Headline.co.id, Sleman ~ Tim peneliti dari Universitas Gadjah Mada (UGM) telah memasang teknologi panel surya Agrovoltaic di Desa Pandowoharjo, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Pemasangan ini bertujuan untuk mendukung pengembangan smart farming yang dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dan kelompok wanita tani setempat. “Program ini dilaksanakan sebagai upaya pengembangan desa berbasis energi terbarukan melalui penerapan teknologi PLTS Hybrid dan konsep agrivoltaic yang terintegrasi dengan pemberdayaan masyarakat,” ujar Ahmad Agus Setiawan, ST., M.Sc., Ph.D., ketua tim peneliti, pada Rabu (10/6).
Ahmad Agus Setiawan, yang juga merupakan Kepala Laboratorium Energi Terbarukan (RELab) di Fakultas Teknik UGM, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari pengembangan desa berbasis teknologi energi terbarukan melalui riset aplikatif oleh akademisi. Diharapkan, penerapan agrovoltaic ini dapat menjadi solusi bagi permasalahan keterbatasan akses energi yang dihadapi BUMDes Amarta dan Kelompok Wanita Tani Wastajap Bersinar di Desa Pandowoharjo.
BUMDes Amarta mengelola lahan pertanian kas desa seluas 1.376 meter persegi, sementara KWT Wastajap Bersinar mengelola lahan seluas 587 meter persegi. Kedua usaha desa ini juga mengelola dua unit green house yang memproduksi melon dan berbagai komoditas perkebunan lainnya seperti pepaya, cabai, jagung, kacang tanah, ubi jalar, talas, dan terong. BUMDes Amarta menargetkan gelar Desa Mandiri Hijau untuk memperkuat fondasi unit usaha mereka. “Produktivitas tersebut turut menuntut standar operasional yang memadai, dengan tetap menyesuaikan kemampuan pengelola dan kelompok tani,” tambahnya.
Teknologi PLTS Hybrid Agrovoltaic diharapkan dapat membantu mengoptimalkan biaya energi. Meskipun ada penyesuaian dari rencana awal kapasitas 3,3 kWp menjadi 2,6 kWp, hal ini dilakukan untuk menekan pengeluaran akibat kenaikan harga komponen energi surya di pasar global yang dipengaruhi oleh dinamika geopolitik di Timur Tengah dan kenaikan nilai tukar dolar terhadap rupiah.
Prof. Bayu Dwi Apri Nugroho, pakar agrometeorologi dan inovasi smart farming dari Fakultas Teknologi Pertanian UGM, menyatakan bahwa teknologi agrovoltaic ini berpotensi memberikan solusi aplikatif bagi BUMDes Amarta dan KWT Wastajap Bersinar. Inisiatif ini juga melibatkan mitra internasional dari Solar Research Institute (SRI) Universiti Teknologi MARA (UiTM) Malaysia untuk memperluas dampak dan potensi kolaborasi.
Bayu menjelaskan bahwa timnya telah melakukan serangkaian observasi dan evaluasi untuk memastikan model PLTS Hybrid cocok diterapkan di lahan tersebut. Dibandingkan dengan model PLTS On-Grid, cadangan baterai pada PLTS Hybrid membantu menekan biaya konsumsi listrik. Sementara itu, model PLTS Off-Grid yang bergantung sepenuhnya pada baterai dinilai kurang cocok untuk kondisi BUMDes Amarta. “Terdapat lonjakan harga komponen di tengah dinamika politik global dan melemahnya nilai tukar rupiah,” jelasnya.
Sebagai teknologi yang belum banyak diadopsi, PLTS Hybrid memerlukan perhatian khusus dalam penggunaan dan pemeliharaannya. Tim peneliti melibatkan masyarakat, pemuda karang taruna, dan unit teknis BUMDes Amarta dalam proses perakitan. Monitoring akan dilakukan menggunakan modul pemantauan berbasis IoT (RiTx) yang memanfaatkan sensor untuk mencatat data real-time mengenai kondisi tanah dan cuaca. “Kita mengikutsertakan BUMDes Amarta dalam penyusunan Standard Operating Procedure (SOP) sederhana, sehingga keberlanjutan program dapat terjamin,” paparnya.
Menurut Bayu, program ini merupakan bagian dari upaya mitigasi dampak perubahan iklim di sektor pertanian yang menuntut kemampuan adaptasi tinggi dari petani untuk memastikan hasil panen tetap optimal.



















