Headline.co.id, Tasikmalaya ~ Video viral yang menampilkan aksi duel antar siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) di Kecamatan Padakembang, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, memicu keprihatinan publik, Selasa (29/4/2026). Insiden tersebut diduga melibatkan pelajar yang masih mengenakan almamater sekolah dan memperlihatkan praktik kekerasan di lingkungan pendidikan. Organisasi Kemasyarakatan Pemuda Ruang Dialektika Nusantara (RDN) Tasikmalaya menilai kejadian ini sebagai indikasi lemahnya pengawasan serta belum optimalnya pendidikan karakter di sekolah. Mereka mendesak adanya evaluasi menyeluruh untuk mencegah kejadian serupa terulang.
Ketua OKP RDN Tasikmalaya, Diki, menyatakan bahwa aksi duel tersebut menjadi cerminan kondisi yang memprihatinkan dalam dunia pendidikan, khususnya terkait pembinaan karakter siswa. Ia menegaskan bahwa sekolah seharusnya tidak hanya berfokus pada capaian akademik, tetapi juga berperan aktif dalam membentuk akhlak dan kedisiplinan peserta didik.
“Peristiwa ini adalah alarm keras bagi kita semua. Jika pengawasan melemah, potensi tindakan menyimpang akan semakin besar. Pihak sekolah, guru, dan orang tua harus lebih aktif bersinergi guna mencegah kejadian serupa terulang kembali,” ujar Diki.
Menurutnya, maraknya kekerasan di kalangan pelajar menunjukkan bahwa implementasi pendidikan karakter di institusi pendidikan formal belum berjalan optimal. Ia menekankan pentingnya menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan kondusif, sehingga siswa dapat berkembang tanpa tekanan maupun ancaman kekerasan.
RDN Tasikmalaya secara tegas mendorong pihak sekolah dan instansi terkait untuk segera melakukan evaluasi komprehensif. Langkah tersebut dinilai penting, terutama dalam memperkuat program pembinaan karakter serta meningkatkan pengawasan, baik di lingkungan sekolah maupun saat jam kepulangan siswa.
Selain itu, Diki juga mengajak seluruh elemen masyarakat, khususnya kalangan pemuda di wilayah Padakembang, untuk turut berperan dalam menciptakan lingkungan sosial yang positif. Ia berharap insiden ini dapat menjadi momentum refleksi bersama guna memperkuat nilai-nilai saling menghormati dan menumbuhkan budaya anti-kekerasan di kalangan pelajar.
Dengan adanya perhatian serius dari berbagai pihak, diharapkan kasus serupa tidak kembali terjadi dan dunia pendidikan dapat menjalankan fungsinya secara utuh, tidak hanya mencetak generasi cerdas, tetapi juga berkarakter dan berintegritas.





















