Headline.co.id, Jakarta ~ Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memperkuat langkah mitigasi kesehatan untuk menghadapi dampak fenomena El Nino yang diperkirakan akan memuncak pada musim kemarau 2026. Fenomena ini berpotensi meningkatkan risiko kekeringan, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), serta berbagai gangguan kesehatan di sejumlah wilayah Indonesia.
Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes, Agus Jamaludin, menjelaskan bahwa El Nino merupakan fenomena perubahan iklim global yang disebabkan oleh peningkatan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian timur. “Dampaknya tidak hanya memengaruhi lingkungan, tetapi juga meningkatkan risiko krisis kesehatan melalui bertambahnya penyakit menular, gangguan pernapasan, kekurangan air bersih, hingga ancaman malnutrisi,” ujar Agus dalam webinar Kesiapsiagaan dan Respons Krisis Kesehatan di Jakarta, Rabu (1/7/2026).
Perubahan suhu, kelembapan, dan curah hujan selama El Nino dapat mengubah pola penyebaran penyakit yang sensitif terhadap iklim. Penyakit tular vektor seperti malaria dan demam berdarah dengue (DBD) berpotensi meningkat karena suhu yang lebih tinggi mempercepat perkembangan parasit dan memperpendek masa inkubasi penyakit pada nyamuk penular.
Wilayah Rawan dan Langkah Antisipasi
Agus menambahkan bahwa wilayah yang selama ini menjadi daerah rawan karhutla seperti Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Tengah perlu memperkuat kesiapsiagaan. Beberapa kabupaten di Pulau Jawa juga mulai mengalami kekeringan sehingga diperlukan langkah antisipasi sejak dini.
Untuk mengurangi dampak tersebut, Kemenkes mengedepankan upaya promotif dan preventif melalui edukasi masyarakat. Agus mengimbau masyarakat untuk melindungi diri dari paparan panas dengan memperbanyak konsumsi air putih, menghindari dehidrasi, berteduh, serta menggunakan topi, payung, atau kacamata pelindung saat beraktivitas di luar ruangan.
Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)
Masyarakat juga diminta menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), memastikan ketersediaan air bersih, menggunakan masker ketika kualitas udara memburuk akibat asap atau debu, serta melakukan pengendalian vektor melalui gerakan 3M Plus dan penggunaan larvasida. “Pengalaman Indonesia menghadapi dampak karhutla pada 2015, 2019, dan 2023 menjadi pelajaran penting untuk meningkatkan kesiapsiagaan,” tegas Agus.
Kemenkes terus berupaya memastikan kesiapan seluruh pihak terkait dalam menghadapi potensi krisis kesehatan akibat El Nino, dengan harapan dapat meminimalisir dampak negatif terhadap kesehatan masyarakat.



















