Headline.co.id, Belu ~ Atambua – Pemerintah Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, memperkuat sinergi lintas sektor untuk mempercepat pencegahan dan penurunan stunting. Langkah tersebut dibahas dalam kegiatan Sinergitas Lintas Sektor dalam Upaya Pencegahan dan Penurunan Stunting di Kabupaten Belu, Rabu (7/10/2026). Kegiatan yang berlangsung di Aula Kantor Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kabupaten Belu itu dibuka Wakil Bupati Belu, Vicente Hornai Gonsalves. Sinergi tersebut ditempuh melalui penguatan koordinasi, penyelarasan program, kolaborasi antarpemangku kepentingan, serta dukungan terhadap ekonomi keluarga prasejahtera.
Pertemuan itu melibatkan jajaran organisasi perangkat daerah (OPD) terkait, Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS), para camat dan lurah, pimpinan dunia usaha, perwakilan BUMN dan BUMD, serta organisasi profesi di Kabupaten Belu.
Stunting di Belu membutuhkan gerakan terpadu
Dalam kegiatan tersebut, Vicente didampingi Sekretaris DP3AP2KB Kabupaten Belu, Zakarias Hale. Kehadiran berbagai unsur itu diarahkan untuk memperkuat koordinasi dan menyelaraskan program dalam upaya mempercepat penurunan stunting di Kabupaten Belu.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Vicente menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam upaya pencegahan dan penurunan stunting. Menurut dia, keterlibatan berbagai pemangku kepentingan menunjukkan adanya komitmen bersama terhadap masa depan anak-anak di Kabupaten Belu.
“Atas nama Pemerintah Kabupaten Belu, saya menyampaikan terima kasih yang mendalam kepada seluruh pemangku kepentingan yang hadir—mulai dari OPD, Tim Percepatan Penurunan Stunting, para camat dan lurah, dunia usaha, BUMN-BUMD, hingga organisasi profesi. Kehadiran ini merupakan bukti nyata komitmen dan kepedulian kita bersama terhadap masa depan anak-anak kita,” ungkap Vicente.
Ia mengingatkan, stunting tidak boleh dipandang hanya sebagai persoalan pertumbuhan fisik anak. Kondisi tersebut juga dapat menimbulkan dampak jangka panjang terhadap kualitas sumber daya manusia, termasuk perkembangan kognitif, daya tangkap, ketahanan tubuh, dan produktivitas generasi mendatang.
Karena itu, penanganan stunting, menurut Vicente, membutuhkan gerakan terpadu yang melibatkan seluruh elemen masyarakat. Sektor swasta dan organisasi profesi juga dinilai perlu mengambil bagian dalam upaya tersebut.
Orang tua asuh untuk anak terindikasi stunting
Dalam forum itu, Vicente mengajak masyarakat dan pihak yang memiliki kemampuan ekonomi untuk ikut berpartisipasi dalam gerakan kepedulian terhadap anak-anak yang terindikasi mengalami stunting.
Salah satu bentuk partisipasi yang disampaikan adalah program orang tua asuh. Program tersebut menjadi bagian dari dorongan agar kepedulian terhadap anak-anak yang terindikasi mengalami stunting dapat melibatkan masyarakat secara lebih luas.
Selain mengajak masyarakat, Wakil Bupati Belu juga meminta kepala desa dan lurah mengarahkan program serta anggaran desa untuk mendukung peningkatan ekonomi keluarga prasejahtera.
Penguatan ekonomi keluarga dinilai menjadi salah satu langkah penting untuk menekan angka stunting. Upaya tersebut sekaligus diarahkan untuk mendorong pencapaian target nol stunting atau zero stunting di Kabupaten Belu.
Pendampingan dan evaluasi diperlukan
Vicente menekankan bahwa pencapaian target tersebut tidak cukup dilakukan melalui perencanaan program. Pelaksanaannya membutuhkan pendampingan, evaluasi, dan kerja nyata dari para pemangku kepentingan, terutama di tingkat kecamatan, desa, dan kelurahan.
“Proses ini membutuhkan pendampingan, evaluasi, dan kerja nyata. Saya berharap para camat, desa, dan lurah benar-benar menjalankan program yang berorientasi pada peningkatan ekonomi masyarakat kurang mampu agar kita bisa bersama-sama mencapai target Zero Stunting,” tegasnya.
Penguatan ekonomi keluarga prasejahtera diharapkan dapat berjalan seiring dengan upaya pencegahan dan penurunan stunting. Dengan demikian, program serta anggaran desa tidak hanya mendukung penanganan persoalan kesehatan dan pertumbuhan anak, tetapi juga membantu meningkatkan kondisi ekonomi masyarakat kurang mampu.
Pemkab Belu berharap sinergi pemerintah, dunia usaha, BUMN dan BUMD, organisasi profesi, pemerintah desa, serta masyarakat dapat membuat upaya pencegahan dan penurunan stunting berjalan lebih efektif.
Kolaborasi lintas sektor itu diarahkan untuk mewujudkan generasi yang sehat, cerdas, dan berdaya saing, sekaligus mendukung pencapaian target Zero Stunting di Kabupaten Belu.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.


















