Headline.co.id, Jogja ~ Gelombang demonstrasi yang terjadi di Yogyakarta baru-baru ini menyoroti isu keamanan bagi para peserta aksi. Pada Selasa (1/9), lima mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) dan satu mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) mengalami luka-luka saat mengikuti aksi damai di perempatan Gramedia, Cik Di Tiro. Insiden ini menimbulkan keprihatinan dari berbagai pihak, termasuk Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Pengabdian Masyarakat, dan Alumni UGM, Dr. Arie Sudjito.
Dr. Arie Sudjito menyatakan bahwa perlindungan terhadap peserta aksi adalah tanggung jawab aparat kepolisian. Ia menekankan pentingnya aparat untuk melindungi baik mahasiswa maupun masyarakat secara keseluruhan. “Ini adalah bagian dari tanggung jawab dan memang secara hukum harus dilakukan,” ujar Arie saat ditemui di Gedung Pusat UGM pada Rabu (2/8). Arie juga menyoroti pentingnya mencegah bentrokan mahasiswa dan elemen masyarakat lainnya, mengingat mahasiswa memiliki hak untuk bersikap kritis dan menyampaikan aspirasi.
Dalam pandangannya, kekerasan dalam demonstrasi hanya akan merugikan berbagai pihak. Arie berharap mahasiswa sebagai kaum intelektual dapat terus berkonsolidasi dan menyampaikan aspirasi secara kritis. Ia juga mengharapkan pimpinan perguruan tinggi memiliki kepekaan yang sama dalam merespons dinamika sosial yang terjadi. “Saya berharap mahasiswa dan pimpinan universitas sama-sama memiliki kepekaan terhadap situasi sosial,” tambahnya.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Dr. Hempri Suyatna, Direktur Kemahasiswaan UGM, menjelaskan bahwa mahasiswa UGM yang tergabung dalam Massa Aksi Damai Cik Di Tiro awalnya berkumpul di Wisma Kagama sebelum bergerak menuju lokasi demonstrasi. Aksi yang semula damai berubah menjadi tegang akibat provokasi sekitar pukul 19.00 WIB, meskipun situasi sempat kembali normal sebelum akhirnya memanas lagi hingga pukul 22.00 WIB. Hempri dan Arie turut memantau jalannya aksi dan mendampingi proses evakuasi mahasiswa yang terluka. Beberapa mahasiswa mengalami memar, sesak napas, dan luka akibat kekerasan fisik, serta ada yang terkena semprotan zat kimia.
Aksi massa berakhir setelah mahasiswa membubarkan diri dan kembali ke tempat tinggal masing-masing. Mahasiswa yang terluka telah mendapatkan perawatan di RS Panti Rapih dan kini telah kembali ke rumah masing-masing. Arie berharap Yogyakarta tetap menjadi ruang publik yang menjunjung kebebasan berekspresi dan menolak kekerasan, serta memberikan ruang bagi masyarakat dan mahasiswa untuk menyampaikan pandangan mereka.



















