Headline.co.id, Sumenep ~ Kecamatan Rubaru di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, tidak hanya dikenal sebagai wilayah penyangga di bagian barat daya, tetapi juga menyimpan sejarah dan kearifan lokal yang tercermin dari asal-usul namanya. Nama Rubaru dan Desa Banasare diyakini memiliki kaitan erat dengan kondisi alam dan sejarah Sumenep di masa lalu.
Kecamatan Rubaru terletak sekitar 16 hingga 17 kilometer dari pusat Kabupaten Sumenep dan terdiri dari 11 desa, yaitu Basoka, Mandala, Karangnangka, Pakondang, Matanair, Tambaksari, Banasare, Bunbarat, Kalebengan, Rubaru, dan Duko. Secara etimologis, nama Rubaru diduga berasal dari kata “baru,” yang dalam bahasa Madura berarti pohon waru (Hibiscus tiliaceus). Pohon ini dikenal sebagai tanaman peneduh yang banyak tumbuh di tepi jalan, bantaran sungai, dan kawasan pesisir karena akarnya tidak merusak bangunan di sekitarnya.
Dalam pelafalan bahasa Madura, huruf “w” sering tidak diucapkan, sehingga kata “waru” berubah menjadi “baru.” Bentuk “Rubaru” diyakini merupakan hasil reduplikasi atau pengulangan kata sesuai karakteristik bahasa Madura, dengan mengulang bagian akhir kata sehingga “baru-baru” menjadi “rubaru.” Penamaan ini diduga menggambarkan kondisi wilayah yang dahulu banyak ditumbuhi pohon waru. Hingga kini, belum ada sumber sejarah lain yang menjelaskan asal-usul nama Rubaru secara lebih lengkap, sehingga kajian terhadap cerita rakyat dan naskah lokal masih diperlukan.
Sementara itu, Desa Banasare memiliki catatan sejarah yang lebih panjang. Nama desa ini sering disebut dalam literatur kuno mengenai Keraton Sumenep sebagai salah satu pusat pemerintahan pada abad ke-14. Nama Banasare berasal dari kata “Wanasari,” gabungan dari kata “wana” yang berarti hutan dan “sari” yang bermakna pusat atau inti. Seiring perkembangan bahasa Madura, pelafalan “Wanasari” kemudian berubah menjadi “Banasare.”
Tokoh masyarakat Desa Banasare, Fathorrahman, menjelaskan bahwa kawasan tersebut dahulu dikenal memiliki pepohonan rindang sehingga menjadi tempat yang nyaman untuk beristirahat dan berkumpul. “Keberadaan Rubaru dan Banasare menunjukkan bahwa nama-nama wilayah di Kabupaten Sumenep tidak hanya berfungsi sebagai penanda geografis, tetapi juga merekam hubungan erat kondisi alam, perkembangan bahasa Madura, dan perjalanan sejarah masyarakat setempat,” ujarnya, Kamis (16/7/2026).
Pelestarian sejarah penamaan wilayah tersebut diharapkan dapat memperkuat identitas budaya sekaligus menjadi bagian dari upaya menjaga warisan sejarah dan kearifan lokal Kabupaten Sumenep bagi generasi mendatang.















