Headline.co.id, Bekasi ~ Digital Edge mengumumkan dua tonggak penting dalam pengembangan CGK Campus, kampus pusat data berkapasitas 500 MW yang berlokasi di Bekasi, Jakarta Raya. Perusahaan menyelesaikan proses topping out atau penyelesaian struktur gedung pertama CGK1 serta menandatangani perjanjian baru dengan PT PLN (Persero) yang meningkatkan pasokan listrik yang telah diamankan menjadi 1,45 GW. Kesepakatan tersebut menjadi komitmen pasokan daya terbesar yang pernah diamankan untuk satu kampus pusat data di Indonesia dan ditujukan untuk mendukung kebutuhan infrastruktur hyperscale serta kecerdasan buatan (AI) yang terus berkembang.
Pasokan listrik sebesar 1,45 GW tersebut telah diamankan sejak tahap awal pengembangan proyek melalui skema 2 x 725 MVA yang didukung dua jalur suplai independen. Skema ini dirancang untuk menghadirkan sistem kelistrikan dual-feed yang andal guna mendukung beban kerja mission-critical, termasuk komputasi awan dan teknologi AI.
Dengan ketersediaan daya yang sepenuhnya terjamin untuk seluruh kawasan kampus, kerja sama antara Digital Edge dan PLN diharapkan mampu memperkuat fondasi kelistrikan yang dibutuhkan Indonesia dalam mendorong pertumbuhan ekonomi digital nasional. Ketersediaan pasokan listrik dalam skala besar dinilai menjadi faktor penting seiring meningkatnya adopsi AI yang membutuhkan kapasitas daya tinggi dan stabil.
Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, mengatakan pertumbuhan industri pusat data menjadi indikator semakin berkembangnya ekosistem digital Indonesia. Menurutnya, PLN berkomitmen menghadirkan pasokan listrik yang andal dan berkelanjutan untuk mendukung sektor strategis tersebut.
“Pertumbuhan industri data center mencerminkan semakin pesatnya perkembangan ekosistem digital di Indonesia. Melalui kolaborasi ini, PLN berkomitmen menghadirkan pasokan listrik yang andal dan berkelanjutan guna mendukung kebutuhan sektor strategis ini, sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat ekonomi digital di kawasan Asia Tenggara,” ujar Darmawan.
CGK Campus sendiri dibangun dengan total investasi mencapai US$4,5 miliar. Fasilitas ini dirancang khusus untuk menangani kebutuhan komputasi intensif dan beban kerja AI dengan infrastruktur yang tangguh serta efisien dalam penggunaan energi.
Dalam pengembangannya, kampus ini menargetkan annualized Power Usage Effectiveness (PUE) sebesar 1,25 yang termasuk terdepan di industri. Selain itu, fasilitas tersebut juga dirancang untuk memperoleh sertifikasi LEED, mengintegrasikan sistem daur ulang air, memanfaatkan energi terbarukan, serta menerapkan teknologi pendinginan cair untuk mendukung operasional AI berskala besar.
Keberadaan proyek ini semakin memperkuat posisi Indonesia dalam pengembangan kata data center indonesia yang saat ini menjadi salah satu sektor penopang transformasi digital nasional. Infrastruktur yang dibangun tidak hanya ditujukan untuk kebutuhan saat ini, tetapi juga dirancang agar mampu mengakomodasi pertumbuhan permintaan teknologi digital di masa mendatang.
CEO Digital Edge Indonesia, Stephanus Oscar, menilai pencapaian topping out CGK1 dan kepastian pasokan listrik tersebut menjadi bukti keyakinan perusahaan terhadap prospek ekonomi digital Indonesia dalam jangka panjang.
“Topping out CGK1, yang didukung oleh perjanjian pasokan listrik terbesar dalam sejarah pusat data Indonesia, mencerminkan keyakinan kami terhadap pertumbuhan digital jangka panjang negeri ini,” kata Stephanus Oscar.
“Bersama PLN, kami tidak sekadar membangun sebuah pusat data — kami sedang meletakkan fondasi agar Indonesia dapat bersaing di level tertinggi ekonomi AI global. CGK Campus dirancang untuk tumbuh seiring dengan ambisi bangsa,” lanjutnya.
Berdasarkan rencana pengembangan, gedung pertama CGK1 dijadwalkan mulai beroperasi pada kuartal IV tahun 2026. Sementara itu, gedung kedua dan ketiga akan menyusul masing-masing pada kuartal I dan kuartal II tahun 2027 sesuai dengan kebutuhan pelanggan yang telah berkomitmen menggunakan fasilitas tersebut.
Secara lokasi, CGK Campus berada kurang dari 15 kilometer dari klaster pusat data utama di kawasan Cikarang dan sekitar 40 kilometer dari fasilitas EDGE1 dan EDGE2 milik Digital Edge di pusat Jakarta. Posisi strategis tersebut memungkinkan akses berlatensi rendah ke kawasan bisnis utama sekaligus memperkuat konektivitas digital nasional.
Kampus pusat data ini juga akan didukung oleh jaringan serat optik dan aset telekomunikasi Indonet yang merupakan anak perusahaan Digital Edge di Indonesia. Infrastruktur jaringan tersebut mencakup jalur serat optik baru yang dibangun sepenuhnya di bawah tanah untuk meningkatkan keandalan dan ketahanan jaringan.
Dengan dukungan pasokan listrik besar, investasi miliaran dolar, serta infrastruktur telekomunikasi yang terintegrasi, proyek ini menjadi salah satu pengembangan kata data center indonesia terbesar yang diproyeksikan mendukung kebutuhan AI, komputasi awan, dan transformasi digital nasional dalam beberapa tahun mendatang.




















