Headline.co.id ~ Headline.co.id, Jakarta (Kemenag) — Direktorat Jenderal Pesantren Kementerian Agama akan menyelenggarakan Lomba Santrivision 2026 sebagai bagian dari rangkaian peringatan Hari Santri Nasional 2026. Lomba bertema “Santri Membaca Zaman: Kebudayaan, Inovasi, dan Narasi Masa Depan Pesantren” ini ditujukan bagi santri untuk mengembangkan nalar kritis, kreativitas, riset, dan inovasi dalam merespons dinamika zaman. Pendaftaran dibuka secara daring pada 23 September hingga 15 Oktober 2026 melalui alamat resmi panitia santrivision2026@kemenag.go.id. Kegiatan ini juga menjadi ruang artikulasi gagasan santri menyambut hadirnya Direktorat Jenderal Pesantren sebagai entitas eselon I mandiri di Kementerian Agama.
Direktur Jenderal Pesantren Basnang Said mengajak jajaran Kantor Wilayah Kementerian Agama, Kantor Kementerian Agama Kabupaten/Kota, serta pimpinan dan pengasuh pesantren untuk menyosialisasikan lomba dan mendorong keterlibatan santri di wilayah masing-masing.
“Santrivision dirancang sebagai wadah eksplorasi nalar kritis, kreativitas, dan inovasi santri dalam merespons dinamika zaman,” ujar Basnang Said di Jakarta, Rabu (23/9/2026).
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Menurut Basnang, karya yang dihasilkan dalam Santrivision 2026 diharapkan tidak berhenti sebagai tugas akademik atau produk kompetisi. Gagasan peserta dapat dikembangkan menjadi policy brief, produk audiovisual, inovasi teknologi digital, maupun teknologi tepat guna yang bermanfaat bagi pesantren dan masyarakat.
“Yang ingin dibangun bukan sekadar kompetisi, tetapi ekosistem yang mempertemukan riset, kreativitas, teknologi, tradisi keilmuan pesantren, dan kebutuhan nyata masyarakat,” sebut Basnang.
Kategori dan Syarat Peserta Santrivision 2026
Santrivision 2026 memiliki tiga kategori utama. Kategori pertama adalah naskah, kebijakan, dan komunikasi ilmiah yang mencakup policy brief, artikel ilmiah populer, monograf atau buku saku riset, serta esai pesantren.
Kategori kedua mencakup audio-visual, seni visual, dan digital media. Karya yang dapat diajukan lain film pendek, dokumenter, video esai, motion graphic, animasi, podcast, komik digital, novel grafis, serta karya seni dan kaligrafi digital.
Kategori ketiga adalah inovasi digital dan teknologi pesantren. Kategori ini meliputi pengembangan Sistem Informasi Manajemen Pesantren, platform pelaporan anonim atau ruang aman santri, serta berbagai inovasi digital yang dapat diterapkan di lingkungan pesantren.
Basnang menjelaskan, peserta harus mengikuti ketentuan pembentukan tim dan persyaratan kelembagaan pesantren.
“Setiap tim terdiri atas 2–3 santri aktif dari pesantren yang sama dan wajib didampingi seorang pembimbing dari pesantren yang bersangkutan. Peserta juga harus berasal dari pesantren yang memiliki NSPP dan terdaftar dalam EMIS,” tegas Basnang.
Pengiriman karya dan dokumen pendaftaran dilakukan melalui alamat surel resmi panitia, yaitu santrivision2026@kemenag.go.id. Pendaftaran berlangsung mulai 23 September sampai 15 Oktober 2026.
Tahapan Pengembangan Karya hingga Penentuan Pemenang
Kasubdit Pendidikan Salafiyah dan Kajian Kitab Kuning Yusi Damayanti mengatakan, salah satu karakter utama Santrivision 2026 adalah adanya tahapan pengembangan karya. Setelah mengusulkan ide dan gagasan awal, peserta yang lolos akan memperoleh klinik bimbingan atau mentoring expert.
Mentoring tersebut melibatkan periset, praktisi media, dan pengembang teknologi. Dengan tahapan itu, karya peserta tidak hanya dinilai sebagai produk akhir, tetapi juga dikembangkan melalui proses pendampingan.
Para finalis selanjutnya akan mengikuti pitching dan presentasi di hadapan tim penilai lintas disiplin. Pemenang Juara I, II, dan III akan diumumkan pada puncak peringatan Hari Santri Nasional 2026.
“Khusus pemenang kategori ‘Policy Brief’, karya akan dihimpun dalam ‘Buku Putih Rekomendasi Santri’ dan katalog produk inovasi untuk diserahkan kepada Menteri Agama. Langkah ini menunjukkan bahwa gagasan santri diarahkan untuk dapat menjadi bagian dari khazanah rekomendasi dan pengembangan kebijakan pesantren,” jelas Yusi Damayanti.
Delapan Fokus Tematik Santrivision 2026
Panitia menetapkan delapan fokus tematik dalam Lomba Santrivision 2026. Fokus pertama adalah keadilan iklim, ekoteologi, dan ketahanan pangan, termasuk pengembangan Eco-Pesantren, pengelolaan sampah, komposting, biogas, dan teknologi tepat guna.
Kedua, ruang aman, perlindungan anak, dan kesehatan. Isu yang dapat diangkat meliputi pencegahan kekerasan seksual, mekanisme pengaduan, kesehatan mental santri, positive parenting, serta pemenuhan hak-hak anak.
Ketiga, generative AI, kedaulatan digital, dan etika teknologi. Fokus ini mencakup pemanfaatan AI dalam kajian kitab, pengelolaan data pesantren, literasi digital, dan pencegahan fake news.
Keempat, reartikulasi moderasi beragama dan fiqih perdamaian, termasuk pengembangan narasi perdamaian dan solidaritas kemanusiaan global.
Fokus kelima adalah kemandirian ekonomi, halal supply chain, dan Web3. Keenam, kesehatan masyarakat, stunting, dan sanitasi layak.
Fokus ketujuh mencakup internasionalisasi pesantren dan diplomasi kultural. Adapun fokus kedelapan adalah nilai-nilai kepesantrenan dan internalisasi karakter di tengah perubahan sosial dan teknologi.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.






