Headline.co.id, Jakarta ~ Kementerian Pariwisata (Kemenpar) mendorong industri pariwisata Indonesia mengembangkan experiential tourism untuk menjawab perubahan preferensi wisatawan yang kini mencari pengalaman autentik, personal, dan bermakna. Dorongan itu disampaikan Deputi Bidang Pemasaran Kemenpar Ni Made Ayu Marthini dalam diskusi Indonesia Tourism & MICE Outlook (ITMO) 2027 bertema “Membangun Nilai Baru Pariwisata Indonesia Melalui Pengalaman” di Jakarta, Kamis (24/9/2026). Menurut Ni Made, perubahan tersebut perlu direspons melalui penyusunan paket wisata, strategi pemasaran, dan pengembangan destinasi yang tidak berhenti pada kunjungan ke suatu lokasi. Pengembangan pengalaman wisata juga dinilai dapat memperkuat aktivitas ekonomi lokal dengan menghubungkan destinasi, budaya, masyarakat, pelaku usaha, dan industri perhotelan.
Ni Made mengatakan tren experiential tourism semakin menguat setelah pandemi Covid-19. Perubahan itu berkaitan dengan meningkatnya perhatian wisatawan terhadap kesehatan, kebugaran, kesejahteraan, serta pengalaman yang memiliki makna personal.
“Namanya tren kita harus agile. Kita harus adaptif, kita harus ikut ke dalam tren tersebut karena dunia kita, pariwisata, adalah dunia hospitality,” kata Ni Made.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Ia menyebut perubahan preferensi tersebut terutama terlihat pada wisatawan generasi Z dan milenial. Berdasarkan kajian yang dipaparkannya, sekitar 52 persen wisatawan Gen Z melakukan perjalanan untuk mencari pengalaman.
“Mereka mencari meaning, arti. Apa sih? Kita berwisata itu harus ada artinya,” ujarnya.
Experiential Tourism Menyasar Pengalaman yang Lebih Dalam
Menurut Ni Made, perubahan perilaku wisatawan menuntut pelaku industri mengubah cara mengemas produk pariwisata. Paket wisata tidak cukup hanya menawarkan kunjungan ke sejumlah destinasi, tetapi juga perlu menghadirkan pengalaman yang menghubungkan wisatawan dengan sejarah, budaya, masyarakat, kuliner, kerajinan, dan kehidupan lokal.
Kunjungan ke Candi Borobudur dan Prambanan, misalnya, dapat dikembangkan tidak hanya sebagai aktivitas melihat bangunan bersejarah. Wisatawan juga dapat diajak memahami berbagai unsur yang membentuk pengalaman di sekitar destinasi tersebut.
“Sekarang Gen Z atau yang baru ya, experiential, beyond ordinary,” kata Ni Made.
Kemenpar telah menjalankan kampanye Go Beyond Ordinary untuk mendorong pengembangan pengalaman wisata yang lebih beragam. Kampanye ini berbeda dari Wonderful Indonesia yang merupakan merek pariwisata nasional.
Go Beyond Ordinary diarahkan untuk mengajak industri menerjemahkan potensi destinasi menjadi pengalaman yang relevan dengan kebutuhan wisatawan. Dalam wisata petualangan, misalnya, pendakian gunung tidak hanya diposisikan sebagai aktivitas mencapai puncak, tetapi dapat dipadukan dengan pengalaman alam, budaya, kuliner, komunitas, dan cerita lokal.
“Ketika menjual paket wisata buat Gen Z, bukan hanya naik Gunung Rinjani, tapi beyond itu apa? Beyond nature-nya yang dilihat apa, setelah itu culture-nya,” tuturnya.
Potensi Destinasi Perlu Diolah Menjadi Produk
Ni Made menilai tantangan utama industri bukan lagi sekadar mengenali potensi destinasi, melainkan menerjemahkannya menjadi produk dan pengalaman yang dapat dinikmati wisatawan. Karena itu, pelaku usaha perlu memahami kebutuhan pasar melalui survei dan riset.
“Kalau target pasar Anda adalah Gen Z, surveilah ke Gen Z, apa yang mereka suka,” katanya.
Media sosial dapat digunakan untuk membaca tren sekaligus memasarkan pengalaman wisata. Namun, Ni Made mengingatkan agar promosi tidak berubah menjadi konten yang terlalu umum atau klise.
“Sekarang yang dicari adalah yang khusus,” ujarnya.
Ia juga menegaskan pengembangan experiential tourism harus berjalan beriringan dengan prinsip pariwisata yang bertanggung jawab. Pengembangan wisata tidak boleh hanya mengejar tren dan jumlah kunjungan, tetapi juga harus memperhatikan penghormatan terhadap budaya masyarakat setempat serta kelestarian lingkungan.
“Tidak harus mahal. Mungkin paket boleh mahal, tapi kalau dia tidak menghargai budaya, itu bukan quality tourism,” tegasnya.
Menurut Ni Made, harga paket yang tinggi tidak otomatis menjadikan sebuah perjalanan sebagai pariwisata berkualitas apabila aktivitas wisatawan merusak lingkungan atau melanggar aturan.
“Bukan hanya karena tren, bukan hanya karena lagi ngetren, kita lakukan dan kita oke-oke saja,” katanya.
Selain alam, ia menekankan budaya dan hubungan antarmanusia sebagai unsur penting dalam membangun pengalaman wisata. Ni Made merujuk Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan yang menempatkan budaya sebagai salah satu basis pengembangan pariwisata Indonesia.
“Human connection, ini budaya. Undang-Undang Pariwisata 2009 Nomor 10 memandatkan pariwisata Indonesia berdasarkan budaya. That’s our asset,” ujarnya.
Pengembangan Garut Dorong Perajin dan Usaha Lokal
Ketua Umum Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) Hariyadi Sukamdani dalam diskusi yang sama memaparkan Garut sebagai contoh pengembangan pengalaman wisata. Pengembangan tersebut diarahkan untuk membuat wisatawan tinggal lebih lama, meningkatkan belanja, dan mengurangi leakage atau kebocoran ekonomi dari aktivitas pariwisata.
Garut dinilai memiliki infrastruktur, potensi budaya wisata, serta sejarah panjang sebagai destinasi. Sejumlah tokoh dunia pernah mengunjungi daerah itu sehingga cerita sejarah dapat menjadi bagian dari pengalaman wisata.
Selama ini, citra Garut lebih banyak dikenal melalui dodol. Karena itu, pengembangan selanjutnya diarahkan untuk memperkuat potensi kerajinan kulit di kawasan Sukaregang. Para perajin memperoleh pelatihan untuk meningkatkan keterampilan dan inovasi desain, termasuk melalui desainer dari pusat industri kulit di Prancis dan Italia.
“Kita upskill dia dengan kita mengundang desainer dari pusat-pusat leather di Prancis dan di Italia,” ujar Hariyadi.
Pelatihan tersebut diarahkan agar perajin tidak sekadar meniru produk yang sudah ada, tetapi mampu menghasilkan desain sendiri yang menjadi ciri khas.
Hariyadi memaparkan, jumlah pengunjung Garut dalam sembilan bulan 2026 mencapai sekitar 97.789 orang, dibandingkan sekitar 44.700 orang pada periode yang sama tahun sebelumnya. Total kunjungan sepanjang 2025 tercatat sekitar 77.600 orang.
Peningkatan juga terlihat pada kunjungan hari kerja atau weekdays. Menurut Hariyadi, pola tersebut menunjukkan produk dan promosi dapat diarahkan untuk mengisi periode yang selama ini tidak terlalu ramai. Pola kunjungan itu turut menjadi pertimbangan industri perhotelan dalam melihat peluang investasi baru di Garut.
Pengembangan tersebut diharapkan meningkatkan omzet perajin kulit, kunjungan wisatawan pada hari kerja, inovasi desain, dan lapangan kerja. Aktivitas wisata juga berdampak pada sektor makanan dan minuman serta usaha masyarakat lainnya.
“Dan meningkatkan nilai tambah pariwisata Garut. Ya, jadi Garut enggak dikenal hanya dodol Garut, tapi juga punya leather,” kata Hariyadi.
Hotel Bergantung pada Pengalaman Destinasi
Pendiri dan CEO ARTOTEL Group Erastus Radjimin mengatakan pertumbuhan industri perhotelan berkaitan erat dengan pengembangan destinasi dan pengalaman lokal. Menurut dia, hotel tidak dapat mengembangkan bisnis secara sendiri tanpa dukungan pengalaman destinasi di sekitarnya.
“Menurut saya kita enggak pernah bisa sendirian. Kita di satu tempat, kita perlu punya local destination experience,” ujarnya.
Erastus membagi pengalaman dalam industri hotel ke dalam tiga aspek, yakni alam, fasilitas atau produk, serta pelayanan. Pengalaman berbasis alam relatif sulit direplikasi karena setiap destinasi memiliki karakteristik geografis berbeda. Sementara itu, fasilitas seperti wellness, olahraga, dan hiburan dapat dibangun di berbagai tempat dengan investasi yang memadai.
Namun, pelayanan memiliki tantangan tersendiri karena bergantung pada sumber daya manusia.
“Yang paling susah direplikasi sebenarnya service. Karena kita bisnis orang, hotel itu kan bisnis orang,” katanya.
Ia menilai pengembangan destinasi seperti Garut dapat menciptakan traffic dan minat sosial yang menjadi pertimbangan bagi pelaku industri perhotelan untuk berinvestasi.
“Hotel will be not the last, tapi not the first yang pasti. Karena kita perlu adanya traffic, kita perlu adanya social interest,” ujarnya.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.



















