Headline.co.id, Makassar ~ Operasi pencarian korban KM Nurul Salsa kini memberi perhatian lebih besar pada kawasan Laut Flores dan perairan di sekitar Kepulauan Sabalana setelah tim memperoleh petunjuk dari penyintas serta menemukan benda yang diduga berkaitan dengan kapal. Tim SAR gabungan memperluas penyisiran pada Selasa, 21 Juli 2026, karena arus diperkirakan membawa korban dan barang dari titik kecelakaan menuju arah barat daya. Pencarian dilakukan menggunakan kapal SAR, kapal perang, kapal nelayan, dan dukungan udara. Langkah tersebut ditempuh ketika 18 orang masih tercatat belum ditemukan berdasarkan data terakhir sebelum temuan jenazah terbaru diidentifikasi.
Pergeseran fokus tidak berarti lokasi awal kecelakaan ditinggalkan sepenuhnya. Tim SAR mengembangkan sektor pencarian berdasarkan gabungan titik kapal tenggelam, lokasi penyintas ditemukan, pergerakan arus, arah angin, dan posisi barang yang mengapung.
Pola itu menunjukkan bahwa operasi KM Nurul Salsa telah memasuki tahap pencarian dengan wilayah yang semakin luas. Semakin lama seseorang atau benda berada di laut, semakin jauh kemungkinan pergerakannya dari lokasi awal, sehingga kapal dan pesawat harus menjangkau beberapa jalur sekaligus.
Kesaksian Penyintas Mengubah Arah Penyisiran
Informasi dari korban selamat menjadi salah satu unsur penting dalam menentukan arah pencarian. Penyintas dapat memberikan keterangan mengenai kondisi terakhir kapal, alat apung yang digunakan, kelompok korban yang bertahan bersama, dan perkiraan arah mereka terbawa setelah kapal tenggelam.
Dua korban yang ditemukan selamat pada Minggu, 19 Juli 2026, berada di kawasan Kepulauan Sabalana, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan. Lokasi tersebut berada jauh dari tujuan awal pelayaran di Pelabuhan Benteng, Selayar, sehingga memperkuat kemungkinan korban lain ikut terbawa arus ke wilayah yang lebih luas.
Kedua korban, Jasmal dan Nurmiati, ditemukan oleh kapal nelayan dan kemudian dievakuasi menggunakan KRI Marlin-877. Mereka tiba di Pelabuhan Rauf Rahman Benteng pada Senin malam, 20 Juli 2026, untuk menjalani pemeriksaan dan perawatan medis lebih lanjut.
Arus dan Angin Menjadi Dasar Perluasan Area
Tim SAR menggunakan prediksi pergerakan atau pemodelan pencarian untuk memperkirakan posisi korban. Direktur Operasi dan Kesiapsiagaan Basarnas RI Yudhi Bramantyo menjelaskan bahwa berdasarkan prediksi tersebut, korban dimungkinkan hanyut ke arah barat daya.
Arah itu membuka kemungkinan pencarian berkembang menuju perairan yang mengarah ke Nusa Tenggara Barat. Karena itu, unsur Basarnas dari Mataram dan wilayah lain disiapkan untuk mendukung operasi apabila hasil evaluasi menunjukkan perlunya pengerahan tambahan.
Pada hari keenam, area pencarian diperluas menjadi sekitar 1.980 mil laut persegi. Wilayah tersebut dibagi ke dalam lima sektor, masing-masing sekitar 396 mil laut persegi, sesuai kemampuan dan jangkauan kapal yang dikerahkan.
Perluasan area merupakan konsekuensi dari waktu yang telah berlalu sejak kecelakaan pada 15 Juli 2026. Angin dan arus dapat membuat posisi korban, alat apung, serta barang bawaan terus berubah sehingga pencarian tidak dapat hanya bertumpu pada satu koordinat.
Temuan Rompi Pelampung Memperkuat Petunjuk
KRI Marlin-877 menemukan satu rompi pelampung bertuliskan KM Nurul Salsa di perairan utara Pulau Sanipadan. Temuan tersebut diamankan dan dianalisis untuk mengetahui keterkaitannya dengan pola hanyut korban serta penentuan sektor pencarian.
Tim juga memperoleh laporan mengenai barang-barang yang diduga milik penumpang di sekitar Perairan Sabalana. Meskipun belum dapat dikaitkan dengan individu tertentu, posisi setiap benda dapat berfungsi sebagai titik referensi untuk membaca pergerakan arus.
Barang temuan tidak dapat berdiri sendiri sebagai penentu lokasi korban. Tim perlu membandingkannya dengan waktu ditemukan, kondisi cuaca, jarak dari titik kecelakaan, dan keterangan penyintas agar perluasan pencarian memiliki dasar yang lebih kuat.
Armada Laut dan Udara Menjangkau Lima Sektor
Operasi melibatkan KN SAR Kamajaya dari Kantor Basarnas Makassar, KN SAR Pacitan dari Kendari, dan KN SAR Puntadewa dari Maumere. TNI Angkatan Laut mengerahkan KRI Marlin serta KRI Hiu, sementara kapal-kapal nelayan ikut menyisir area yang mereka kenali.
Dukungan udara mencakup pesawat patroli maritim Boeing 737-200 dari Lanud Sultan Hasanuddin. Helikopter Caracal juga disiagakan, terutama untuk mempercepat respons apabila ditemukan korban atau objek penting di lokasi yang sulit segera dijangkau kapal.
Basarnas Mataram mengirim Rescue Boat 220 bersama 17 personel. Kapal tersebut bergerak dari Lembar menuju Pelabuhan Badas, Sumbawa, sebelum bergabung dengan unsur lain dalam operasi pencarian.
Penggabungan sarana laut dan udara diperlukan karena setiap moda memiliki fungsi berbeda. Kapal dapat melakukan penyisiran lebih rinci dan evakuasi, sedangkan pesawat membantu mengamati area yang jauh lebih luas dalam waktu lebih singkat.
Pencarian Tetap Bergantung pada Verifikasi Data
Jumlah orang di atas KM Nurul Salsa sempat mengalami perubahan selama operasi berlangsung. Data awal kemudian diperbarui menjadi 78 orang setelah posko menerima laporan tambahan dan melakukan verifikasi dengan keluarga.
Berdasarkan data sebelum penemuan jenazah terbaru, 59 orang telah ditemukan selamat, satu orang meninggal dunia, dan 18 orang masih dalam pencarian. Satu jenazah yang kembali ditemukan pada 21 Juli masih disebut diduga korban sehingga angka resmi perlu menunggu identifikasi.
Verifikasi menjadi bagian penting karena setiap perubahan jumlah korban akan memengaruhi daftar pencarian. Tim tidak hanya memerlukan nama, tetapi juga kecocokan informasi keluarga, manifest, laporan penyintas, dan hasil pemeriksaan terhadap korban yang ditemukan.
Operasi masih menghadapi gelombang sekitar dua hingga tiga meter serta luasnya perairan. Evaluasi harian terhadap cuaca, temuan di laut, dan informasi masyarakat akan menentukan apakah sektor pencarian dipertahankan, diperluas, atau dialihkan kembali.



















