Headline.co.id, Sleman ~ Gerakan literasi Saya Suka Membaca Buku (SASUKE BAKU) di Satuan PAUD Sejenis (SPS) Asparagus Kentungan, Condongcatur, Kapanewon Depok, Sleman, memanfaatkan buku bekas layak baca untuk mendukung budaya literasi anak. Dukungan terhadap program tersebut datang dari kelompok PKK RT 02 RW 47 yang menyerahkan donasi buku bacaan anak kepada pihak sekolah pada Selasa (22/9/2026). Buku-buku yang sebelumnya tersimpan di rumah warga kini digunakan kembali melalui kegiatan membaca dan pembelajaran interaktif di sekolah. Program ini dijalankan untuk menumbuhkan kecintaan anak terhadap buku, sekaligus mengenalkan keberagaman dan budaya Indonesia.
Buku-buku keluarga yang sudah tidak digunakan menjadi bagian penting dalam keberlanjutan SASUKE BAKU. Alih-alih berakhir di lemari penyimpanan atau dibuang, buku-buku tersebut disalurkan agar dapat dibaca oleh anak-anak lain di SPS Asparagus Kentungan.
Kepala SPS Asparagus Kentungan, Reni Lestari, mengatakan SASUKE BAKU dirancang untuk membangun budaya literasi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari anak. Menurut dia, proses membaca tidak hanya diarahkan untuk menambah pengetahuan, tetapi juga membentuk sikap anak dalam memahami lingkungan sosial dan budaya.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
“Kami ingin anak-anak mencintai buku sejak dini melalui pengalaman membaca yang menyenangkan dan bermakna. Dari buku, anak tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga belajar memahami keberagaman, menghargai orang lain, serta mengenal budaya Indonesia,” ujar Reni.
SASUKE BAKU Gunakan Metode Literasi Interaktif
Pelaksanaan SASUKE BAKU dilakukan melalui sejumlah metode interaktif. Kegiatan itu meliputi membaca nyaring atau read aloud, bercerita, bermain peran, pengelolaan pojok baca kelas, mendongeng, hingga literasi berbasis proyek.
Metode tersebut digunakan agar kegiatan membaca menjadi pengalaman yang menyenangkan dan bermakna bagi anak. Buku tidak hanya ditempatkan sebagai bahan bacaan, tetapi juga menjadi media untuk membangun interaksi, mengembangkan pemahaman, dan mengenalkan nilai-nilai kehidupan.
Sekolah juga mendorong agar kebiasaan membaca berlanjut di rumah. Orang tua diajak aktif membacakan buku kepada anak, baik menggunakan koleksi pribadi maupun buku pinjaman dari sekolah. Kegiatan itu dilakukan menjelang anak tidur dan diarahkan menjadi ruang interaksi positif orang tua dan anak.
Kenalkan Cerita Rakyat dan Keragaman Indonesia
Muatan kebinekaan menjadi salah satu bagian utama dalam SASUKE BAKU. Melalui koleksi bacaan yang tersedia, anak-anak diperkenalkan dengan cerita rakyat Nusantara, kisah keteladanan, serta ensiklopedia yang menggambarkan keragaman suku, agama, dan budaya di Indonesia.
Pengenalan terhadap keragaman tersebut ditempatkan sebagai bagian dari proses pendidikan anak sejak usia dini. Melalui cerita dan bacaan, anak diajak mengenal budaya Indonesia, memahami keberagaman, serta belajar menghargai orang lain.
Program SASUKE BAKU juga disinkronkan dengan pembiasaan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat. Kebiasaan yang diperkenalkan mencakup gemar belajar, beribadah, makan sehat, dan bermasyarakat.
Warga Dukung Keberlanjutan Program Literasi
Keberlanjutan SASUKE BAKU bergantung pada partisipasi aktif warga. Donasi dari kelompok PKK RT 02 RW 47 menjadi salah satu bentuk keterlibatan masyarakat dalam menyediakan bahan bacaan bagi anak-anak di SPS Asparagus Kentungan.
Salah seorang warga penyumbang, Nur Kartikasasi, mengapresiasi adanya ruang untuk menyalurkan buku-buku yang sebelumnya dibaca anak-anaknya. Ia menilai buku-buku tersebut masih memiliki nilai dan pengalaman yang dapat dibagikan kepada anak-anak lain.
“Dengan program SASUKE BAKU, ada tempat untuk menampung buku-buku yang dulu pernah dibaca anak-anak saya. Mau dibuang sayang karena ada nilai dan pengalaman di sana yang bisa ditularkan ke anak lain,” tutur Nur.
Melalui SASUKE BAKU, SPS Asparagus Kentungan berupaya menghubungkan peran sekolah, keluarga, dan lingkungan masyarakat dalam penguatan pendidikan anak. Gerakan ini menempatkan literasi, pendidikan karakter, dan pemahaman kebinekaan sebagai tanggung jawab bersama.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.




















