Headline.co.id, Yogyakarta ~ Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dengan dukungan Pemerintah Australia melalui program Siap Siaga, menggalakkan penguatan Resiliensi Berkelanjutan sebagai pendekatan terpadu dalam menghadapi perubahan iklim, risiko bencana, dan tantangan pembangunan berkelanjutan yang semakin kompleks. Inisiatif ini disampaikan dalam Seminar Nasional Keterpaduan Operasionalisasi Resiliensi Berkelanjutan di Tingkat Lokal yang diadakan di Yogyakarta pada Senin (10/8), sebagai bagian dari persiapan menuju Global Forum for Sustainable Resilience (GFSR) 2026.
Seminar tersebut mempertemukan berbagai pihak, termasuk pemerintah, akademisi, komunitas, dunia usaha, masyarakat sipil, dan media, untuk membahas integrasi agenda perubahan iklim, penanggulangan bencana, dan pembangunan berkelanjutan di tingkat lokal. Resiliensi Berkelanjutan menekankan pentingnya pembangunan yang mampu melindungi masyarakat, mengurangi risiko, beradaptasi terhadap perubahan, dan mempertahankan manfaat pembangunan dalam jangka panjang. Pendekatan ini menempatkan manusia dan konteks lokal sebagai pusat, serta mendorong penguatan tata kelola, investasi, infrastruktur, ilmu pengetahuan, teknologi, dan kapasitas kelembagaan.
Dr. Raditya Jati, Deputi Bidang Sistem dan Strategi BNPB, dalam sambutannya menekankan pentingnya mengubah konsep Resiliensi Berkelanjutan menjadi praktik nyata. “Resiliensi Berkelanjutan harus kita bawa dari konsep menjadi praktik. Ukurannya bukan hanya berapa banyak program yang kita miliki, tetapi sejauh mana berbagai program tersebut saling terhubung, saling memperkuat, dan pada akhirnya memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” ujar Raditya. Seminar ini menyoroti tantangan fragmentasi dalam pelaksanaan agenda pembangunan, adaptasi perubahan iklim, dan pengurangan risiko bencana, yang sering kali belum terintegrasi dalam satu sistem.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Yogyakarta menjadi contoh penting bagaimana resiliensi dapat tumbuh dari tingkat lokal. Ketangguhan tidak hanya dibangun melalui regulasi dan infrastruktur, tetapi juga melalui kearifan lokal, gotong royong, kepemimpinan masyarakat, inovasi berbasis komunitas, serta kolaborasi multipihak. Nilai-nilai lokal seperti Hamemayu Hayuning Bawana dan Manunggaling Kawula Gusti menunjukkan prinsip harmoni dengan alam dan keberlanjutan antargenerasi yang telah menjadi bagian dari modal sosial masyarakat dalam membangun ketangguhan. “Pengalaman Yogyakarta menunjukkan bahwa masyarakat bukan sekadar penerima manfaat pembangunan dan penanggulangan bencana. Masyarakat adalah subjek sekaligus penggerak resiliensi,” lanjut Raditya.
Dalam forum tersebut, ditekankan pula pentingnya memperkuat kolaborasi Pentahelix yang melibatkan pemerintah, masyarakat, akademisi, dunia usaha, media, serta unsur masyarakat sipil. BNPB menegaskan bahwa agenda Resiliensi Berkelanjutan perlu dibangun sebagai gerakan bersama. Tantangan ke depan adalah menyatukan berbagai upaya yang telah ada menjadi sistem yang lebih terintegrasi, inklusif, berbasis data, didukung pembiayaan berkelanjutan, dan berorientasi pada dampak nyata bagi masyarakat.













