Headline.co.id, Jakarta ~ Sektor manufaktur Indonesia kembali mengalami tekanan signifikan dengan turunnya Indeks Manufaktur atau S&P Global Manufacturing PMI ke level 46,9 pada Juni 2026. Penurunan ini menandakan bahwa aktivitas industri berada di zona kontraksi, setelah sebelumnya berada di bawah ambang batas ekspansi 50. Kondisi ini disebabkan oleh melemahnya permintaan domestik dan meningkatnya biaya produksi akibat tekanan global.
Fakhrul Fulvian, Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, menyatakan bahwa penurunan PMI mencerminkan tekanan serius pada sektor usaha, terutama manufaktur yang menjadi salah satu pilar pertumbuhan ekonomi nasional. “Industri saat ini menghadapi tekanan dari dua sisi sekaligus. Di satu sisi permintaan melemah karena daya beli konsumen tertekan, sementara di sisi lain biaya produksi meningkat akibat gejolak global, termasuk tensi geopolitik yang mendorong kenaikan harga komoditas,” ujarnya pada Rabu (1/7/2026).
Tekanan Biaya Produksi dan Daya Beli
Data S&P Global menunjukkan inflasi harga input pada Juni mencapai salah satu tingkat tertinggi sejak survei dimulai pada 2011. Kenaikan harga bahan baku dan pelemahan nilai tukar menjadi faktor utama yang menekan biaya operasional industri. Akibatnya, sejumlah perusahaan mulai mengurangi pembelian bahan baku, menekan volume produksi, dan melakukan efisiensi tenaga kerja.
Perlunya Stimulus Pemerintah
Fakhrul menekankan bahwa pelaku industri memerlukan lebih dari sekadar insentif jangka pendek. Kepastian arah kebijakan ekonomi dan sinyal yang mampu membangun kembali kepercayaan pasar sangat dibutuhkan. “Dunia usaha akan kembali berinvestasi apabila mereka melihat pemerintah memiliki arah kebijakan yang jelas, konsisten, serta memberi ruang bagi sektor swasta untuk tumbuh,” tambahnya.
Usulan Kebijakan untuk Menjaga Daya Beli
Untuk mengatasi pelemahan daya beli rumah tangga, Fakhrul mengusulkan diskon tarif listrik sebesar 20 persen untuk rumah tangga. Menurutnya, kebijakan ini dapat memberikan efek cepat karena langsung mengurangi beban pengeluaran masyarakat. “Diskon tarif listrik memiliki multiplier effect yang relatif cepat karena langsung menekan pengeluaran rumah tangga. Ruang belanja masyarakat akan meningkat tanpa menunggu proses penyaluran bantuan yang lebih panjang,” jelasnya.
Peran APBN sebagai Shock Absorber
Dalam situasi tekanan inflasi dan perlambatan manufaktur, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dinilai perlu kembali memainkan fungsi strategis sebagai shock absorber. Fakhrul menekankan bahwa ruang fiskal harus dikelola secara hati-hati melalui realokasi anggaran yang terarah dan kredibel, bukan dengan ekspansi belanja yang tidak terukur.
Meskipun menghadapi tantangan, prospek pemulihan sektor manufaktur masih terbuka. Laporan S&P Global menunjukkan adanya optimisme pelaku industri terhadap prospek 12 bulan ke depan, terutama jika tekanan harga mulai mereda dan stabilitas global membaik. Sinergi kebijakan fiskal, moneter, dan dukungan terhadap dunia usaha menjadi kunci menjaga momentum pertumbuhan ekonomi Indonesia.























