Headline.co.id
  • Home
  • Berita
    • Peristiwa
    • Nasional
  • Ekonomi
  • Kesehatan
  • Pemerintah
  • Religi
    • Doa
    • Sholat
    • Sholawat
  • Teknologi
    • Aplikasi
    • Kamera
    • Laptop
    • PC Desktop
    • Smartphone
  • Wisata & Kuliner
    • Hotel
    • Resep Makanan
    • Wisata Alam
    • Wisata Buatan
    • Wisata Budaya
    • Wisata Kuliner
  • Lainnya
    • Humaniora
    • Hukum
    • Gosip
    • Pendidikan
    • Hiburan
    • Olahraga
    • Transportasi
    • Viral
    • Suara Pembaca
    • Politik
    • Otomatif
    • Inspiration
    • Home Design
    • Lifestyle
No Result
View All Result
Get Started
Headline.co.id
  • Home
  • Berita
    • Peristiwa
    • Nasional
  • Ekonomi
  • Kesehatan
  • Pemerintah
  • Religi
    • Doa
    • Sholat
    • Sholawat
  • Teknologi
    • Aplikasi
    • Kamera
    • Laptop
    • PC Desktop
    • Smartphone
  • Wisata & Kuliner
    • Hotel
    • Resep Makanan
    • Wisata Alam
    • Wisata Buatan
    • Wisata Budaya
    • Wisata Kuliner
  • Lainnya
    • Humaniora
    • Hukum
    • Gosip
    • Pendidikan
    • Hiburan
    • Olahraga
    • Transportasi
    • Viral
    • Suara Pembaca
    • Politik
    • Otomatif
    • Inspiration
    • Home Design
    • Lifestyle
No Result
View All Result
Headline.co.id
No Result
View All Result
Home Berita Nasional

Malam Satu Suro Adalah Apa? Ini Sejarah, Makna, Tradisi, dan Pandangan Ulama yang Perlu Dipahami

Hendrawan by Hendrawan
2 hours ago
in Nasional
Reading Time: 11 mins read
394 30
A A
0
Apa itu Malam Satu Suro

Apa itu Malam Satu Suro

Share on FacebookShare on Twitter

Headline.co.id, Jakarta ~ Malam satu suro adalah tradisi yang telah hidup turun-temurun di tengah masyarakat Jawa dan dipandang sebagai momen sakral untuk melakukan introspeksi, mendekatkan diri kepada Tuhan, serta memohon keselamatan. Tradisi ini diperingati setiap awal bulan Suro dalam kalender Jawa yang berkaitan erat dengan datangnya 1 Muharram dalam kalender Hijriah.

Bagi masyarakat Jawa, malam satu suro adalah bukan sekadar pergantian tahun, melainkan momentum spiritual yang sarat makna budaya, simbolisme, dan nilai religius. Beragam ritual digelar di berbagai daerah dengan tujuan berbeda, mulai dari kirab pusaka, tirakatan, hingga doa bersama sebagai ungkapan syukur dan harapan akan kehidupan yang lebih baik.

You might also like

Ratusan Mahasiswa FH UII Demo di DPRD DIY, Singgung Harga Pertamax dan Makan Bergizi Gratis

Ratusan Mahasiswa UII Long March ke DPRD DIY dalam Aksi #MenujuIndonesiaBangkrut, Soroti Pertamax dan MBG

15 June 2026
Polda Maluku Tingkatkan Kerja Sama Lintas Sektor untuk Perlindungan Perempuan dan Anak

Polda Maluku Tingkatkan Kerja Sama Lintas Sektor untuk Perlindungan Perempuan dan Anak

15 June 2026

Pemahaman mengenai malam satu suro adalah juga berkembang melalui perpaduan tradisi lokal dan ajaran Islam sejak masa Kesultanan Mataram. Namun di balik berbagai mitos yang berkembang, para ulama mengingatkan agar masyarakat tidak meyakini bulan Suro sebagai bulan pembawa kesialan, melainkan sebagai bulan mulia yang sepatutnya diisi dengan amal kebaikan.

Sejarah Malam Satu Suro Berasal dari Penyatuan Kalender Jawa dan Hijriah

Tradisi Malam Satu Suro berakar dari perubahan sistem penanggalan pada masa pemerintahan Sultan Agung Hanyokrokusumo dari Kesultanan Mataram Islam pada 1613–1645 Masehi.

Saat itu, masyarakat Jawa masih menggunakan Kalender Saka yang dipengaruhi tradisi Hindu. Di sisi lain, kerajaan Islam telah menggunakan kalender Hijriah. Sultan Agung kemudian memadukan keduanya menjadi Kalender Jawa sebagai upaya menyatukan masyarakat yang beragam.

Penyatuan tersebut mulai diberlakukan pada Jumat Legi bulan Jumadil Akhir tahun 1555 Saka atau bertepatan dengan 8 Juli 1633 Masehi. Sejak saat itu, tanggal 1 Suro ditetapkan sebagai awal tahun baru Jawa.

Menurut berbagai literatur sejarah, langkah Sultan Agung bukan hanya bertujuan memperluas syiar Islam, tetapi juga mempererat persatuan masyarakat Jawa yang kala itu memiliki latar belakang keyakinan berbeda.

Asal Usul Nama Suro

Kata “Suro” diyakini berasal dari bahasa Arab, yakni Asyura, yang berarti “sepuluh” atau merujuk pada tanggal 10 Muharram.

Dalam perkembangannya, pelafalan masyarakat Jawa mengubah kata Asyura menjadi Suro hingga akhirnya menjadi nama bulan pertama dalam Kalender Jawa.

Dalam tradisi Islam-Jawa, sepuluh hari pertama bulan Suro dianggap memiliki nilai spiritual yang tinggi. Namun, masyarakat meyakini bahwa kesakralan tersebut lebih banyak dipengaruhi budaya keraton dibanding anggapan bahwa bulan Suro merupakan bulan pembawa petaka.

Makna Spiritual Malam Satu Suro

Bagi masyarakat Jawa, Malam Satu Suro menjadi waktu untuk melakukan perenungan diri atau tafakur atas perjalanan hidup selama setahun terakhir.

Tradisi ini mengajarkan nilai-nilai:

  • Bersyukur kepada Tuhan atas nikmat yang telah diberikan.
  • Mengevaluasi kesalahan dan dosa yang telah dilakukan.
  • Memohon keselamatan dan perlindungan.
  • Mempererat silaturahmi.
  • Mengingat kematian serta pentingnya memperbaiki diri.

Dalam perspektif etnosains, malam ini dipahami sebagai bentuk pengetahuan lokal yang mencerminkan hubungan antara manusia, alam semesta, dan Sang Pencipta.

Praktik tirakat, tapa bisu, hingga puasa mutih dipandang sebagai upaya pengendalian diri dan penjernihan batin yang memiliki nilai psikospiritual.

Mitos dan Kepercayaan yang Berkembang di Masyarakat

Tradisi Malam Satu Suro tidak dapat dipisahkan dari berbagai mitos yang berkembang dari generasi ke generasi.

Sebagian masyarakat meyakini malam tersebut sebagai waktu terbaik untuk memohon keselamatan, ketenangan hidup, dan keberkahan dari Tuhan Yang Maha Esa.

Di sejumlah daerah, ritual tertentu juga dipercaya mampu mendatangkan perlindungan spiritual.

Misalnya:

  • Tradisi Labuhan dilakukan untuk memohon keselamatan nelayan dan hasil tangkapan yang melimpah.
  • Ritual Samas di Bantul bertujuan mengenang Maheso Suro yang dipercaya membawa kemakmuran masyarakat pesisir selatan.
  • Sebagian masyarakat menghindari hajatan besar selama bulan Suro karena dianggap kurang baik.

Namun, keyakinan tersebut tidak berlaku seragam karena setiap daerah memiliki interpretasi berbeda terhadap Malam Satu Suro.

Ragam Tradisi Malam Satu Suro di Berbagai Daerah

Perayaan Malam Satu Suro memiliki kekhasan di setiap wilayah.

1. Solo: Kirab Pusaka dan Kebo Bule Kyai Slamet

Keraton Surakarta menggelar Jamas Pusaka dan Kirab Pusaka yang dimulai sekitar tengah malam.

Kirab tersebut diikuti para abdi dalem, prajurit keraton, serta kebo bule Kyai Slamet yang menjadi daya tarik masyarakat.

Kebo bule dipercaya sebagai cucuk lampah atau pengawal pusaka keraton.

2. Yogyakarta: Mubeng Beteng

Masyarakat dan abdi dalem melakukan ritual berjalan kaki mengelilingi benteng keraton dalam keheningan.

Tradisi ini dikenal sebagai mubeng beteng dan dimaknai sebagai laku prihatin serta refleksi diri.

3. Cirebon: Pembacaan Babad dan Ziarah

Keraton Kanoman menggelar pembacaan Babad Cirebon yang dilanjutkan dengan ziarah ke makam Sunan Gunung Jati.

4. Bantul: Ritual Samas

Tradisi ini bertujuan mengenang Maheso Suro yang diyakini membawa kesejahteraan masyarakat pesisir selatan.

5. Magetan: Ledug Suro

Perayaan Ledug Suro diwarnai pembagian Bolu Rahayu yang telah didoakan dan dipercaya membawa keberkahan.

6. Upacara Labuhan

Ritual persembahan dilakukan sebagai bentuk permohonan keselamatan kepada Tuhan Yang Maha Esa agar para nelayan diberi perlindungan saat melaut.

Simbol-Simbol dalam Tradisi Malam Satu Suro

Beberapa simbol yang kerap hadir dalam tradisi Malam Satu Suro antara lain:

Jenang Suran

Melambangkan tanggung jawab manusia terhadap kehidupannya sendiri.

Dupa

Digunakan sebagai bagian dari penghormatan kepada leluhur, terutama dalam tradisi keraton.

Tawasul

Dilakukan untuk mendoakan dan menghormati jasa para pendahulu yang berperan dalam penyebaran Islam.

Pendapat Buya Yahya tentang Anggapan Bulan Suro Membawa Sial

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Bahjah Cirebon, Prof KH Yahya Zainul Ma’arif atau Buya Yahya, menegaskan bahwa Muharram bukan bulan pembawa musibah.

Ia mengingatkan agar masyarakat tidak berprasangka buruk kepada Allah SWT.

“Dalam Hadits Qudsi, Allah itu senang dengan yang berprasangka baik supaya dapat kebaikan. Hari Allah semuanya baik, hari jelek hanya ada satu, yakni saat anda bermaksiat. Menikah itu hari baik, syukuran. Nggak tahu kenapa, di Jabar juga ada Bulan Kapit, di Jatim ada Bulan Suro yang dianggap malapetaka, padahal kebalikannya, yakni bulan penuh rahmat,” ujar Buya Yahya dalam program Buya Yahya Menjawab di kanal Al-Bahjah TV.

Ia melanjutkan:

“Dari 12 bulan Allah, empat di antaranya bulan haram salah satunya adalah Muharram, itu adalah bulan yang dimuliakan, bukan bulan petaka. Ndak ada itu, jangan dipercaya. Itu adalah suudzon pada Allah.”

Ustaz Muhammad Abduh Tuasikal: Jangan Menganggap Suro Sebagai Bulan Sial

Pimpinan Ponpes Darush Sholihin, Ustaz Muhammad Abduh Tuasikal, juga mengingatkan bahwa anggapan bulan Suro membawa kesialan tidak memiliki dasar dalam syariat Islam.

“Karena bulan ini adalah bulan sial, sebagian orang tidak mau melakukan hajatan nikah, dsb. Ketahuilah saudaraku bahwa sikap-sikap di atas tidaklah keluar dari dua hal yaitu mencela waktu dan beranggapan sial dengan waktu tertentu,” tulis Ustaz Muhammad Abduh.

Ia menegaskan bahwa musibah bukan disebabkan oleh waktu tertentu.

“Setiap kesialan atau musibah yang menimpa sebenarnya bukanlah disebabkan oleh waktu, orang, atau tempat tertentu. Namun, semua itu adalah ketentuan Allah Ta’ala Yang Maha Bijaksana.”

Malam Satu Suro sebagai Warisan Budaya dan Refleksi Diri

Terlepas dari beragam mitos yang menyertainya, Malam Satu Suro tetap menjadi salah satu warisan budaya penting masyarakat Jawa.

Tradisi ini bukan hanya tentang ritual yang bersifat simbolik, tetapi juga mengajarkan nilai introspeksi, rasa syukur, pengendalian diri, penghormatan kepada leluhur, serta upaya mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

Melalui berbagai laku spiritual yang dijalankan, masyarakat diajak untuk terus bersikap eling lan waspada—ingat akan jati diri sebagai makhluk Tuhan dan waspada terhadap berbagai godaan yang dapat menyesatkan dalam menjalani kehidupan.

FAQ Seputar Malam Satu Suro

1. Malam satu suro adalah apa?

Malam Satu Suro adalah malam pergantian tahun dalam Kalender Jawa yang menandai datangnya tanggal 1 Suro. Tradisi ini memiliki makna spiritual dan budaya yang kuat bagi masyarakat Jawa, serta sering dikaitkan dengan momentum introspeksi, doa, dan mendekatkan diri kepada Tuhan.

2. Apakah Malam Satu Suro sama dengan 1 Muharram?

Tidak selalu sama. Secara historis, 1 Suro dalam Kalender Jawa berkaitan dengan 1 Muharram dalam Kalender Hijriah. Namun, dalam praktik penanggalan tertentu, waktu pelaksanaannya dapat berbeda karena sistem perhitungan kalender yang tidak sepenuhnya sama.

3. Mengapa Malam Satu Suro dianggap sakral?

Masyarakat Jawa memandang Malam Satu Suro sebagai waktu yang tepat untuk melakukan refleksi diri, memohon keselamatan, bersyukur, dan memperbaiki hubungan dengan Sang Pencipta. Kesakralan ini juga dipengaruhi oleh tradisi keraton yang diwariskan secara turun-temurun.

4. Apa sejarah munculnya tradisi Malam Satu Suro?

Tradisi ini berawal dari penyatuan Kalender Saka dan Kalender Hijriah yang dilakukan Sultan Agung Hanyokrokusumo pada masa Kesultanan Mataram sekitar tahun 1633 Masehi. Tujuannya untuk menyatukan masyarakat Jawa yang memiliki latar belakang budaya dan keyakinan berbeda.

5. Apa arti kata “Suro”?

Kata “Suro” berasal dari bahasa Arab, yaitu “Asyura”, yang berarti “sepuluh”. Dalam pelafalan masyarakat Jawa, kata tersebut berubah menjadi Suro dan digunakan sebagai nama bulan pertama dalam Kalender Jawa.

6. Tradisi apa saja yang dilakukan saat Malam Satu Suro?

Setiap daerah memiliki tradisi berbeda, di antaranya:

  • Kirab Pusaka dan Kebo Bule di Solo.
  • Mubeng Beteng di Yogyakarta.
  • Pembacaan Babad Cirebon dan ziarah makam Sunan Gunung Jati.
  • Ritual Samas di Bantul.
  • Ledug Suro di Magetan.
  • Upacara Labuhan di wilayah pesisir.

7. Mengapa banyak orang menghindari hajatan pada bulan Suro?

Sebagian masyarakat masih meyakini adanya pantangan menggelar hajatan besar pada bulan Suro karena dianggap kurang baik. Namun, keyakinan ini merupakan bagian dari tradisi budaya dan tidak berlaku secara universal.

8. Bagaimana pandangan Buya Yahya tentang bulan Suro?

Buya Yahya menegaskan bahwa Muharram atau Suro bukan bulan pembawa petaka. Menurutnya, Muharram justru termasuk bulan yang dimuliakan dalam Islam dan sebaiknya diisi dengan amal kebaikan serta prasangka baik kepada Allah SWT.

9. Apakah Islam mengajarkan bahwa bulan Suro adalah bulan sial?

Tidak. Ustaz Muhammad Abduh Tuasikal menjelaskan bahwa menganggap suatu waktu sebagai pembawa kesialan termasuk bentuk mencela waktu. Dalam Islam, musibah bukan disebabkan oleh bulan tertentu, melainkan merupakan ketetapan Allah SWT.

10. Apa makna “eling lan waspada” dalam tradisi Suro?

“Eling” berarti selalu ingat kepada Allah SWT dan menyadari posisi manusia sebagai makhluk ciptaan-Nya. Sementara “waspada” berarti berhati-hati terhadap godaan, kesalahan, dan berbagai hal yang dapat menjerumuskan manusia ke dalam keburukan.

11. Apa simbol yang sering ditemukan dalam tradisi Malam Satu Suro?

Beberapa simbol yang sering digunakan antara lain:

  • Jenang Suran, sebagai lambang tanggung jawab hidup.
  • Dupa, sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur dalam tradisi tertentu.
  • Tawasul, sebagai doa dan penghormatan kepada para pendahulu yang berjasa dalam penyebaran Islam.

12. Apa tujuan utama masyarakat merayakan Malam Satu Suro?

Tujuan utamanya adalah memohon keselamatan, mengungkapkan rasa syukur, melakukan introspeksi diri, mempererat silaturahmi, menghormati leluhur, serta meningkatkan kedekatan spiritual kepada Tuhan Yang Maha Esa.

13. Apakah Malam Satu Suro hanya dirayakan masyarakat Jawa?

Tradisi ini identik dengan masyarakat Jawa, khususnya di Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur. Namun, beberapa daerah lain di Indonesia juga memiliki bentuk peringatan serupa dengan karakteristik budaya masing-masing.

14. Apakah ada doa khusus untuk Malam Satu Suro?

Tidak ada doa khusus yang diajarkan secara spesifik oleh Nabi Muhammad SAW untuk malam pergantian tahun. Namun, terdapat doa-doa yang diriwayatkan dari para sahabat untuk dibaca saat memasuki awal bulan atau tahun sebagai bentuk permohonan keselamatan dan keberkahan.

15. Apa pesan yang dapat dipetik dari tradisi Malam Satu Suro?

Malam Satu Suro mengajarkan pentingnya evaluasi diri, menjaga hubungan dengan Tuhan dan sesama, menghargai warisan budaya, serta menjadikan pergantian tahun sebagai momentum memperbaiki kualitas hidup dan meningkatkan ketakwaan.

Tags: Kapan Malam Satu SuroMalam Satu SuroMalam Satu Suro AdalahMitos Malam Satu Suro
Hendrawan

Hendrawan

Related Stories

Ratusan Mahasiswa FH UII Demo di DPRD DIY, Singgung Harga Pertamax dan Makan Bergizi Gratis

Ratusan Mahasiswa UII Long March ke DPRD DIY dalam Aksi #MenujuIndonesiaBangkrut, Soroti Pertamax dan MBG

by Hendrawan
15 June 2026
0

Headline.co.id, Yogyakarta ~ Ratusan mahasiswa Fakultas Hukum (FH) Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta menggelar aksi damai bertajuk #menujuindonesiabangkrut pada Senin...

Polda Maluku Tingkatkan Kerja Sama Lintas Sektor untuk Perlindungan Perempuan dan Anak

Polda Maluku Tingkatkan Kerja Sama Lintas Sektor untuk Perlindungan Perempuan dan Anak

by Ari Wibowo muhammad
15 June 2026
0

Headline.co.id, Jakarta ~ Polda Maluku memperkuat kerja sama lintas sektor guna meningkatkan perlindungan terhadap perempuan dan anak di wilayah tersebut....

**Caption Gambar:** Kalender Juni 2026 menandai Selasa, 16 Juni 2026 sebagai libur nasional dalam rangka Tahun Baru Islam 1 Muharam 1448 Hijriah. Pemerintah menetapkan libur tersebut tanpa cuti bersama, sehingga masyarakat hanya menikmati satu hari libur sebelum kembali beraktivitas pada Rabu, 17 Juni 2026. (Ilustrasi: Headline.co.id)

Besok Libur Apa? Selasa 16 Juni 2026 Libur Nasional Tahun Baru Islam 1448 Hijriah, Ini Penjelasan Resminya

by Hendrawan
15 June 2026
0

Highlight Berita: Besok, Selasa 16 Juni 2026, merupakan hari libur nasional di Indonesia. Libur nasional tersebut diperingati dalam rangka Tahun...

Polda Aceh dan Petani Muda Pidie Kolaborasi Tanam Jagung

Polda Aceh dan Petani Muda Pidie Kolaborasi Tanam Jagung

by Dani
15 June 2026
0

Headline.co.id, Polda Aceh Melaksanakan Program Penanaman Jagung Bersama Komunitas Petani Muda Milenial Di Kabupaten Pidie ~ tepatnya di Desa Blang...

Brimob Polda Sumut Rayakan Hari Bhayangkara ke-80 dengan Pasar Murah dan Pembagian Makanan Gratis

Brimob Polda Sumut Rayakan Hari Bhayangkara ke-80 dengan Pasar Murah dan Pembagian Makanan Gratis

by Fajar
15 June 2026
0

Headline.co.id, Medan ~ Dalam rangka memperingati Hari Bhayangkara ke-80, Polda Sumatera Utara menyelenggarakan kegiatan Car Free Day (CFD) di Lapangan...

Prediksi Cuaca Besok 15 Juni 2026 di seluruh wilayah indonesia

Cuaca Besok 15 Juni 2026: BMKG Prediksi Hujan Lebat hingga Angin Kencang di Sejumlah Wilayah Indonesia

by Hendrawan
14 June 2026
0

Highlight Berita: BMKG memprediksi cuaca besok, Senin (15/6/2026), didominasi hujan di berbagai wilayah Indonesia dengan intensitas sedang hingga sangat lebat....

Headline Media Headline Media Headline Media

Recommended

Presiden Joko Widodo secara resmi membuka Rapat Kerja Nasional Lembaga Dakwah Islam Indonesia

Presiden Joko Widodo Mendorong Pembangunan SDM Menuju Indonesia Emas 2045

7 November 2023
Viral pemuda di Kota Malang diduga cabuli teman saat tidur

Dalih Ambil Celana Tertinggal, Pria di Malang Diduga Perkosa Perempuan 18 Tahun Saat Terlelap

30 May 2026
Doa dan Keutamaan Puasa Ramadhan Hari Ke 18

Doa Ramadhan Hari ke-18: Permohonan Cahaya Ilahi untuk Menyongsong Berkah Sahur

16 March 2025
Garuda Tundukkan Argentina di Laga Sengit Seoul Earth On Us Cup

Garuda Unggul 2-1 Atas Argentina di Seoul Earth On Us Cup

28 August 2024
Polri Kerahkan Ribuan Personel untuk Pemulihan Pascabencana di Sumatera

Polri Kerahkan Ribuan Personel untuk Pemulihan Pascabencana di Sumatera

31 December 2025
Petugas Satlantas Polres Bantul melakukan penindakan dan edukasi kepada pengendara sepeda motor dalam rangka Operasi Keselamatan Progo 2026 di wilayah Bantul

Operasi Keselamatan Progo 2026: 1.155 Pelanggar Ditindak, 35 Kecelakaan Terjadi di Bantul

9 February 2026

Ganjar Pranowo Tetapkan Status Tanggap Darurat Bencana Virus Corona

28 March 2020

Artikel Terbaru

Ratusan Mahasiswa FH UII Demo di DPRD DIY, Singgung Harga Pertamax dan Makan Bergizi Gratis

Ratusan Mahasiswa UII Long March ke DPRD DIY dalam Aksi #MenujuIndonesiaBangkrut, Soroti Pertamax dan MBG

15 June 2026
Polda Maluku Tingkatkan Kerja Sama Lintas Sektor untuk Perlindungan Perempuan dan Anak

Polda Maluku Tingkatkan Kerja Sama Lintas Sektor untuk Perlindungan Perempuan dan Anak

15 June 2026
Diduga Dibuntuti Alat Pelacak, Eks Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto Semakin Ditekan, Semakin Melawan

Tiyo Ardianto Temukan Dua Alat Pelacak di Mobil Usai Aksi Gejayan, Eks Ketua BEM UGM Soroti Dugaan Intimidasi

15 June 2026
weton tulang wangi apa saja

Weton Tulang Wangi Adalah Apa? Ini Daftar 11 Weton yang Dikaitkan dengan Malam 1 Suro Menurut Primbon Jawa

15 June 2026
Justin Gaethje juara kelas ringan UFC usai kandaskan Ilia Topuria di UFC White House

Justin Gaethje Tumbangkan Ilia Topuria di UFC Freedom 250, Akhiri Rekor Tak Terkalahkan dan Rebut Gelar Ringan

15 June 2026
Head to head Belgia vs Mesir menghadirkan fakta mengejutkan. Mesir unggul tiga kemenangan dari empat pertemuan sebelum bentrok di Grup G Piala Dunia 2026.

Mesir Lebih Unggul dari Belgia? Ini Fakta Head to Head Jelang Duel Grup G Piala Dunia 2026

15 June 2026
Prediksi Belgia vs Mesir Piala Dunia 2026 Duel Sengit yang Bisa Menentukan Juara Grup G

Prediksi Belgia vs Mesir di Piala Dunia 2026: Head to Head, Jadwal Pertandingan, dan Link Live TVRI

15 June 2026

Popular Story

Polda Metro Jaya Amankan Dua Orang Pembawa Bom Molotov Saat Aksi Demo
Hukum

Polda Metro Jaya Amankan Dua Orang Pembawa Bom Molotov Saat Aksi Demo

by masfajar
13 June 2026
0

Headline.co.id, Jakarta ~ Satuan Tugas Penegakan Hukum (Satgas Gakkum) Polda Metro Jaya...

Read moreDetails

Kejuaraan Tenis Meja PTM K3 di Pontianak Jadi Ajang Pembinaan Atlet Muda

Siaran Gratis Piala Dunia 2026 di TVRI Diharapkan Dorong Ekonomi dan Kebersamaan

Gempa Magnitudo 3,7 Guncang Wilayah Buru, Maluku

Film “Jangan Buang Ibu” Angkat Kisah Pengorbanan Seorang Ibu

Komunitas Ojek Online Jakarta Apresiasi Polri yang Semakin Humanis dan Terbuka

Minyakita Tidak Lagi Menjadi Bagian dari Bantuan Pangan Pemerintah

Weton Tulang Wangi Adalah Apa? Ini Daftar 11 Weton yang Dikaitkan dengan Malam 1 Suro Menurut Primbon Jawa

Gubernur Kalimantan Barat Usulkan Pembiayaan PPPK dari APBN

Menkomdigi Ajak Kaum Muda Jadi Pelopor Internet Sehat dan Tangkal Kejahatan Digital

Prev Next
Headline.co.id


Headline.co.id (Headline Media Indonesia) merupakan situs berita Headline menyediakan berbagai macam informasi yang update dan terpercaya. Izin Kominfo No TDPSE : 007022.01/DJAI.PSE/08/2022 PB-UMKU: 120000073262700000001

  • Kebijakan Editorial
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik
  • Koreksi Ralat
  • Redaksi
  • Pasang Iklan

© 2025 Headline.co.id - Faktual dan Aktual.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Peristiwa
    • Nasional
  • Ekonomi
  • Kesehatan
  • Pemerintah
  • Religi
    • Doa
    • Sholat
    • Sholawat
  • Teknologi
    • Aplikasi
    • Kamera
    • Laptop
    • PC Desktop
    • Smartphone
  • Wisata & Kuliner
    • Hotel
    • Resep Makanan
    • Wisata Alam
    • Wisata Buatan
    • Wisata Budaya
    • Wisata Kuliner
  • Lainnya
    • Humaniora
    • Hukum
    • Gosip
    • Pendidikan
    • Hiburan
    • Olahraga
    • Transportasi
    • Viral
    • Suara Pembaca
    • Politik
    • Otomatif
    • Inspiration
    • Home Design
    • Lifestyle

© 2025 Headline.co.id - Faktual dan Aktual.