Headline.co.id, Pohuwato ~ Sebanyak 1.471 anak burung Maleo (Macrocephalon maleo) berhasil dilepasliarkan di Cagar Alam Panua, Kabupaten Pohuwato, Provinsi Gorontalo, Sabtu (11/7/2026). Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya melindungi satwa endemik Sulawesi yang terancam punah. Pelepasliaran ini juga menjadi bagian dari kampanye edukasi dan konservasi yang digagas oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) bersama mitra lingkungan.
Program Koordinator Burung Indonesia di Gorontalo, Marahalim Siagian, menjelaskan bahwa pelepasliaran ini merupakan langkah nyata dalam menghadapi tantangan kelestarian burung Maleo. “Tantangan utama bagi kelestarian Maleo saat ini meliputi degradasi habitat alami, gangguan pada lokasi peneluran, hingga maraknya perburuan telur,” ujarnya.
Peran Fasilitas Penetasan
Keberadaan fasilitas penetasan menjadi krusial dalam upaya menyelamatkan populasi burung Maleo. Kepala Resort Cagar Alam Panua, Tatang Abdullah, memaparkan bahwa sejak fasilitas penetasan dioperasikan pada tahun 2014, sebanyak 1.754 butir telur telah direlokasi dengan tingkat keberhasilan menetas mencapai 1.403 anakan. “Fasilitas ini sangat membantu dalam memastikan kelangsungan hidup spesies Maleo,” kata Tatang.
Dukungan Konservasi Berkelanjutan
Langkah pelepasliaran ini juga merupakan bentuk dukungan nyata terhadap program konservasi yang dijalankan oleh BKSDA dan mitra lingkungan. Dengan adanya dukungan ini, diharapkan populasi burung Maleo dapat terus meningkat dan terhindar dari ancaman kepunahan. Kegiatan ini juga diharapkan dapat menginspirasi masyarakat untuk lebih peduli terhadap pelestarian satwa endemik lainnya.
Pelepasliaran burung Maleo ini tidak hanya menjadi upaya konservasi, tetapi juga menjadi sarana edukasi bagi masyarakat sekitar. Dengan meningkatnya kesadaran akan pentingnya menjaga keanekaragaman hayati, diharapkan habitat alami burung Maleo dapat terus terjaga dan lestari.




















