Headline.co.id, Jakarta ~ Tim peneliti dari Universitas Gadjah Mada (UGM), bekerja sama dengan sejumlah mitra nasional dan internasional, telah mengembangkan TBScreen.AI. Teknologi ini merupakan inovasi berbasis kecerdasan buatan (AI) yang dirancang untuk mempercepat proses skrining tuberkulosis (TB), terutama di wilayah terpencil di Indonesia. Dengan memanfaatkan analisis foto X-ray dada, TBScreen.AI diharapkan dapat menjadi alat bantu deteksi dini yang efektif.
Hasil penelitian mengenai TBScreen.AI dipresentasikan dalam acara Diseminasi Penelitian bertajuk “TBScreen.AI: Pengembangan Kecerdasan Buatan untuk Skrining Tuberkulosis dengan X-ray Dada di Daerah Terpencil di Indonesia” yang diadakan pada Senin, 3 Agustus 2026, di Jakarta. Dalam acara tersebut, tim peneliti memaparkan capaian pengembangan teknologi ini serta memberikan rekomendasi untuk tahapan validasi lanjutan sebelum penerapan sistem secara lebih luas.
Peneliti utama, dr. Antonia Morita Iswari Saktiawati, Ph.D., mengungkapkan bahwa sistem ini menunjukkan tingkat sensitivitas sebesar 83 persen dan spesifisitas mencapai 87 persen. “Capaian tersebut menunjukkan TBScreen.AI berpotensi dimanfaatkan sebagai alat bantu skrining tuberkulosis, meski masih memerlukan proses validasi lanjutan sebelum dapat diterapkan secara lebih luas dalam pelayanan kesehatan,” ujarnya pada Jumat, 6 Agustus 2026. Penelitian ini merupakan hasil kolaborasi selama dua tahun UGM dengan University of Melbourne, Universitas Sebelas Maret, Monash University Indonesia, dan beberapa lembaga lainnya.
Wahyono, S.Kom., Ph.D., salah satu anggota tim peneliti, menjelaskan bahwa pengembangan TBScreen.AI melibatkan tahapan pengumpulan, validasi, dan anotasi foto rontgen dada. Sistem ini menghasilkan confidence score atau tingkat keyakinan model dalam rentang 0-100 persen. Namun, skor tersebut tidak dimaksudkan sebagai dasar penetapan diagnosis akhir. “Hasil skrining tetap harus dipadukan dengan gejala klinis, faktor risiko pasien, penilaian dokter, serta pemeriksaan penunjang lainnya,” jelasnya. Acara diseminasi ini dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan, termasuk Kementerian Kesehatan RI dan Bappenas, yang menunjukkan dukungan terhadap pengembangan teknologi ini.





















