Headline.co.id, Malang ~ Program Partner Akselerasi Penurunan Stunting di Indonesia (PASTI) di Jawa Timur berakhir setelah berlangsung pada 2023–2026, tetapi praktik baiknya akan terus diterapkan dan diperluas. Pemerintah Provinsi Jawa Timur menyiapkan keberlanjutan program melalui penguatan Pos Gizi DASHAT (Dapur Sehat Atasi Stunting), alokasi Dana Alokasi Khusus (DAK), serta integrasi pembelajaran berbasis data ke dalam kebijakan daerah. Evaluasi di Kabupaten Malang dan Ngawi menunjukkan 1.027 dari 1.146 anak berisiko stunting atau sekitar 90 persen berhasil mencapai status gizi normal. Capaian itu disampaikan dalam Pertemuan Diseminasi Hasil Akhir Program PASTI di Ruang LIBI 1 Kantor BKKBN Jawa Timur, Kamis (27/8/2026).
Program PASTI menempatkan intervensi Pos Gizi DASHAT sebagai salah satu pendekatan utama dalam penanganan stunting. Melalui intervensi tersebut, proporsi baduta berstatus gizi normal meningkat dari 88,70 persen pada 2025 menjadi 90,60 persen pada 2026.
Capaian Program PASTI di Jawa Timur
Program Lead PASTI Jawa Timur dari Yayasan Cipta, Christine Lora Egaratri, mengatakan keberhasilan evaluasi di Kabupaten Malang dan Ngawi berkaitan dengan tingginya keterlibatan orang tua dan pengasuh baduta dalam memahami materi Komunikasi Perubahan Perilaku.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
“Keberhasilan ini tidak terlepas dari tingginya partisipasi orang tua dan pengasuh baduta yang mencapai 98 persen dalam memahami materi Komunikasi Perubahan Perilaku,” ujar Lora dalam pertemuan tersebut.
Secara kumulatif, Program PASTI telah menjangkau 1.155 baduta, 2.088 remaja, serta 5.948 pengasuh dan keluarga. Selain itu, sebanyak 1.800 remaja terlibat dalam kampanye perubahan perilaku.
Keterlibatan remaja juga diperkuat melalui peran Duta GenRe Desa. Mereka membantu membawa aspirasi mengenai kesehatan remaja ke dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan Desa (Musrenbangdes).
BKKBN Jawa Timur telah mengadopsi pendekatan Pos Gizi DASHAT ke 11 kabupaten/kota. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas praktik yang dinilai telah memberikan hasil dalam penanganan stunting.
Kolaborasi Menjadi Kunci
Nasional Program Manager PASTI, Hotmianida Panjaitan, menilai kolaborasi antarlembaga menjadi faktor penting dalam pelaksanaan program yang berjalan hampir empat tahun tersebut. Menurut dia, penanganan stunting tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja.
“Selama perjalanan Program PASTI ini kami belajar bahwa tidak ada satu pihak pun yang dapat bekerja sendiri. Keberhasilan ini berkat kolaborasi antarlembaga, baik pemerintah, tenaga kesehatan, kader TPK, pemerintah desa, hingga masyarakat yang saling melengkapi,” katanya.
Hotmianida mengatakan keberhasilan program tidak hanya diukur dari capaian selama masa pendampingan. Kemampuan pemerintah daerah untuk mempertahankan dan mengembangkan praktik baik setelah program selesai juga menjadi bagian penting dari keberlanjutan penanganan stunting.
“Kami berharap, berbagai praktik baik yang telah lahir, termasuk penguatan TPK, edukasi keluarga, pemanfaatan data, serta kolaborasi lintas sektor dapat terus menjadi bagian dari upaya bersama,” ujarnya.
Pengetahuan PASTI Dialihkan ke Pemerintah Daerah
Berbagai pengetahuan dan pengalaman selama pendampingan diserahkan kepada Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui dokumen, panduan, dan media legacy Program PASTI.
Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Timur, Shodiqin, menegaskan bahwa penyerahan tersebut bukan sekadar kegiatan administratif. Menurut dia, proses itu merupakan bagian dari alih pengetahuan agar praktik yang telah dijalankan tetap digunakan setelah pendampingan berakhir.
“Saya memandang proses serah terima ini bukan sekadar kegiatan administratif, tetapi bagian dari proses alih pengetahuan. Apa yang telah dilakukan selama pendampingan Program PASTI tidak boleh berhenti ketika program selesai,” imbuhnya.
BKKBN Jawa Timur berkomitmen menjaga keberlanjutan program melalui alokasi DAK. Organisasi perangkat daerah (OPD) juga didorong mengintegrasikan pembelajaran berbasis data ke dalam kebijakan daerah.
Dalam pelaksanaan program sejak 2023, BKKBN Jawa Timur mengapresiasi kolaborasi Tanoto Foundation, PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN), PT Bank Central Asia Tbk (BCA), Wahana Visi Indonesia, dan Yayasan Cipta dalam pemberdayaan masyarakat.
Berakhirnya pendampingan Program PASTI menjadi tahap lanjutan bagi Pemerintah Provinsi Jawa Timur untuk memastikan praktik baik tidak berhenti sebagai laporan dan dokumentasi. Capaian intervensi di lapangan diharapkan menjadi pijakan untuk memperkuat upaya penurunan stunting secara berkelanjutan di Jawa Timur.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.


















