Headline.co.id ~ International Grand Imams Conference (IGIC) 2026 digelar pada 25–28 September 2026 di Masjid Istiqlal dan Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, untuk mempertemukan para imam besar dari berbagai negara. Konferensi ini diarahkan untuk memperkuat peran agama dalam membangun perdamaian dunia, toleransi, dan harmoni masyarakat di tengah konflik serta persoalan kemanusiaan yang masih berlangsung di sejumlah wilayah. Ketua Steering Committee IGIC 2026, Irjen Pol Dr. Haji Muhammad Sabilul Alif, mengatakan forum tersebut mendorong masjid menjadi ruang pendidikan, sosial, kemanusiaan, sekaligus pusat diplomasi keagamaan.
Menurut Sabilul, IGIC 2026 digagas karena agama dinilai dapat mengambil peran lebih besar dalam mencari solusi atas konflik dan ketegangan global. Para imam besar yang hadir diharapkan menyampaikan pesan bersama tentang pentingnya perdamaian dan harmoni dari lingkungan masing-masing.
“Situasi dunia saat ini masih banyak terjadi konflik, masih banyak terjadi ketegangan, dan masih banyak isu-isu kemanusiaan. Oleh karena itu, kita hadir bahwa agama menjadi salah satu solusi,” ujar Sabilul dalam diskusi di salah satu stasiun televisi swasta, Senin (28/9/2026).
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
IGIC 2026 Bawa Tiga Gagasan Utama
Sabilul menyebut IGIC 2026 membawa tiga gagasan utama, yaitu masjid harmoni, religious diplomacy, dan global peace. Ketiga gagasan tersebut menjadi kerangka untuk memperluas kontribusi tokoh agama dalam membangun perdamaian, baik di tingkat masyarakat maupun internasional.
Konsep masjid harmoni menempatkan masjid tidak hanya sebagai tempat ibadah. Masjid juga diproyeksikan menjadi ruang pendidikan, pengembangan ilmu pengetahuan, kegiatan sosial, pelayanan kemanusiaan, dan pembangunan kehidupan masyarakat.
“Ke depan perspektif ini kita tambah bahwa masjid sebagai pusat corong perdamaian dunia dan toleransi,” kata Sabilul.
Ia menjelaskan, fungsi sosial masjid memiliki akar sejarah dalam peradaban Islam. Pada masa Rasulullah, masjid tidak hanya digunakan untuk ibadah, tetapi juga menjadi pusat pendidikan, kegiatan masyarakat, pelayanan kemanusiaan, serta tempat menerima delegasi dari berbagai wilayah.
Melalui IGIC, fungsi tersebut hendak diperluas dalam konteks global. Para imam besar diharapkan membentuk jejaring yang secara berkelanjutan menyuarakan perdamaian dan toleransi dari mimbar serta lingkungan masyarakat masing-masing.
“Bayangkan kalau nantinya para grand imam besar ini dari mimbar-mimbar mereka menyuarakan perdamaian, harmony and peace, maka dampaknya sangat luar biasa,” ujarnya.
Indonesia Gunakan Diplomasi Keagamaan
Indonesia dipilih sebagai penggagas konferensi karena dinilai memiliki pengalaman dalam menjaga persatuan di tengah keberagaman. Selain itu, Indonesia memiliki populasi Muslim yang besar dan pengalaman mengelola kehidupan masyarakat yang majemuk.
Sabilul mengatakan IGIC menjadi bagian dari upaya Indonesia memperkuat peran sebagai aktor perdamaian melalui diplomasi keagamaan. Pendekatan tersebut dilakukan dengan melibatkan tokoh agama dan imam besar dari berbagai negara untuk membangun satu suara mengenai perdamaian dunia.
“Ini adalah bagian soft power diplomasi, yaitu religious diplomacy,” katanya.
Ia berharap pesan yang dibangun dalam konferensi tidak berhenti setelah kegiatan selesai. Para imam diharapkan meneruskan pesan tersebut melalui peran mereka di tengah masyarakat, sehingga masjid dapat menjadi ruang yang mempertemukan berbagai kelompok serta memperkuat toleransi dan solidaritas kemanusiaan.
Jejaring para imam juga diharapkan dapat membantu menghadapi berbagai persoalan kemanusiaan. Menurut Sabilul, para pemimpin agama memiliki pengaruh langsung terhadap masyarakat melalui pendidikan keagamaan dan khutbah.
Penguatan Kapasitas Imam
Selain mendorong diplomasi keagamaan, IGIC diarahkan untuk mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia, khususnya melalui penguatan kapasitas para imam. Sabilul mengungkapkan, sejumlah negara telah menyampaikan kebutuhan terhadap imam.
Karena itu, Indonesia ingin mengembangkan pelatihan dan pendidikan bagi para imam agar dapat berkontribusi di negara-negara yang membutuhkan. Upaya tersebut juga diharapkan memperluas jejaring diplomasi Indonesia melalui peran imam dalam kehidupan masyarakat internasional.
“Para imam ini kita latih, untuk nantinya kita didik dan untuk nantinya dikirim ke negara-negara. Banyak beberapa negara yang minta,” ujar Sabilul.
Penguatan kapasitas itu menjadi salah satu bentuk konkret dari gagasan religious diplomacy yang dibawa IGIC. Melalui peningkatan kemampuan para imam, pesan perdamaian diharapkan dapat disampaikan secara lebih luas dan berkelanjutan.
Dari Masjid untuk Perdamaian Dunia
Sabilul menegaskan, pesan utama IGIC adalah menjadikan masjid sebagai salah satu titik awal untuk membangun perdamaian dan toleransi. Ia berharap pertemuan para imam besar tersebut menghasilkan jejaring yang terus berjalan dan memperkuat peran tokoh agama dalam menghadapi persoalan kemanusiaan.
“Dari masjid kita bangun sebuah perdamaian dunia, dari masjid kita bangun toleransi,” katanya.
Ia menambahkan, tujuan akhir konferensi adalah mewujudkan perdamaian dunia melalui keterlibatan agama dan para pemimpin keagamaan. “Utamanya adalah muaranya adalah global peace, perdamaian dunia. Kita harapkan itu bisa terwujud, karena itu harapan kita semua di seluruh dunia,” pungkasnya.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.

















