Headline.co.id, Seorang Petani Di Kabupaten Lampung Barat ~ Lampung, dilaporkan meninggal dunia setelah diduga diserang kawanan gajah liar di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS). Insiden ini terjadi ketika gubuk yang ditempati korban dikepung dan dirusak oleh kawanan gajah yang melintas. Petugas TNBBS sebelumnya telah memperingatkan warga untuk tidak mendirikan pondok di kawasan tersebut karena merupakan jalur lintasan gajah.
Prof. Wisnu Nurcahyo, Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan UGM, menjelaskan bahwa konflik manusia dan gajah meningkat akibat menyusutnya habitat alami gajah. Aktivitas manusia seperti alih fungsi hutan dan pembukaan perkebunan kelapa sawit memaksa gajah mencari sumber pakan dan air di wilayah yang kini dihuni manusia. “Kawanan gajah biasanya mendekati area manusia karena habitat alami mereka menyusut. Ini adalah respons alami untuk bertahan hidup,” ungkap Wisnu.
Penyebab Konflik dan Solusi
Wisnu menambahkan bahwa gajah tertarik pada tanaman pertanian seperti kelapa sawit, padi, dan pisang yang mudah memenuhi kebutuhan nutrisi mereka. Selain itu, gajah memiliki jalur migrasi tradisional yang diwariskan turun-temurun. Ketika jalur ini terhalang oleh pembangunan, gajah tetap berusaha melintasinya. “Gajah memiliki rute jelajah yang dikenalkan oleh kawanan sebelumnya. Jika terblokir, mereka akan menerobos wilayah tersebut,” jelasnya.
Wisnu menegaskan bahwa serangan gajah biasanya merupakan respons defensif ketika merasa terancam. Upaya pengusiran yang tidak tepat dapat memicu kepanikan dan meningkatkan risiko serangan. Keberadaan pondok di kawasan hutan juga meningkatkan risiko konflik. “Ketika gajah melintas, bangunan di lintasan dapat dirobohkan, membahayakan orang di dalamnya,” tambah Wisnu.
Langkah Pencegahan dan Teknologi
Wisnu menyarankan penegakan aturan yang melarang pembukaan lahan dan aktivitas berkebun di zona inti hutan konservasi. Hal ini penting untuk menjaga habitat alami gajah dan mengurangi risiko konflik. Ia juga menyoroti pentingnya teknologi dalam meminimalkan konflik, seperti pemasangan pagar listrik dan penggunaan meriam karbit untuk menggiring gajah dengan aman.
Selain itu, program restorasi habitat melalui pengayaan pakan di dalam hutan dinilai penting agar gajah tidak terdorong keluar mencari makanan di area perkebunan masyarakat. Teknologi digital seperti sistem peringatan dini berbasis IoT dan deteksi bioakustik perlu diperkuat untuk memantau pergerakan gajah dan memberikan peringatan kepada masyarakat.
Kolaborasi untuk Konservasi
Wisnu menekankan bahwa penyelesaian konflik manusia dan gajah membutuhkan kolaborasi berbagai pihak. Pemerintah perlu mengintegrasikan koridor jelajah gajah ke dalam perencanaan tata ruang, sementara pengelola kawasan konservasi harus memperkuat restorasi habitat dan patroli. Masyarakat didorong untuk menerapkan mitigasi berbasis komunitas dan mengembangkan mata pencaharian alternatif seperti ekowisata.
“Dengan kolaborasi antarpemangku kepentingan, diharapkan upaya konservasi dapat berjalan beriringan dengan perlindungan keselamatan masyarakat di sekitar habitat gajah,” pungkas Wisnu.





















