Headline.co.id, Jakarta ~ BANDA ACEH – Aceh Culinary Festival (ACF) 2026 mencatat transaksi langsung pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta penjualan kuliner melampaui Rp1,5 miliar hingga hari ketiga penyelenggaraan. Capaian tersebut disampaikan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh Dedy Yuswadi dalam rangkaian closing ceremony ACF 2026 di Taman Sulthanah Safiatuddin, Kota Banda Aceh, Minggu (13/9/2026).
Selain transaksi, jumlah kunjungan kumulatif ke festival yang berlangsung pada 11-14 September 2026 itu telah melampaui 11.000 orang. Pemerintah dan Kementerian Pariwisata mendorong Aceh Culinary Festival tidak berhenti sebagai ajang promosi makanan, tetapi berkembang menjadi penggerak ekonomi dan bagian dari pengembangan gastronomi Indonesia melalui penguatan kuliner, budaya, sejarah, serta cerita di balik setiap hidangan.
Aceh Culinary Festival Masuk 10 Event Terbaik KEN
Wakil Menteri Pariwisata Republik Indonesia Ni Luh Enik Ermawati atau Ni Luh Puspa mengatakan ACF menjadi salah satu dari 10 event terbaik yang masuk dalam Karisma Event Nusantara (KEN). Menurut dia, pencapaian itu menunjukkan potensi kuliner Aceh untuk dikembangkan sebagai daya tarik pariwisata.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
“Untuk masuk KEN seleksinya sangat ketat. Apalagi untuk ditetapkan sebagai 10 event terbaik, seleksinya dilakukan bersama ribuan event dari berbagai daerah di Indonesia,” kata Ni Luh Puspa.
Ia menilai pencapaian tersebut harus menjadi momentum untuk menjaga keberlanjutan Aceh Culinary Festival sebagai ruang pelestarian sekaligus promosi budaya dan kekayaan kuliner Aceh. Kementerian Pariwisata juga berkomitmen mendukung keberlanjutan ACF agar terus berkembang sebagai salah satu event unggulan pariwisata Indonesia.
Ni Luh Puspa menyebut ACF memiliki potensi besar untuk dikembangkan melalui konsep pariwisata berkualitas, khususnya gastro tourism atau wisata gastronomi. Pengembangan pariwisata berkualitas yang dilakukan Kementerian Pariwisata mencakup marine tourism, wellness tourism, dan gastro tourism.
“Melalui Aceh Culinary Festival ini harusnya bisa menjadi bagian dari Wonderful Indonesia Gastronomy,” ungkapnya.
Gastronomi Aceh Perlu Diperkuat dengan Storytelling
Ni Luh Puspa menjelaskan, gastronomi tidak hanya berkaitan dengan rasa makanan. Di dalamnya terdapat unsur budaya, tradisi, sejarah, asal bahan, hingga cerita yang melekat pada setiap hidangan.
Karena itu, ia meminta pemerintah daerah dan pelaku kuliner Aceh memperkuat storytelling. Upaya tersebut dinilai penting agar wisatawan tidak hanya menikmati makanan, tetapi juga memahami latar belakang dan nilai budaya yang menyertainya.
“Kita tidak hanya merasakan enaknya, tetapi juga mengetahui cerita di baliknya,” ujarnya.
Ia juga menekankan perlunya keterlibatan sektor swasta dan industri kreatif untuk menjaga keberlanjutan festival. Menurut Ni Luh Puspa, pengembangan pariwisata tidak dapat hanya mengandalkan pemerintah.
Kuliner Aceh Terhubung dengan Sejarah dan Budaya
Asisten Pemerintahan, Keistimewaan Aceh dan Kesejahteraan Rakyat Setda Aceh Syakir mengatakan ACF telah menjadi ruang untuk memperkenalkan Aceh melalui cita rasa, tradisi, sejarah, dan kekayaan budaya.
Menurut Syakir, kuliner Aceh memiliki keterkaitan erat dengan sejarah maritim, perdagangan rempah, serta pertemuan berbagai etnis dan budaya. Kekayaan tersebut tercermin dalam beragam hidangan, lain kuah pliek u, kuah beulangong, sie reuboh, ayam tangkap, mi Aceh, kopi Gayo, dan sanger.
“Setiap hidangan memiliki cerita dan identitas budaya yang dapat menjadi kekuatan dalam pengembangan pariwisata Aceh,” katanya.
Dengan kekayaan tersebut, Aceh Culinary Festival dipandang memiliki peran dalam mempertemukan promosi kuliner, pelestarian budaya, dan kegiatan ekonomi masyarakat. Transaksi UMKM selama festival menjadi salah satu gambaran dampak langsung penyelenggaraan acara terhadap pelaku usaha kuliner.
Tiga Zona Utama ACF 2026
Dedy Yuswadi mengatakan antusiasme masyarakat dan wisatawan terhadap ACF 2026 sangat luar biasa. Hingga hari ketiga penyelenggaraan, kunjungan kumulatif tercatat lebih dari 11.000 orang, sementara transaksi langsung pelaku UMKM dan penjualan kuliner melampaui Rp1,5 miliar.
ACF 2026 menghadirkan tiga kawasan utama. Pertama, zona Paviliun Kuliner Aceh yang diikuti 12 kabupaten/kota. Kedua, zona Galarasa Nusantara. Ketiga, zona Bandar Rasa.
Pada kesempatan tersebut, panitia juga mengumumkan pemenang Paviliun Kuliner Aceh terbaik. Gayo Lues meraih juara pertama, disusul Aceh Selatan sebagai juara kedua dan Aceh Tamiang sebagai juara ketiga.
Adapun harapan pertama diraih Nagan Raya, harapan kedua Aceh Timur, dan harapan ketiga Kota Sabang. Penghargaan juara favorit diberikan kepada Simeulue.



















