Headline.co.id, Bantul ~ Timbunan sisa makanan di Asrama Putri Pondok Pesantren Al-Imdad, Bantul, mencapai sekitar 30-40 kilogram setiap harinya, terutama dari nasi dan sayur. Menyikapi hal ini, santri dan pengelola pondok menginisiasi program “Santri Lawan Food Waste” untuk mengurangi limbah makanan. Program ini didampingi oleh tiga mahasiswa Program Studi Magister Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada.
Kadek Darmawan, Stella Stritamar Amabi, dan Karimatul Khalidah terlibat dalam program ini sebagai bagian dari Mata Kuliah Pemberdayaan Masyarakat dan Networking. Tahap awal yang mereka lakukan adalah observasi dan wawancara untuk memahami kebiasaan santri dan pengelolaan makanan di asrama. Bersama santri dan pengelola pondok, mereka mengidentifikasi penyebab makanan tersisa dan menentukan langkah yang sesuai dengan kondisi serta sumber daya yang ada.
Kadek menjelaskan bahwa pendampingan ini membantu mahasiswa memahami masalah sisa makanan dari pengalaman sehari-hari santri dan pengelola pondok. Beberapa faktor yang mempengaruhi sisa makanan lain rasa dan selera, kebiasaan mengonsumsi makanan ringan, suasana hati, porsi yang diambil, dan keterbatasan waktu makan. “Kami belajar bersama santri dan pengelola pondok untuk memahami berbagai faktor yang menyebabkan makanan tersisa,” ujar Kadek dalam keterangan tertulis.
Dari diskusi tersebut, santri dan pengelola pondok memilih empat kegiatan utama: edukasi tentang pengambilan porsi dan kebiasaan menghabiskan makanan, penyediaan kotak saran menu, pengaktifan kembali budidaya maggot Black Soldier Fly, serta pengembangan lomba kebersihan kamar yang memasukkan aspek pengurangan sisa makanan.
Tiga dari empat kegiatan tersebut telah dilaksanakan. Edukasi tentang pengambilan porsi sesuai kebutuhan dan pentingnya menghabiskan makanan disampaikan dalam pembinaan santri setiap Jumat malam setelah salat Isya. Kotak saran menu juga telah disediakan untuk menampung masukan santri mengenai rasa, variasi, porsi, dan menu yang disajikan. Pengelola pondok limbah mulai mengaktifkan kembali budidaya maggot untuk mengolah sisa makanan.
Pengembangan lomba kebersihan kamar masih dalam tahap persiapan. Dalam lomba ini, upaya setiap kamar dalam mengurangi dan menangani sisa makanan menjadi salah satu aspek penilaian. Kamar dengan hasil terbaik akan mendapatkan penghargaan, sedangkan kamar yang menghasilkan sisa makanan paling banyak akan mengikuti pembinaan edukatif kelompok.
Yunita Fitrianti, S.Ant., M.Sc., dosen tutor Mata Kuliah Pemberdayaan Masyarakat dan Networking, mendampingi mahasiswa sejak tahap awal. Ia menekankan pentingnya menempatkan santri dan pengelola pondok sebagai subjek yang memahami persoalan mereka sendiri. “Dengan cara itu, program yang lahir bukan milik mahasiswa, melainkan milik pondok,” ujar Yunita.
Pengelola pondok menyambut baik program ini. “Kami berharap inisiatif ini dapat terus dilanjutkan dan dikembangkan sebagai bagian dari pendidikan karakter,” ujar Pengasuh Pondok Pesantren Al-Imdad, KH. Ahmad Murod, S.Ag. Program ini diharapkan dapat mendukung upaya mengurangi sisa makanan dan membangun kebiasaan konsumsi yang lebih bertanggung jawab, sejalan dengan SDGs nomor 12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab.























