Headline.co.id, Banda Aceh ~ Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal, secara resmi menutup Pentas Seni Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) PAUD XII yang diselenggarakan oleh Himpunan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Anak Usia Dini Indonesia (Himpaudi) Kota Banda Aceh. Acara tersebut berlangsung di Aula Lantai IV Gedung Mawardy Nurdin, Sekretariat Kota Banda Aceh, pada Minggu (10/5/2026).
Pentas seni ini mengusung tema “Bersama dalam Kolaborasi, Bergerak Dalam Kesetaraan” dan berlangsung dengan meriah serta penuh semangat kebersamaan. Pada penutupan acara, diumumkan pula para pemenang dari berbagai cabang lomba yang diikuti oleh guru dan tenaga kependidikan PAUD non formal se-Kota Banda Aceh.
Berbagai cabang lomba yang dipertandingkan lain lomba video kegiatan kolaborasi PC Himpaudi bersama Bunda PAUD Kecamatan, lomba drama kolosal pahlawan Aceh, lomba vokal solo lagu Aceh, serta lomba senam 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat. Dalam sambutannya, Illiza yang juga menjabat sebagai Bunda PAUD Banda Aceh, memberikan apresiasi kepada Himpaudi Kota Banda Aceh atas konsistensinya dalam menyediakan ruang kreativitas, silaturahmi, dan penguatan kapasitas bagi para pendidik PAUD.
“Kegiatan seperti ini bukan sekadar ajang hiburan atau unjuk kreativitas, tetapi juga menjadi ruang silaturahmi, penguatan mental, serta bentuk penghargaan bagi para pendidik anak usia dini yang selama ini telah bekerja dengan penuh dedikasi dan kasih sayang,” ujar Illiza.
Ia menegaskan bahwa pendidikan anak usia dini adalah fondasi utama dalam membentuk generasi masa depan yang cerdas, berkarakter, dan berakhlak mulia. “Guru PAUD adalah peletak dasar peradaban. Saya percaya, anak-anak Banda Aceh yang hebat di masa depan lahir dari tangan-tangan guru yang tulus, sabar, dan penuh cinta hari ini,” tambahnya.
Illiza juga menekankan bahwa Pemerintah Kota Banda Aceh berkomitmen untuk terus mendukung peningkatan kualitas layanan PAUD, termasuk penguatan kapasitas tenaga pendidik, penguatan kelembagaan, serta menciptakan lingkungan belajar yang aman dan ramah anak. Ia juga menyoroti pentingnya perlindungan anak, terutama setelah adanya kasus kekerasan terhadap anak di salah satu daycare di Banda Aceh yang menjadi perhatian publik.
“Tidak ada ruang bagi segala bentuk kekerasan terhadap anak di kota ini. Perlindungan anak harus menjadi prioritas utama dalam setiap layanan pendidikan dan pengasuhan,” tegasnya. Pemerintah Kota Banda Aceh telah mengambil langkah cepat dengan memberikan pendampingan kepada korban serta melakukan evaluasi terhadap penyelenggaraan layanan daycare, termasuk aspek perizinan, standar layanan, dan sistem pengawasan.
Ketua PD Himpaudi Kota Banda Aceh, Idayanti, menyatakan bahwa kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan semangat, kreativitas, kompetensi, serta rasa percaya diri para guru dan tenaga kependidikan PAUD non formal dalam berinovasi dan berkarya. “Himpaudi juga berharap adanya kebijakan dan perhatian yang lebih adil terhadap guru non formal, baik dalam hal kesejahteraan, kesempatan pengembangan kompetensi, perlindungan kerja, maupun penghargaan atas dedikasi dalam mendidik anak usia dini,” ujarnya.
Idayanti menambahkan bahwa Himpaudi Kota Banda Aceh terus berkomitmen untuk meningkatkan kompetensi pendidik PAUD melalui berbagai program pelatihan, pembinaan, workshop, diklat berjenjang, serta kegiatan peningkatan profesionalisme guru lainnya.
Acara tersebut juga dihadiri oleh Ketua Pokja Bunda PAUD Kota Banda Aceh Siti Hajar, Ketua PW Himpaudi Aceh Yulia Sari, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Banda Aceh Sulaiman Bakri, Plt Kepala DP3AP2KB Banda Aceh Tiara Sutari, para Bunda PAUD Kecamatan, serta guru dan tenaga kependidikan PAUD se-Kota Banda Aceh. (Riz)





















