Headline.co.id, Jogja ~ Indonesia tengah menghadapi ancaman fenomena El Niño yang kuat, bersamaan dengan Indian Ocean Dipole (IOD) positif. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi bahwa El Niño tahun 2026 dapat berkembang menjadi kategori kuat, dengan peluang 75 persen untuk meningkat menjadi sangat kuat pada periode Agustus hingga Oktober. Kombinasi kedua fenomena ini diperkirakan akan mengurangi curah hujan secara signifikan, memicu kekeringan, krisis air, dan mengganggu ketahanan pangan.
Dr. Emilya Nurjani, dosen Departemen Geografi Lingkungan Universitas Gadjah Mada (UGM), menjelaskan bahwa El Niño dan IOD positif adalah fenomena iklim berskala regional hingga global yang memengaruhi distribusi curah hujan di Indonesia. El Niño berkaitan dengan kondisi di wilayah Pasifik tropis, sementara IOD positif berhubungan dengan perbedaan suhu muka laut bagian barat dan timur Samudra Hindia. “Kedua fenomena ini dapat saling memperkuat dalam mengurangi curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia,” ujarnya pada Senin (10/8).
Menurut Emilya, musim kemarau yang lebih panjang dan kemunduran awal musim hujan adalah dampak yang mungkin terjadi, meskipun efeknya dapat bervariasi di setiap wilayah. Faktor-faktor seperti lokasi, pola monsun, topografi, dan kondisi hidrologis serta geologis turut memengaruhi tingkat kerentanan suatu wilayah terhadap kekeringan. “El Niño Godzilla sebaiknya dipahami sebagai alarm untuk melihat bagaimana setiap wilayah memiliki tingkat risiko dan kapasitas adaptasi yang berbeda,” tambahnya.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Ia menekankan bahwa tidak semua wilayah di Indonesia akan mengalami kekeringan dengan intensitas yang sama. Faktor-faktor seperti pola curah hujan, topografi, jenis tanah, dan ketersediaan sumber air sangat menentukan tingkat kerentanan. Wilayah dengan perbedaan musim penghujan dan kemarau yang lebih tegas, seperti sebagian Jawa, Bali, Nusa Tenggara, dan selatan Sulawesi, dinilai lebih berisiko. Sementara itu, wilayah dengan pola hujan ekuatorial memiliki karakteristik berbeda dalam menghadapi periode kering. Kondisi geologi juga berperan penting, di mana wilayah dengan air tanah yang luas lebih mampu menghadapi kekeringan dibandingkan wilayah karst.




















