di Labuan Bajo dan Maumere.
Distribusi melalui jalur laut yang dilakukan Polri serta penyisiran wilayah oleh BNPB menjadi bagian dari upaya memperluas jangkauan bantuan, terutama ke permukiman dan titik pengungsian yang memiliki keterbatasan akses.
Pemerintah dan aparat memastikan penyaluran bantuan akan terus menyesuaikan kebutuhan masyarakat di lapangan, termasuk bagi warga yang masih bertahan di pengungsian akibat kerusakan rumah, trauma, maupun gempa susulan.



