Headline.co.id, Pontianak ~ Perhimpunan Perempuan Dayak (P2D) Kalimantan Barat menggelar Musyawarah Perempuan Dayak Khusus (Musperdasus) pada Sabtu (27/6/2026) di Aula Rumah Dinas Ketua DPRD Provinsi Kalimantan Barat. Acara ini bertujuan untuk mengevaluasi perjalanan organisasi, menyempurnakan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART), serta memperkuat kepemimpinan perempuan Dayak dalam pembangunan dan pelestarian budaya. Musperdasus dibuka oleh Donata Dirasig Krisantus Kurniawan, Ketua I Bidang Pembinaan Karakter Keluarga TP PKK Provinsi Kalimantan Barat.
Musperdasus merupakan forum tertinggi P2D yang bertujuan untuk menyusun kebijakan organisasi agar lebih adaptif terhadap perkembangan zaman. Kegiatan ini dihadiri oleh Ketua P2D Kalimantan Barat, Fransiska Editawaty Soeryamassoeka, Ketua DAD Provinsi Kalbar, serta tokoh adat, agama, dan masyarakat dari berbagai kabupaten/kota. Donata mengapresiasi dukungan semua pihak dalam penyelenggaraan forum ini dan menekankan pentingnya peran perempuan Dayak dalam pembangunan dan pelestarian budaya.
“Kehadiran kita hari ini menunjukkan komitmen bersama untuk memperjuangkan ruang yang lebih adil bagi perempuan Dayak dalam pendidikan, ekonomi, kesehatan, serta pelestarian budaya dan lingkungan,” ujar Donata. Ia menambahkan bahwa perempuan Dayak memiliki peran penting sebagai penjaga adat dan budaya, serta harus mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi tanpa meninggalkan nilai-nilai budaya.
Peran Strategis Perempuan Dayak
Donata menegaskan bahwa perempuan Dayak sejak dahulu berperan sebagai penjaga keluarga, pengelola ladang, dan pewaris kearifan lokal. “Perempuan Dayak harus mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan peluang ekonomi baru, namun tetap menjaga bahasa, tenun, anyaman, kuliner, serta budaya yang menjadi identitas kita,” tambahnya. Ia berharap Musperdasus menghasilkan program-program nyata yang memperkuat kapasitas perempuan hingga ke tingkat desa.
Agenda Utama Musperdasus
Ketua Umum P2D Kalimantan Barat, Fransiska Editawaty Soeryamassoeka, menegaskan bahwa Musperdasus bukan sekadar agenda seremonial, melainkan momentum untuk mengevaluasi dan memperkuat fondasi P2D. Salah satu agenda utama adalah penyempurnaan AD/ART sebagai pedoman organisasi agar tetap mampu menjawab dinamika dan tantangan zaman. “Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga adalah kompas organisasi. Karena tantangan perempuan terus berkembang, aturan organisasi juga harus diperbarui agar tetap visioner dan berpijak pada nilai-nilai perjuangan P2D,” jelasnya.
Tantangan dan Komitmen P2D
Fransiska juga menyoroti berbagai persoalan yang masih dihadapi perempuan, seperti kekerasan terhadap perempuan dan anak, kesenjangan kesempatan kerja, dan perlindungan hak-hak perempuan. “Masih banyak persoalan yang harus kita perjuangkan bersama. Semua itu menjadi perhatian dan komitmen P2D untuk terus menghadirkan solusi dan pemberdayaan bagi perempuan Dayak,” tuturnya. Ia mengajak seluruh anggota menjadikan Musperdasus sebagai momentum memperkuat organisasi dan meningkatkan pengabdian kepada masyarakat.
Mengakhiri sambutannya, Fransiska menyatakan keyakinannya bahwa P2D akan terus tumbuh sebagai organisasi yang semakin berdaya, adaptif, dan mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat.





















