Headline.co.id, Jakarta ~ Konsumsi susu dianggap sebagai salah satu strategi penting untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Indonesia dan memperkuat daya saing nasional menuju Indonesia Emas 2045. Rendahnya konsumsi protein hewani, termasuk susu, disebut berkaitan dengan rendahnya sejumlah indikator pembangunan manusia di Indonesia.
Prof. Dr. Epi Taufik, Guru Besar Fakultas Peternakan IPB University dan ahli gizi, menyatakan bahwa konsumsi protein hewani masyarakat Indonesia masih termasuk yang terendah di Asia. Menurutnya, kondisi ini berdampak pada kualitas pendidikan, kecerdasan, hingga indeks pembangunan manusia. “Kalau dikaitkan dengan PISA score, Human Development Index (HDI), hingga rata-rata IQ, Indonesia masih tertinggal. Salah satu faktor yang berpengaruh adalah rendahnya konsumsi protein hewani,” ujar Epi dalam diskusi Hari Susu Nusantara 2026 di Plaza Sudirman, Gelora Bung Karno, Jakarta, Minggu (14/6/2026).
Epi menjelaskan bahwa meskipun susu bukan satu-satunya sumber protein hewani, susu merupakan salah satu yang paling efektif dalam menyalurkan zat gizi penting ke tubuh. Susu memiliki digestible indispensable amino acid score (DIAAS) yang sangat tinggi, yang berarti kandungan protein dan nutrisinya lebih mudah diserap tubuh dibandingkan banyak sumber pangan lainnya. “Susu bukan hanya mengandung protein, karbohidrat, dan lemak, tetapi juga berbagai komponen bioaktif, vitamin, dan mineral penting yang mendukung pertumbuhan,” katanya.
Lebih lanjut, Epi menambahkan bahwa terdapat setidaknya 13 komponen bioaktif utama dalam susu yang berkontribusi pada pertumbuhan tinggi badan, kepadatan tulang, perbaikan status gizi, serta peningkatan fungsi kognitif. Oleh karena itu, negara-negara maju menjadikan susu sebagai bagian penting dari program makan sekolah. Epi mencontohkan Jepang, yang secara konsisten menyediakan susu setiap hari dalam menu makan siswa sekolah dasar hingga sekolah menengah pertama. “Di Jepang, lauk seperti ayam, ikan, atau daging bisa berganti-ganti. Tetapi satu yang selalu ada setiap hari adalah susu,” ujarnya.
Menurut Epi, Indonesia perlu bergerak ke arah yang sama. Meski produksi susu nasional belum mencukupi untuk distribusi harian, penyediaan susu secara bertahap melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG) dapat menjadi langkah awal yang sangat strategis. Epi menilai program MBG bukan hanya intervensi gizi, tetapi juga instrumen transformasi ekonomi nasional. Selain meningkatkan kualitas gizi anak, program tersebut dapat menciptakan pasar baru bagi industri persusuan, membuka lapangan kerja, meningkatkan pendapatan peternak, serta mendorong pertumbuhan UMKM pengolahan susu. “Ketika ada pasar yang jelas seperti susu sekolah, investor akan masuk. Peternak juga punya kepastian permintaan,” katanya.
Ia mengungkapkan bahwa saat ini sudah terdapat investasi baru yang ditandai dengan masuknya sekitar 16 ribu ekor sapi perah untuk memperkuat pasokan susu nasional. Namun, peningkatan populasi ternak saja dinilai tidak cukup. Menurut Epi, Indonesia harus memperkuat inovasi di sektor persusuan melalui pengembangan genetika ternak, perbaikan pakan, modernisasi peternakan, serta penerapan precision dairy farming. Saat ini, produktivitas sapi perah rakyat rata-rata baru sekitar 12,5 liter per ekor per hari. Jika produktivitas tersebut dapat ditingkatkan menjadi 15–20 liter per hari, Indonesia dinilai mampu meningkatkan pasokan susu tanpa harus menambah populasi ternak secara berlebihan, sekaligus menekan emisi gas rumah kaca. “Inovasi harus memastikan susu diproduksi secara efisien, berkualitas, aman, dan berkelanjutan,” ujarnya.
Epi juga menyoroti besarnya dampak konsumsi susu terhadap angka konsumsi nasional. Menurut perhitungannya, apabila sekitar 74 juta siswa menerima susu dua kali seminggu melalui program MBG secara konsisten hingga 2029, konsumsi susu nasional berpotensi meningkat hampir dua kali lipat. Dari level sekitar 16–17 liter per kapita per tahun, konsumsi susu nasional berpeluang naik hingga mendekati 35 liter per kapita per tahun.
Ia mencontohkan keberhasilan Thailand yang pada 1985 hanya memiliki konsumsi susu sekitar 2 kilogram per kapita per tahun. Setelah pemerintah mewajibkan program susu sekolah pada 1992, konsumsi susu negara tersebut melonjak menjadi sekitar 30 liter per kapita per tahun. “Thailand membuktikan bahwa kebiasaan minum susu bisa dibentuk sejak anak-anak, lalu berlanjut hingga dewasa,” katanya.
Epi menegaskan bahwa keberhasilan transformasi sektor persusuan nasional membutuhkan kolaborasi erat pemerintah, akademisi, industri, peternak, koperasi, dan masyarakat. Menurutnya, Indonesia Emas 2045 hanya dapat dicapai jika pembangunan manusia dilakukan sejak sekarang melalui intervensi gizi yang konsisten. “Kita ingin Indonesia Emas, bukan Indonesia cemas. Salah satu jalannya adalah membangun generasi sehat dan cerdas, dan susu bisa menjadi bagian penting dari solusi itu,” pungkasnya.





















