Headline.co.id, Lumajang ~ Kopi robusta dari lereng Gunung Semeru, tepatnya di Desa Senduro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, kini berhasil menembus pasar internasional, termasuk Singapura dan Dubai. Rifki Medianto, seorang petani kopi setempat, memulai aktivitasnya sejak pagi dengan memetik buah kopi merah yang matang sempurna. Keputusan untuk tidak memetik buah yang belum matang menjadi kunci dalam menjaga kualitas kopi Senduro yang dikenal dengan aroma dan rasanya yang khas.
Perkebunan kopi di Senduro memanfaatkan sistem tumpang sari dengan tanaman seperti durian, nangka, dan vanili, yang membantu menjaga kelembapan dan kesuburan tanah. Menurut data Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Lumajang, produksi kopi robusta pada 2025 mencapai 1.832,29 ton, meningkat dari 1.458,73 ton pada 2024. Rifki juga mengembangkan Djodog Caffe sebagai pusat edukasi dan hilirisasi produk kopi lokal, menekankan pentingnya pengolahan dan pemasaran untuk meningkatkan nilai tambah.
Proses Pengolahan Kopi Senduro
Di Djodog Caffe, biji kopi kering disangrai hingga berwarna cokelat tua, menghasilkan aroma robusta yang khas sebelum digiling menjadi bubuk kopi. Rifki menegaskan bahwa menjaga kualitas adalah prioritas utama, meskipun harga kopi di pasar bisa berfluktuasi. “Kepercayaan pembeli dibangun dari mutu yang konsisten,” ujarnya.
Pemasaran dan Ekspansi Internasional
Produk kopi dari Djodog Caffe telah dipasarkan ke berbagai kota di Indonesia seperti Surabaya, Malang, dan Jakarta, serta diekspor ke negara-negara seperti Singapura, Malaysia, dan Uni Emirat Arab. Rifki menilai bahwa pengembangan pertanian tidak hanya bergantung pada produksi, tetapi juga pada kemampuan membangun merek dan kepercayaan pasar.
Inovasi dan Pengembangan Varietas Baru
Selain robusta, Rifki mulai mengembangkan kopi liberika yang memiliki karakteristik berbeda. Meskipun masih banyak petani yang belum memahami budidaya kopi liberika, Rifki optimis varietas ini dapat menjadi pilihan baru bagi pecinta kopi. “Jenisnya berbeda, rasanya berbeda, daunnya juga berbeda,” ungkapnya.
Rifki percaya bahwa masa depan kopi Senduro tidak hanya ditentukan oleh luas kebun atau harga jual, tetapi juga oleh kemauan petani untuk belajar dan berinovasi. Dengan ketelitian dan dedikasi para petani, kopi Senduro tidak hanya menjadi komoditas, tetapi juga simbol kepercayaan yang dirawat dari kebun di kaki Gunung Semeru hingga ke berbagai penjuru dunia.

















