Headline.co.id ~ Ketahanan siber kini menjadi bagian integral dari ketahanan negara di tengah masifnya digitalisasi pemerintahan dan pemanfaatan kecerdasan buatan. Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) Rini Widyantini menyampaikan hal itu saat memberikan Orasi Ilmiah pada Wisuda Sarjana Terapan Politeknik Siber dan Sandi Negara (Poltek SSN) Angkatan ke-21 di Auditorium dr. Roebiono Kertopati, Kantor BSSN, Depok, Jawa Barat, Selasa (22/9/2026).
Menurut Rini, ancaman siber telah bergeser dari gangguan teknis menjadi ancaman serius terhadap ketahanan negara karena semakin banyak aktivitas pemerintahan dan layanan publik bergantung pada sistem digital. Karena itu, lulusan Poltek SSN diharapkan berperan sebagai benteng pertahanan siber yang melindungi data, infrastruktur kritis, dan kerahasiaan negara.
“Digitalisasi birokrasi dan pelayanan publik adalah keniscayaan. Namun, semakin banyak aktivitas yang berpindah ke ruang digital, risiko ancamannya juga kian besar. Di sinilah peran krusial lulusan Poltek SSN untuk hadir sebagai benteng pertahanan siber yang melindungi data, infrastruktur kritis, dan kerahasiaan negara,” tegas Menteri Rini.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Ancaman siber semakin kompleks
Rini menjelaskan, intensitas serangan siber terus meningkat. Kondisi tersebut ditandai dengan maraknya varian ransomware dan celah keamanan zero-day.
Ia mengingatkan, serangan siber dapat berdampak langsung terhadap stabilitas kehidupan masyarakat apabila layanan dasar telah bertumpu pada sistem digital. Layanan yang dimaksud mencakup energi, transportasi, keuangan, kesehatan, dan infrastruktur publik.
Dalam implementasi pemerintahan digital, Rini memaparkan tujuh aspek krusial yang perlu diwaspadai. Aspek itu meliputi risiko sistemik akibat sistem yang saling terhubung, kecerdasan buatan yang dapat berfungsi sebagai pelindung sekaligus alat serang, serta perlindungan data yang menjadi aset sekaligus target.
Selain itu, penerapan security by design, keamanan siber sebagai bagian dari tata kelola, faktor kelalaian manusia, dan risiko ketergantungan pada pihak ketiga juga menjadi perhatian.
Peran ASN berubah di era kolaborasi manusia dan mesin
Rini mengatakan, pemerintahan digital juga membawa perubahan terhadap pola kerja aparatur sipil negara (ASN). Memasuki era human-machine collaboration, pekerjaan administratif rutin mulai banyak diambil alih algoritma dan otomatisasi.
Perubahan tersebut menuntut ASN meningkatkan peran pada analitik mendalam, kolaborasi, dan pengambilan keputusan strategis. Kapasitas tersebut dinilai penting untuk menjawab kompleksitas tata kelola pemerintahan digital dan ancaman siber yang berkembang.
Untuk menghadapi tantangan itu, Rini membekali 95 wisudawan Poltek SSN dengan konsep talenta digital terintegrasi yang berpijak pada tiga pilar, yakni Head, Hand, dan Heart. Dari jumlah tersebut, 32 wisudawan meraih predikat pujian atau cum laude.
“Pilar pertama adalah Head atau kompetensi, menuntut praktisi berpikir strategis berbasis data. Pilar kedua, Hand atau eksekusi, menekankan kemampuan menerjemahkan ilmu menjadi tindakan nyata. Pilar ketiga sekaligus yang paling krusial adalah Heart atau karakter. Mengingat akses data yang Saudara kelola sangat vital, kompetensi tinggi wajib diimbangi dengan integritas dan tanggung jawab yang besar,” urainya.
BSSN siapkan abdi negara baru
Wisuda Sarjana Terapan Poltek SSN Angkatan ke-21 juga menjadi penanda kesiapan Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) sebagai instansi pembina dalam menerima abdi negara baru.
Para talenta muda tersebut diharapkan segera beradaptasi untuk memperkokoh ekosistem kedaulatan siber dan tata kelola persandian nasional. Kehadiran mereka dipandang penting seiring meningkatnya kebutuhan terhadap sumber daya manusia yang memiliki kompetensi, kemampuan eksekusi, serta integritas dalam mengelola data dan sistem yang vital bagi negara.
Sumber: Humas Kementerian PANRB dan .id.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.

















