Headline.co.id, Sleman ~ Sekolah Lansia Wredha Mulya (SALWA) Angkatan ke-2 resmi dibuka di Aula Sasana Wredha Mulya, Sendowo, Sinduadi, Kapanewon Mlati, Kabupaten Sleman, Kamis (24/9/2026). Sebanyak 40 perempuan berusia 62 hingga 79 tahun mengikuti program pendidikan nonformal tersebut. Sekolah Lansia SALWA digelar untuk menyediakan ruang belajar dan interaksi sosial agar para lansia tetap sehat, mandiri, serta bermartabat. Proses pembelajaran berlangsung selama dua semester melalui pertemuan rutin dua kali setiap bulan.
Pembukaan angkatan kedua itu mengusung tema “Belajar Tiada Batas, Bahagia di Usia Emas”. Program ini dirancang sebagai wadah bagi para lansia untuk terus mengembangkan pengetahuan, menjaga kesehatan mental, memperluas silaturahmi, dan tetap berdaya guna di lingkungan keluarga maupun masyarakat.
Sekolah Lansia SALWA Siapkan Kurikulum Sesuai Kebutuhan Lansia
Sekolah Lansia Wredha Mulya merupakan unit pelayanan sosial binaan Yayasan Wredha Mulya. Lembaga tersebut menyusun kurikulum yang disesuaikan dengan dinamika kehidupan pada usia senja, sehingga materi pembelajaran tidak hanya berisi teori kesehatan, tetapi juga menyentuh persoalan yang dihadapi para lansia dalam kehidupan sehari-hari.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Koordinator SALWA, Suripto, menyebut peserta didik dalam program ini tidak dipanggil siswa atau mahasiswa. Mereka disebut “mahawredha”, sebutan yang digunakan untuk menghargai fase kehidupan senior yang sedang dijalani para peserta.
Menurut Suripto, antusiasme terhadap program tersebut terus berlanjut setelah angkatan pertama mencatat hasil positif. Sebanyak 27 dari 35 mahawredha angkatan pertama berhasil mengikuti prosesi wisuda.
Pada angkatan kedua, seluruh peserta yang hadir merupakan perempuan. Usia peserta termuda tercatat 62 tahun, sedangkan peserta tertua berusia 79 tahun. Rentang usia tersebut menjadi bagian dari keberagaman pengalaman yang dibawa para peserta selama mengikuti kegiatan SALWA.
Perkuliahan Berlangsung 24 Pertemuan
Kepala Sekolah SALWA, Sugiyanto, menjelaskan perkuliahan dirancang dalam dua semester dengan 24 kali pertemuan rutin. Kegiatan belajar-mengajar dilaksanakan dua kali dalam sebulan, yaitu setiap Kamis pada minggu kedua dan keempat.
Setiap pertemuan berlangsung pukul 09.00 hingga 11.00 WIB. Setelah menyelesaikan 24 kali pertemuan, para peserta akan mengikuti prosesi wisuda pada pertemuan ke-25.
Untuk mendukung proses belajar, SALWA melibatkan 19 pengajar. Para pengajar memberikan materi yang mencakup berbagai aspek kehidupan lansia, mulai dari strategi menghadapi cucu dan menantu, manajemen tidur, gizi, psikologi, religi, hukum keluarga dan waris, hingga terapi spiritual.
Peserta juga mendapatkan materi olahraga berupa senam lansia. Materi tersebut melengkapi pembelajaran yang diarahkan untuk membantu peserta menjaga kebugaran dan menjalani kehidupan sehari-hari secara lebih mandiri.
Peserta Dibekali Literasi Digital dan Muatan Budaya
Kurikulum Sekolah Lansia SALWA turut merespons perubahan zaman melalui materi keterampilan modern. Para mahawredha diperkenalkan dengan literasi digital, pemasaran daring, media sosial, serta pemanfaatan layanan mobile banking.
Pembekalan tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas kemampuan peserta dalam menggunakan layanan dan teknologi yang semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari. Selain keterampilan modern, SALWA juga memasukkan muatan lokal bernuansa budaya.
Materi budaya itu meliputi pemaknaan tembang Jawa dan filosofi “Dadi Wong Jowo”. Dengan demikian, pembelajaran di SALWA memadukan pengetahuan praktis, kesehatan, kehidupan keluarga, penguatan spiritual, teknologi, serta pemahaman terhadap budaya lokal.
Program SALWA tidak hanya berfungsi sebagai tempat belajar. Kegiatan tersebut juga menjadi ruang interaksi sosial bagi para lansia untuk menjaga hubungan antarpeserta, membangun kebahagiaan, dan mempertahankan semangat hidup.
Melalui rangkaian kegiatan selama dua semester, Sekolah Lansia Wredha Mulya diarahkan untuk membantu para peserta tetap sehat, mandiri, dan bermartabat. Para mahawredha juga diharapkan tetap dapat berperan di tengah keluarga dan masyarakat.
Sumber: MC Kab. Sleman/KIM Pijar Mlati/Y. Edy Setyoharjo.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.


















