Headline.co.id, Jakarta ~ Pencarian link video viral Teh Pucuk meningkat setelah sejumlah akun media sosial mengklaim memiliki rekaman versi lengkap dengan durasi hingga 17 menit. Klaim tersebut beredar melalui TikTok, X, dan berbagai platform lain dengan ajakan membuka tautan di bio maupun kolom komentar. Namun, hingga kini belum ditemukan bukti valid yang memastikan keberadaan video panjang tersebut ataupun identitas pria dan wanita di dalam rekaman yang beredar.
Perburuan tautan dipicu oleh beredarnya potongan video berdurasi sekitar 1 menit 50 detik. Rasa penasaran warganet kemudian dimanfaatkan sejumlah akun untuk menyebarkan unggahan provokatif, seperti klaim “link full video 17 menit” atau “versi lengkap ada di komentar”.
Berdasarkan penelusuran terhadap informasi yang beredar, sebagian besar unggahan tidak menyajikan rekaman utuh sebagaimana diklaim. Konten yang ditemukan umumnya hanya berupa potongan video pendek, gambar botol minuman, tangkapan layar, atau unggahan tanpa konteks yang jelas.
Salah satu konten dari akun TikTok @rh_creator26, misalnya, hanya berdurasi sekitar 40 detik dan memperlihatkan aktivitas ringan. Unggahan tersebut tidak membuktikan adanya versi video sepanjang 17 menit seperti yang ramai dibicarakan warganet.
Kondisi itu menunjukkan bahwa popularitas kata kunci link video viral Teh Pucuk lebih banyak didorong oleh rasa penasaran publik dan fenomena fear of missing out atau FOMO. Belum ada sumber resmi maupun pihak berwenang yang mengonfirmasi keberadaan rekaman panjang tersebut.
Identitas Pemeran Belum Diketahui
Selain mencari tautan video, sejumlah pengguna media sosial turut berspekulasi mengenai identitas orang yang berada dalam rekaman. Narasi yang berkembang bahkan mengaitkan pemeran perempuan dengan seorang mahasiswi Universitas Mataram bernama Anis Januar Putri.
Tudingan tersebut menyebar melalui berbagai akun tanpa disertai bukti yang dapat diverifikasi. Nama Anis kemudian menjadi sasaran komentar dan penilaian publik meskipun belum terdapat informasi resmi yang menghubungkannya dengan video tersebut.
Anis telah membantah tuduhan itu secara langsung. Ia menegaskan bahwa perempuan yang terlihat dalam rekaman bukan dirinya.
“Saya Anis Januar Putri, saya berani bersumpah bahwa orang di dalam video itu bukan saya,” kata Anis dalam klarifikasinya.
Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual Universitas Mataram juga membantah narasi yang menyebut pemeran dalam video merupakan mahasiswa kampus tersebut. Berdasarkan keterangan resmi yang disampaikan pada 9 Februari 2026, video itu disebut telah beredar sejak September 2025 dan tidak direkam di wilayah Nusa Tenggara Barat.
“Kami menegaskan bahwa pemeran dalam video itu bukan mahasiswa Unram. Video tersebut sudah ada sejak September 2025 dan kejadiannya bukan di Lombok, melainkan di luar NTB,” kata perwakilan Satgas PPKS Unram.
Satgas turut menyampaikan adanya perbedaan ciri fisik antara Anis dan perempuan dalam rekaman. Perbedaan tersebut antara lain terlihat dari jenis kacamata dan kondisi wajah.
“Ciri sangat jauh seperti dalam video,” kata Jumadi dalam penjelasannya mengenai hasil pengamatan tersebut.
Sampai saat ini, belum ada bukti valid yang menunjukkan bahwa pemeran pria maupun perempuan dalam video merupakan mahasiswa aktif dari perguruan tinggi tertentu. Identitas keduanya juga belum pernah diumumkan secara resmi oleh aparat berwenang.
Masyarakat karena itu diminta tidak mengaitkan video dengan seseorang hanya berdasarkan kemiripan wajah, nama, atau informasi yang berasal dari akun anonim. Penudingan tanpa dasar dapat merusak reputasi seseorang dan menimbulkan konsekuensi hukum bagi penyebarnya.
Klaim Video Lengkap Berpotensi Menjadi Umpan Klik
Maraknya pencarian link video viral Teh Pucuk turut membuka peluang bagi pihak tidak bertanggung jawab untuk menyebarkan tautan palsu. Modus yang digunakan umumnya berupa ajakan mengunduh video, membuka versi tanpa sensor, atau mengakses rekaman lengkap melalui situs tertentu.
Tautan semacam itu tidak selalu mengarah pada video yang dijanjikan. Pengguna justru dapat dialihkan menuju situs yang dipenuhi iklan, halaman login palsu, formulir pengumpulan data, atau berkas yang tidak diketahui keamanannya.
Pola tersebut merupakan salah satu bentuk clickbait yang dapat berkembang menjadi phishing. Pelaku biasanya memanfaatkan rasa penasaran pengguna agar bersedia memasukkan alamat surat elektronik, kata sandi, nomor telepon, maupun informasi pribadi lainnya.
Risiko lain muncul ketika situs meminta pengguna mengunduh aplikasi atau berkas tertentu. File dari sumber tidak resmi dapat mengandung program berbahaya yang berpotensi mengambil data, mengakses akun, atau mengganggu kinerja perangkat.
baca halaman selanjutnya video virall teh pucuk full 17 menit





















