Headline.co.id, Jakarta ~ Pemerintah Indonesia kini semakin proaktif dalam berkomunikasi dengan investor global, yang dinilai mulai memberikan dampak positif terhadap persepsi pasar. Namun, di tengah ketidakpastian global, kekuatan fundamental ekonomi domestik tetap menjadi faktor utama yang menentukan keberlanjutan kepercayaan investor.
Fakhrul Fulvian, Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, menyatakan bahwa langkah pemerintah melakukan engagement langsung dengan investor global, termasuk pertemuan dengan BlackRock di New York, adalah strategi yang tepat untuk menjembatani kesenjangan persepsi kondisi domestik dan pandangan investor internasional. Menurutnya, di tengah pasar yang semakin dipengaruhi oleh sentimen dan narasi, komunikasi yang tepat menjadi instrumen penting. “Pendekatan langsung efektif untuk memperbaiki narrative gap. Namun, ini bukan pengganti fundamental. Konsistensi kebijakan dan eksekusi di lapangan tetap menjadi kunci,” ujar Fakhrul dalam keterangannya kepada , Rabu (15/4/2026).
Fakhrul melihat adanya perubahan strategi komunikasi pemerintah dari pola reaktif menjadi lebih proaktif dan berorientasi ke depan. Pendekatan ini dinilai sejalan dengan praktik global yang dilakukan oleh institusi keuangan besar seperti Goldman Sachs, di mana pengelolaan ekspektasi pasar menjadi bagian integral dari kebijakan.
Selain itu, meningkatnya permintaan terhadap Surat Berharga Negara (SBN) hingga Rp78,44 triliun mencerminkan kombinasi faktor eksternal dan domestik. Dalam jangka pendek, perbaikan sentimen global, khususnya meredanya tensi geopolitik Amerika Serikat dan Iran, mendorong kembalinya aliran dana ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. “Ini menunjukkan fase risk-on di pasar global. Namun perlu dibedakan sentimen jangka pendek dan kepercayaan struktural. Momentum ini harus dimanfaatkan untuk menarik sticky capital melalui reformasi berkelanjutan dan pendalaman pasar keuangan,” jelasnya.
Mengenai target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,5 persen pada kuartal I 2026, Fakhrul menilai angka tersebut masih realistis. Beberapa faktor pendukung lain efek basis rendah dari periode sebelumnya, akselerasi belanja pemerintah yang tercermin dari pelebaran defisit APBN, serta mulai pulihnya indikator sektor riil.
Indikator seperti penjualan ritel dan PMI manufaktur, lanjutnya, menunjukkan sinyal perbaikan aktivitas ekonomi domestik. Hal ini menjadi indikasi bahwa mesin pertumbuhan mulai kembali bergerak, meski tetap perlu mewaspadai tekanan eksternal.
Dalam lanskap global yang semakin kompleks dan narrative-driven, Fakhrul menekankan pentingnya keseimbangan komunikasi kebijakan dan kekuatan fundamental ekonomi. “Persepsi memang penting dalam jangka pendek. Namun pada akhirnya, pasar akan kembali pada realita. Kredibilitas kebijakan dan kekuatan fundamental domestik akan menjadi penentu utama,” pungkasnya.






















