Headline.co.id, Batu ~ Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Aceh menjalin kerja sama dengan PT Solusi Bangun Andalas (SBA) untuk memanfaatkan limbah uang tidak layak edar sebagai bahan bakar alternatif. Nota kesepahaman kedua pihak ditandatangani di pabrik SBA yang berlokasi di Lhoknga, Kabupaten Aceh Besar, pada Kamis (30/7/2026).
Agus Chusaini, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Aceh, menjelaskan bahwa limbah yang diserahkan berasal dari uang yang telah ditarik dari peredaran karena rusak atau tidak memenuhi standar sebagai alat pembayaran. “Yang dikirim hari ini ada 5 ton. Untuk berikutnya nanti kita sesuaikan tergantung jumlah uang tidak layak edar yang masuk ke kita,” ujar Agus.
Agus menambahkan bahwa jumlah limbah uang kertas yang dihasilkan tidak tetap, bergantung pada banyaknya uang tidak layak edar yang diterima Bank Indonesia. Uang yang dinyatakan tidak layak edar langsung diproses menjadi material yang siap digunakan sebagai energi alternatif. “Kalau jumlah limbahnya memang tidak menentu. Berapa banyak uang yang masuk, kemudian kita racik. Kalau memang kondisinya sudah kurang bagus untuk diedarkan kembali, maka kita racik dan hasilnya yang kemudian kita kirim,” katanya.
Kerja sama ini dianggap lebih ramah lingkungan dibandingkan metode sebelumnya, di mana limbah uang rusak dibuang ke tempat pembuangan akhir (TPA). Kini, limbah tersebut dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi bagi industri semen. “Kami berharap ini bisa membantu PT Solusi Bangun Andalas menambah bahan bakar, sekaligus meringankan kami sehingga limbah ini tidak lagi membebani lingkungan,” ujar Agus.
R. Adi Santosa, General Manager PT Solusi Bangun Andalas, menyatakan bahwa pemanfaatan limbah uang kertas merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam mengurangi emisi karbon melalui penggunaan bahan bakar alternatif. Proses produksi semen yang masih didominasi batu bara kini mulai memanfaatkan berbagai jenis limbah yang memiliki nilai kalor sebagai substitusi bahan bakar fosil. “Kebetulan saat ini teman-teman dari Bank Indonesia mempercayakan kami untuk bisa memanfaatkan limbah tersebut. Secara teknologi, pabrik semen mampu mengolah semua jenis limbah karena kami beroperasi pada temperatur 1.500 derajat Celsius,” ujarnya.
Adi menjelaskan bahwa suhu pembakaran yang sangat tinggi memungkinkan seluruh limbah yang diolah dapat termusnahkan secara sempurna tanpa menimbulkan dampak terhadap lingkungan. Namun, ia menegaskan bahwa limbah uang kertas belum dapat menggantikan batu bara sepenuhnya karena memiliki nilai kalor yang lebih rendah. “Batu bara yang kami gunakan memiliki nilai kalor sekitar 4.500, sedangkan limbah kertas sekitar 3.500. Jadi limbah ini hanya menjadi substitusi untuk mengurangi penggunaan batu bara, bukan menggantikannya secara total,” katanya.
Adi menambahkan bahwa limbah uang kertas diproses menggunakan metode co-processing, di mana material ini diumpankan melalui fasilitas khusus menuju sistem pembakaran dan tidak dicampurkan langsung dengan batu bara karena karakteristik fisiknya berbeda. “Material ini diumpankan melalui fasilitas tersendiri menuju sistem pembakaran sehingga dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif,” ujar Adi.
PT Solusi Bangun Andalas berharap kerja sama dengan Bank Indonesia Aceh dapat terus berlanjut sehingga semakin banyak limbah uang tidak layak edar yang dimanfaatkan menjadi energi alternatif, sekaligus mendukung upaya pengurangan emisi karbon di sektor industri semen.
















