Headline.co.id, Banda Aceh ~ Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) di Banda Aceh berkomitmen untuk mendukung pengembangan produk pangan olahan lokal yang aman dan berkualitas. Upaya ini dilakukan melalui edukasi kepada pelaku usaha. BBPOM Aceh berpartisipasi dalam kegiatan Pelatihan Standardisasi Pengemasan dan Legalitas Produk Selai Jamblang Berorientasi Pasar Global. Acara ini diselenggarakan oleh Forum Bangun Investasi Aceh (ForBINA) di Lading Hotel Banda Aceh pada Sabtu, 13 Juni 2026.
Pelatihan ini mengusung tema “Teknologi Pengolahan Selai Jamblang yang Higienis dan Berkelanjutan: Praktik Produksi yang Aman, Efisien, dan Ramah Lingkungan”. Kegiatan ini diikuti oleh pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), kelompok masyarakat terdampak banjir, serta berbagai pemangku kepentingan yang mendukung pengembangan produk pangan lokal Aceh.
Kepala BBPOM Aceh, Riyanto, hadir sebagai narasumber dan menyampaikan materi mengenai regulasi dan registrasi pangan olahan. Materi yang disampaikan meliputi persyaratan perizinan pangan olahan, ketentuan pelabelan, aspek keamanan pangan, serta tahapan registrasi produk. Langkah ini dianggap strategis untuk meningkatkan daya saing produk UMKM di pasar yang lebih luas.
Dalam pemaparannya, Riyanto menegaskan pentingnya pemenuhan aspek keamanan, mutu, dan legalitas sebagai fondasi dalam pengembangan usaha pangan olahan yang berkelanjutan. “Pemenuhan aspek keamanan, mutu, dan legalitas adalah fondasi penting dalam pengembangan usaha pangan olahan yang berkelanjutan,” ujar Riyanto.
Riyanto juga menjelaskan bahwa Aceh memiliki potensi sumber daya lokal yang besar untuk dikembangkan menjadi produk pangan bernilai tambah tinggi. Salah satu contohnya adalah buah jamblang yang dapat diolah menjadi berbagai produk inovatif dengan peluang pasar yang menjanjikan. “Aceh memiliki potensi sumber daya lokal yang besar, seperti buah jamblang, yang dapat diolah menjadi produk inovatif dengan peluang pasar yang menjanjikan,” tambahnya.
Ketua Forum Bangun Investasi Aceh (ForBINA), M. Nur, menyatakan bahwa pelatihan ini merupakan kontribusi nyata ForBINA dalam mendukung pemulihan ekonomi masyarakat terdampak banjir melalui penguatan kapasitas usaha berbasis potensi lokal. “Pelatihan ini adalah kontribusi nyata ForBINA dalam mendukung pemulihan ekonomi masyarakat terdampak banjir,” ujar M. Nur.
Menurut M. Nur, proses pemulihan ekonomi pascabencana memerlukan kolaborasi dari berbagai pihak, termasuk pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat. Oleh karena itu, ForBINA menggandeng BBPOM Aceh untuk memberikan edukasi langsung terkait regulasi dan registrasi pangan olahan kepada peserta. “Proses pemulihan ekonomi pascabencana membutuhkan kolaborasi dari berbagai pihak,” katanya.
Selain mendapatkan pemahaman mengenai regulasi dan legalitas produk, peserta juga memperoleh materi terkait teknologi pengolahan selai jamblang yang higienis dan berkelanjutan. Materi ini mencakup pemilihan bahan baku, proses produksi, pengemasan, hingga penerapan praktik produksi yang aman, efisien, dan ramah lingkungan.
M. Nur berharap pelatihan ini dapat menjadi titik awal lahirnya produk-produk unggulan Aceh yang mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional. “Kami berharap pelatihan ini menjadi titik awal lahirnya produk unggulan Aceh yang dapat bersaing di tingkat nasional dan internasional,” tutupnya.
Melalui kegiatan ini, BBPOM Aceh menegaskan komitmennya untuk terus mendampingi dan mengedukasi pelaku usaha dalam memenuhi standar keamanan, mutu, dan legalitas produk. Dengan sinergi pemerintah, pelaku usaha, dan berbagai pemangku kepentingan, diharapkan produk pangan olahan lokal Aceh dapat berkembang menjadi komoditas unggulan yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus memperkuat daya saing daerah di pasar global.





















