Headline.co.id, Sijunjung ~ Pemerintah Provinsi Sumatra Barat (Pemprov Sumbar) memanfaatkan dana Transfer ke Daerah (TKD) untuk mempercepat pemulihan pascabencana. Akses vital di Ruas Jalan Sitangkai–Tanjung Ampalu, yang menghubungkan Kabupaten Tanah Datar dan Kabupaten Sijunjung, kini kembali normal setelah terputus selama satu setengah bulan akibat banjir bandang. Pemulihan ini dilakukan melalui pembangunan Jembatan Bailey oleh Dinas Bina Marga, Cipta Karya, dan Tata Ruang (BMCKTR) Sumbar.
Jembatan darurat ini mengakhiri isolasi warga dan memulihkan roda perekonomian, mobilitas pelajar, serta jalur distribusi logistik di kawasan tersebut. Kepala UPTD Workshop dan Peralatan Dinas BMCKTR Sumbar, Mitra Hengki, menyatakan bahwa pembangunan Jembatan Bailey ini menelan biaya Rp4,9 miliar, yang berasal dari dana TKD sesuai arahan Gubernur Sumbar Mahyeldi dan Wakil Gubernur Vasko Ruseimy. “Pembangunan Jembatan Bailey beserta pemasangannya menelan anggaran total Rp4,9 miliar. Ini bentuk komitmen tanggap cepat pemprov dalam mengoptimalkan dana TKD agar mobilitas dan aktivitas ekonomi masyarakat pascabencana segera pulih,” ujar Mitra Hengki di Tanah Datar, Selasa (28/7/2026).
Jembatan rangka baja sepanjang 42 meter dan lebar 4,2 meter ini dirancang untuk menahan beban kendaraan hingga 15–20 ton. Konstruksi tapak (abutment) dikerjakan secara swakelola dengan biaya Rp800 juta, sementara pengadaan struktur jembatannya mencapai Rp4,1 miliar. Meskipun bersifat sementara, Jembatan Bailey ini memiliki daya tahan tinggi hingga bertahun-tahun, sembari menunggu pembangunan jembatan permanen yang diproyeksikan membutuhkan dana sekitar Rp25 miliar.
Pulihnya jalur utama ini disambut baik oleh masyarakat setempat. Sebelumnya, warga harus memutar hingga 20 kilometer melalui rute alternatif Kumani–Tigo Jangko, yang memakan waktu tambahan satu jam. Wali Nagari Taluk, Pendi Aswil, menyatakan bahwa terputusnya jembatan sempat melumpuhkan sektor perkebunan karet, peternakan unggas, dan aktivitas pelaku UMKM setempat. “Terputusnya jembatan ini sempat melumpuhkan sektor perkebunan karet, peternakan unggas, dan aktivitas pelaku UMKM setempat,” kata Pendi Aswil.
Dampak positif juga dirasakan oleh pelaku usaha kecil di sepanjang jalur tersebut. Pemilik warung dan rumah makan melaporkan bahwa omzet usaha mereka mulai membaik seiring kembalinya arus lalu lintas truk ekspedisi, bus penumpang, dan angkutan hasil bumi. Melalui langkah cepat ini, Pemprov Sumbar memastikan ketersediaan infrastruktur penghubung tetap terjaga demi keberlanjutan aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat di kawasan terdampak bencana.















