Headline.co.id, Jogja ~ Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Australian Catholic University (ACU) secara resmi meluncurkan Human Flourishing Center atau Pusat Penelitian Kesejahteraan Manusia pada Kamis (23/4) di Balai Senat, Gedung Pusat UGM. Pusat penelitian ini bertujuan untuk mengumpulkan informasi mengenai kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat yang melampaui indikator ekonomi dan material. Konsep ini mencakup dimensi kompleks seperti kesehatan fisik dan mental, hubungan sosial yang bermakna, tujuan hidup, serta pengembangan karakter dan kebijaksanaan.
Rektor UGM, Prof. Ova Emilia, menyambut baik pendirian pusat riset ini sebagai kolaborasi dua universitas. Ia menekankan bahwa universitas tidak hanya berperan dalam pengembangan ilmu dan pendidikan, tetapi juga dalam mewujudkan kesejahteraan manusia, kebaikan, dan inklusi sosial. Pendirian Human Flourishing Center ini dianggap sebagai langkah besar dalam membangun ekosistem penelitian kesejahteraan manusia di Indonesia dan Australia. “Upaya membangun kesejahteraan manusia membutuhkan dukungan berkelanjutan dari berbagai pihak, bukan hanya dari universitas sebagai mitra akademis, tetapi juga dari pemerintah, sektor swasta, komunitas, serta tokoh agama dan masyarakat. Semoga kolaborasi ini memberikan manfaat yang berarti, tidak hanya bagi Indonesia dan Australia, tetapi juga bagi komunitas global,” ujarnya.
Ova juga menambahkan bahwa pusat riset ini diharapkan dapat menggali tingkat kesejahteraan di Yogyakarta. Ia menyoroti bahwa meskipun tingkat pendapatan penduduk DIY termasuk yang terendah, ketangguhan dan indeks kebahagiaannya tinggi, sehingga dianggap sebagai paradoks sosial. “Proyek riset ini bukan hanya tentang pendidikan dan penelitian, namun berbasis komunitas,” ujarnya.
Salah satu tindak lanjut dari kerja sama ini adalah pembukaan program joint degree doktor (PhD) bersama UGM dan ACU untuk program studi Inter Religious Studies (IRS) di Sekolah Pascasarjana UGM. Ova mengungkapkan bahwa Indonesia adalah tempat di mana budaya dan berbagai hal membentuk manusia menjadi tangguh, sementara Australia memiliki hubungan dengan ilmu sains yang berkembang pesat. “Jadi itulah yang akan kami pelajari. Kami belajar dari apa yang menjadi praktik baik atau hal baik yang terjadi di lapangan. Jadi, kami tidak hanya melihat bahwa kesuksesan dan kesejahteraan ditentukan oleh angka,” pungkasnya.
Professor Zlatko Skrbis, Vice-Chancellor of the Australian Catholic University, menyampaikan apresiasinya terhadap seluruh pihak yang mendukung kerja sama ini. Dalam pidatonya, ia mengenang pesan dari mendiang Paus Fransiskus tentang bagaimana kemajuan pengetahuan dapat mengancam empati manusia. Oleh karena itu, pendidikan harus selalu dibersamai dengan nilai-nilai kebenaran.
Selain itu, Zlatko mengingatkan pentingnya menjaga keberagaman dalam perbedaan serta melihat banyak sektor dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat. “Paus mengingatkan bahwa kekuatan yang menjanjikan kemajuan juga bisa memicu eksklusi dan ketimpangan kekuasaan, di mana teknologi dapat mengurangi empati kita,” jelasnya.
Zlatko juga menjelaskan bahwa salah satu peran dari Human Flourishing Center ini adalah untuk membantu memahami dampak negatif dari kemajuan. Ia menyebutkan bahwa sering kali kita hanya berfokus pada kemajuan yang ada, tetapi mengesampingkan jarak yang ada pada mereka yang tidak terdampak. Hal itu yang berusaha dilihat melalui kerja sama ini, untuk mengatasi kesenjangan yang ada. “Kami benar-benar berusaha memahami pentingnya kesenjangan yang tercipta ketika kita tumbuh sebagai masyarakat, ketika kemajuan secara terukur menjadi lebih baik. Namun kemajuan itu sering kali meninggalkan sebagian orang,” jelasnya.
Naila Mazzucco, Southeast Asia Commissioner Victoria Government, turut mengungkapkan dukungannya atas proyek ini. Ia menyebutkan bahwa banyak universitas dari Victoria telah bekerja sama erat dengan UGM di berbagai bidang. “Dari sudut pandang Pemerintah Negara Bagian Victoria, ini adalah kemitraan yang sangat kami banggakan untuk didukung, dan kami menantikan untuk menjadi bagian dari perjalanan ini,” ujarnya.
Sementara Konsul Jenderal Republik Indonesia di Melbourne, Yohanes Jatmiko, mengungkapkan apresiasinya. Ia menilai bahwa human flourishing penting karena menangkap arti sebenarnya bagi individu dan masyarakat untuk berkembang utuh dan tidak sekadar bertahan hidup atau tumbuh secara ekonomi saja. Sebab, pertumbuhan ekonomi dapat memunculkan keterampilan dan motivasi yang mengarah pada usulan-usulan inovatif yang lebih produktif. “Kami melihat bahwa pusat riset ini merupakan sebuah platform strategis yang memperkuat kolaborasi Indonesia, memajukan pendidikan lintas disiplin, dan mendorong keterlibatan masyarakat,” ungkapnya.
Bernardino Moningka Vega, Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin), mengungkapkan bahwa perkembangan teknologi dan bisnis memang semakin maju, namun budaya adalah bagian yang tidak bisa dilepaskan begitu saja. “Tentu saja kita ingin PDB kita tumbuh, PDB per kapita kita tumbuh. Namun, di balik semua itu, dapatkah kita memberikan kontribusi dari dunia bisnis, sebuah paradigma baru, di mana pengembangan manusia di masyarakat, yang merupakan sebuah upaya, adalah bagian dari masyarakat, dan juga berkembang dengan pendekatan manusiawi, pendekatan inovasi berbasis manusia, yang terintegrasi di dalam semuanya,” pungkasnya.
Professor Abid Khan, Deputy Vice-Chancellor Research and Enterprise ACU, mengharapkan kerja sama ini bisa bermanfaat bagi banyak pihak. Apalagi pusat riset ini merepresentasikan komitmen bersama UGM dan ACU untuk bisa memahami secara lebih baik mengenai apa yang benar-benar membantu individu, komunitas, dan masyarakat untuk berkembang secara utuh.






















