Headline.co.id, Jakarta ~ Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, mengajak generasi muda untuk membangun demokrasi yang dinamis guna menghadapi tantangan era digital. Ajakan ini disampaikan dalam Diskusi Pemuda di Jakarta Selatan, Jumat (10/7/2026), dengan fokus pada tantangan seperti disinformasi, polarisasi, dan perubahan pola komunikasi di media sosial.
Nezar Patria menegaskan bahwa setelah 28 tahun Reformasi, tantangan Indonesia tidak hanya menjaga kebebasan, tetapi juga memastikan demokrasi dapat menghadirkan kesejahteraan dan beradaptasi dengan perkembangan teknologi. “Demokrasi harus mampu menjawab tantangan baru di era teknologi digital,” ujarnya.
Peran Teknologi dalam Demokrasi
Perkembangan teknologi digital, menurut Nezar, telah membuka ruang partisipasi publik yang lebih luas melalui berbagai platform media sosial. Namun, di balik manfaat tersebut, media sosial juga menghadirkan tantangan baru terhadap kualitas demokrasi. “Media sosial dapat menjadi alat untuk memperluas partisipasi publik, tetapi juga bisa menimbulkan disinformasi dan polarisasi,” jelasnya.
Tantangan Era Post-Truth
Nezar juga menyoroti tantangan yang semakin kompleks di era post-truth, di mana sentimen lebih berpengaruh dibandingkan fakta dalam membentuk opini publik. “Kita harus waspada terhadap kondisi ini dan berupaya untuk mengedepankan fakta dalam setiap diskusi publik,” katanya.
Optimisme Terhadap Demokrasi Indonesia
Meski menghadapi berbagai tantangan, Nezar optimistis bahwa demokrasi Indonesia memiliki modal kuat untuk terus berkembang. “Mayoritas penduduk Indonesia saat ini adalah generasi yang tumbuh dalam iklim demokrasi,” ujarnya. Oleh karena itu, ia mengajak generasi muda untuk menjadikan perjalanan 28 tahun Reformasi sebagai pijakan dalam membangun perspektif baru tentang demokrasi yang lebih adaptif terhadap perkembangan zaman.
Nezar menekankan pentingnya demokrasi yang dinamis, yang mampu memanfaatkan kemajuan teknologi untuk memperluas partisipasi publik sekaligus mengurangi dampak negatif seperti disinformasi, polarisasi, dan konflik di ruang digital. Dengan demikian, demokrasi Indonesia dapat terus berkembang dan menjawab tantangan di era digital.





















