Headline.co.id, Sleman ~ Yogyakarta dikenal tidak hanya dari ikon-ikon seperti Malioboro, keraton, atau kuliner gudeg, tetapi juga dari nilai-nilai kehidupan masyarakat yang diwariskan melalui sastra Jawa sebagai bentuk kearifan lokal. Hal ini dibahas dalam Dialog Interaktif Pendapa Pro 4 106.6 FM RRI Yogyakarta bertema “Kejogjaan dalam Sastra Jawa” pada Selasa (9/6/2026).
Dialog tersebut dipandu oleh Sugiman Dwi Nurseto dan menghadirkan dua narasumber dari Paguyuban Sastra dan Budaya Jawa (Pasbuja) Kawi Merapi Sleman, yaitu Sugiyanto dan Ngatilah (Bunga). Sugiyanto, yang juga aktif di Bidang Seni, Pendidikan, Budaya, dan Pariwisata Forum KIM DIY, menjelaskan bahwa ada tujuh nilai utama yang menjadi identitas masyarakat Yogyakarta dan diwariskan melalui sastra Jawa.
Nilai pertama adalah andhap asor atau rendah hati, yang diajarkan dalam sastra Jawa melalui tembang dan ungkapan seperti ajining diri gumantung saka lathi, ajining raga gumantung saka busana. Nilai kedua adalah memayu hayuning bawana, yaitu menjaga harmoni kehidupan di dunia. Nilai ketiga adalah tata krama, yang tercermin dalam penggunaan tingkatan bahasa Jawa, mulai dari Ngoko, Krama, hingga Krama Inggil. “Unggah-ungguh sangat diutamakan sebagai bentuk penghormatan kepada sesama,” ujar Sugiyanto.
Nilai keempat adalah nrima ing pandum, yaitu sikap menerima dan bersyukur atas apa yang diperoleh dalam kehidupan. Nilai kelima adalah gotong royong sebagai wujud solidaritas sosial. Nilai keenam adalah hamemayu hayuning diri, yaitu upaya memperbaiki kualitas diri. Sedangkan nilai ketujuh adalah falsafah alon-alon waton kelakon atau gliyak-gliyak waton tumindak, yang mengajarkan ketekunan dan kehati-hatian dalam mencapai tujuan.
Ngatilah menekankan pentingnya peran orang tua dalam memberikan teladan, terutama melalui tindak tutur dan tata krama sehari-hari. Ia juga mendorong pembelajaran budaya Jawa melalui pelatihan seperti MC berbahasa Jawa serta penggunaan bahasa Jawa di lingkungan keluarga sebagai ruang pendidikan karakter pertama bagi anak. “Rumah merupakan tempat pendidikan awal bagi anak dalam penanaman nilai karakter dan budaya Kejogjaan,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa perkembangan teknologi informasi tidak menjadi penghalang dalam pelestarian nilai-nilai Kejogjaan. Sebaliknya, teknologi dapat menjadi sarana untuk menyebarluaskan nilai budaya kepada generasi muda yang akrab dengan dunia digital. (Edy – KIM Sumber Biwara Moyudan)





















