Headline.co.id, Lebak ~ Banten — Siswa madrasah di Indonesia berhasil mengembangkan teknologi inovatif untuk mendeteksi ancaman kebakaran dan banjir secara dini. Inovasi ini memanfaatkan sensor, mikrokontroler, dan sistem peringatan yang memberikan informasi saat potensi bencana terdeteksi. Dua proyek ini dihasilkan oleh siswa dari dua madrasah berbeda, masing-masing dengan fokus pada kebakaran dan banjir.
Alya Nurul dan Nabil Lutfianyah, siswa kelas 12 IPA di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Lebak, Banten, mengembangkan alat bernama Solar Fire Guard Sentinel. Alat ini dirancang untuk mendeteksi kebakaran lahan dan permukiman, terinspirasi dari kebakaran yang pernah terjadi di sekitar sekolah mereka. Solar Fire Guard Sentinel menggabungkan sensor gas dan asap MQ-2, sensor suhu DHT22, serta sensor flame yang dikendalikan oleh mikrokontroler ESP32. Ketika suhu melebihi 35 derajat Celsius dan terdeteksi asap atau api, sistem akan mengirimkan notifikasi peringatan ke aplikasi ponsel pengguna. Alat ini juga dilengkapi dengan panel surya agar dapat beroperasi di lokasi dengan keterbatasan listrik, seperti di kawasan hutan.
Alya dan Nabil berencana untuk terus mengembangkan alat ini dengan menambahkan teknologi kecerdasan buatan (AI) pada sistem kamera guna meningkatkan akurasi deteksi kebakaran. Mereka berharap inovasi ini dapat membantu mencegah kebakaran lebih awal dan mengurangi dampak kerusakan yang ditimbulkan.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Sementara itu, di Kuningan, Jawa Barat, siswa MA Husnul Khotimah, Bio Royan dan Naufal Imam Fahmi, mengembangkan robot pemantau banjir bernama Arsa Ban. Robot ini dirancang untuk membantu warga di sekitar sungai kecil dan saluran drainase yang belum memiliki sistem pemantauan modern. Arsa Ban menggunakan mikrokontroler Arduino Uno R3 yang dipadukan dengan sensor ultrasonik JSN-SR04T dan float switch. Sistem peringatan ini dilengkapi dengan indikator lampu tiga warna: hijau untuk kondisi aman, kuning untuk waspada, dan merah untuk bahaya. Ketika status bahaya terdeteksi, perangkat ini secara otomatis mengirimkan pesan singkat (SMS) ke ponsel warga dan dapat menampung hingga 500 nomor telepon.
Arsa Ban juga dilengkapi dengan panel surya sebagai sumber energi, mendukung penggunaannya di lokasi dengan keterbatasan listrik. Inovasi ini telah mendapatkan penghargaan Honorable Mention dan menempati peringkat kedelapan pada final Kompetisi Sains Muslim Indonesia (KOSMI). Bio dan Naufal berharap teknologi ini dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat yang tinggal di daerah rawan banjir.

















