Headline.co.id, Sleman ~ Kapanewon Depok di Kabupaten Sleman mengadakan kegiatan edukasi bertajuk Sekolah Rabu pada Rabu (22/7). Acara ini berlangsung di Ruang Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) dengan tujuan menggali sejarah, filosofi, dan kearifan lokal dari kuliner jadah tempe yang merupakan warisan budaya dari lereng Gunung Merapi.
Angga Kusuma Arybowo, generasi keempat pengelola Jadah Tempe Mbah Carik, hadir sebagai narasumber dalam acara tersebut. Ia menjelaskan bahwa jadah tempe, yang merupakan perpaduan dari beras ketan, kelapa, dan tempe bacem, lahir dari tradisi pangan masyarakat lereng Merapi. Makanan ini dikenal adaptif, praktis, dan memiliki daya simpan yang lama, cocok untuk daerah rawan bencana.
“Perpaduan ini bukan hanya soal rasa, tetapi juga mencerminkan cara masyarakat Merapi bertahan hidup,” ujar Angga. Ia juga menelusuri jejak historis jadah dan tempe yang tercatat dalam naskah kuno abad ke-10 hingga manuskrip Serat Centhini.
Kedekatan jadah tempe dengan Keraton Yogyakarta semakin kuat ketika Kanjeng Ratu Ayu Hastungkoro, istri Sri Sultan Hamengku Buwono IX, secara khusus memberikan jenama Jadah Tempe Mbah Carik. Hal ini seiring dengan berkembangnya Kaliurang sebagai kawasan wisata.
Angga menegaskan pentingnya menjaga nilai historis dan komitmen penggunaan bahan baku lokal seperti beras ketan, kelapa, dan kedelai non-transgenik. Langkah ini bertujuan untuk mempertahankan keaslian rasa sekaligus mendukung hasil panen petani daerah.
Sekolah Rabu menjadi ruang bagi generasi muda untuk memahami filosofi di balik kuliner tradisional, yang diharapkan dapat memperkuat identitas budaya Yogyakarta. (KIM Depok/Athiful)













